Februari 9, 2010 • 6:26 pm
oleh Herman RN
Wacana pada mulanya memang sekedar pemikiran sederhana. Namun, istilah wacanan belakangan mulai dipakai para ahli untuk mendeskripsikan kegiatan-kegiatan pada persilangan berbagai disiplin linguistik yang berbeda, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, linguistik filosofis, dan linguistik komputasi. Karena itu, wacana tidak lagi dipandang ‘sebelah mata’ dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi ia dapat dijadikan salah satu bidang disiplin imu pengetahuan, terutama dalam kajian linguistik. Apalagi, dalam kehidupan ini, tidak semua bidang ilmu dapat mengkaji segala hal di alam, terutama untuk kebahasaan. Itu sebabnya, diperlukan wacana dalam keilmuan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Opini
Februari 8, 2010 • 12:54 pm
Oleh Herman RN
MENYIMAK tulisan Sjamsul Kahar terkait yang menimpa seniman tutur Muda Balia (Serambi, 17/1) lalu membuat saya terenyuh. Renyuh yang pertama memang sudah lama terpendam, yakni nasib kesenian dan seniman kita (baca: Aceh) yang jauh abai, baik dari pemerintah maupun lembaga payung dewan kesenian sendiri. Renyuh yang kedua, membaca kepedulian Pak Kahar terhadap dunia kesenian, patut diberikan acungan dua kempol.
Read the rest of this entry »
Filed under: Essay
Januari 29, 2010 • 1:19 pm
MUNGKIN saya telalu berbangga hati hari ini melihat suguhan mahasiswa kelas ekstensi PBSI yang memprogram mata kuliah Puisi bersama saya. Lima kelompok dari kelas ekstensi A dan lima kelompok dari kelas ektensi B telah membuktikan diri mereka bahwa—meskipun mereka dari nonreguler—juga mampu menampilkan yang terbaik.
Read the rest of this entry »
Filed under: Essay
Januari 28, 2010 • 2:36 pm
Oleh Herman RN
Bumi Aceh kembali terhentak, terhenyak, terguncang pada 8,9 skala richter ala syariat. Betapa tidak, polisi syariat yang dipercaya dapat mengawal dan mengawas syariat islam (SI) ternyata malah ‘memperkosa’ syariat.
Read the rest of this entry »
Filed under: Essay
Januari 21, 2010 • 12:15 am
ditulis ulang oleh Herman RN
Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008).
Read the rest of this entry »
Filed under: Linguistik
Januari 12, 2010 • 2:01 am
oleh Herman RN
Setelah bersukur pada Ilahi atas diterimanya judul tesisku oleh dosen penguji tadi pagi, kuayunkan kaki menuju sebuah kampung kecilku, KM 33 di perbatasan Bireuen-Takengon. Mulanya, tujuanku adalah kota mungil Bireuen. Menumpang jasa L.300 di Simpang Surabaya, aku tiba di Kota Juang menjelang isya—beranjak dari Kota Kutaraja tepat saat jarum jam menunjukkan angka tiga.
Read the rest of this entry »
Filed under: Memory
Januari 9, 2010 • 10:08 am
Pemimpin Kuba, Fidel Castro dikenal sebagai orang yang tidak suka basa-basi. Orangnya juga disebut-sebut tempramen (di milist ini tak ada yang tempramen kan? Hehehe). Nah, ini ada guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden Indonesia, saat berkunjung ke Kuba. Saat itu dia bertemu pemimpin Kuba tersebut.
Read the rest of this entry »
Filed under: Humor
Januari 6, 2010 • 12:50 am
Kadang, ketakutan kita terlalu berlebihan seperti berlebihnya keberanian. Keberanian yang berlebihan membuat kita dengan mudah bicara dan membicarakan apa/siapa saja tanpa mengenal ruang dan waktu. Ketakutan berlebihan kemudian tercerna dalam tindakan harus ‘melenyapkan’ sesuatu yang ditakutkan tersebut, termasuk tulisan yang menakutkan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Haba-haba
Januari 1, 2010 • 3:11 pm
Oleh Herman RN
Adalah sebuah keniscayaan sesiapa menduduki kursi panas di parlemen. Tak mustahil parelemen-parlemen di Aceh saat ini diisi oleh mereka yang dulunya dianggap sebagai kombatan. Dapat dipastikan kursi dewan di seluruh daerah tingkat II di Aceh lebih dari 50% diisi oleh mereka yang dari Partai Aceh (PA). Hal ini merupakan sebuah ‘mukjizat’ baru di negeri laboratorium dunia ini; Aceh.
Read the rest of this entry »
Filed under: Haba-haba
Desember 26, 2009 • 10:54 am
Oleh Herman RN
SASTRA, kendati hasil cipta kreativitas dari sebuah kontemplasi, telah diakui sebagai salah satu materi ajar di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi. Karena itu, guru sebagai fasilitator/pengajar di kelas mesti memiliki kemampuan menulis, memahami, dan mengapresiasi karya sastra. Hal ini akan menjadi modal bagi guru dalam mengajarkan sastra kepada para siswanya. Ini menjadi penting karena selama ini terkesan pembelajaran sastra di sekolah masih monoton, terpaku pada teori di buku. Pendeknya, guru terlalu taklid pada guru sehingga perlu perombakan cara mengajarkan sastra di sekolah.
Read the rest of this entry »
Filed under: Uncategorized
Komentar Pembaca