Islam dalam Qanun Syahwat?

oleh Herman RN

HIRUK pikuk seakan tak hendak takluk pada sesama makhluk atau serupa hindar dari semacam kutuk jadi kian buruk, mulai dari gedung mewah hingga ke yang menetap di gubuk buruk, sejak yang masih baru mengenal aksara hingga ke yang ninik-datuk, semakin sibuk bercakap soal cambuk. Syahdan, muncul pula selebih dari cambuk pengganti kutuk, yakni soal pancung sebagai bagian dari hukum di negeri kita yang (saat ini) masih bubruk. Maka itu, kenankan saya coba urai rutuk sebagai benah dari demo mahasiswa berturut-turut tempo hari di halaman gedung-gedung para pemilik puncak tampuk. Pula masalah kutuk mengutuk yang disanksikan dengan rajam dan cambuk telah jadi polemik para peneliti dan penulis pada sejumlah media.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Anak Aceh Dilarang Pintar

Oleh Herman RN

PASTI kita masih ingat kisah heroik Kaisar Jepang yang mengukir pertanyaan sejarah tatkala Hiroshima dan Nagasaki dilantak dengan bom atom. Ucapan perdana kaisar saat pascaledakan tersebut dapat diakui sangat menggugah dunia, yakni “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Agaknya di Aceh, pertanyaan serupa itu mesti dibalik menjadi, “Sudah habiskah guru dibantai?” Hal ini sudah berlangsung di Aceh sejak masa konflik hingga pasca-MoU Helsinky. Ada kesan seolah generasi di Aceh ke depan dilarang pandai, dilarang pintar, dilarang memiliki ilmu dan wawasan luas. Karenanya, pembantaian atau lebih ringan sebut saja penembakan terhadap guru masih saja berlaku hingga sekarang. Kalau tak dapat menembaki jasad si guru, rumahnya pun boleh, yang penting guru-guru harus takut berada di Aceh.
Ditulis dalam Opini. 1 Komentar »

Saya Bulek, tapi di Aceh Saya Guru!

oleh Herman RN

“Hi… good morning,” sapa perempuan yang kutaksir setinggi 168 sentimeter itu, kemarin (24 November). Ia memasuki ruang “belt” untuk pelatihan bahasa Inggris secara intensif di Pusat Bahasa Universitas Syiah Kuala. Sebelumnya, di serambi gedung Pusat Bahasa tersebut, kami sempat bertegur sapa juga sekadar ‘say hello’.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 1 Komentar »

Rumah Sakit Zaman Aladin

Oleh Herman RN

Sumber: Harian Aceh, 26 November 2009

Mungkin Tuan dan Puan sudah pernah mendengar kisah Aladin—seorang lelaki yang menjadi penguasa dunia dongeng berkat berkawan dengan jin yang ditemukan dari sebuah teko ajaib.

Kali ini saya kisahkan tentang rumah sakitnya. Karena rumah sakit tersebut seperti pada zaman Aladin menemukan teko mirip panyot culok, jadilah nama tempat perawatan orang-orang tidak sehat fisiknya itu dengan sebutan Rumah Sakit Zaman Aladin. Guna menghemat penyebutan yang terlalu panjang, Tuan dan Puan cukup menyingkatnya menjadi RSZA. Orang-orang kampung saya ada juga yang menyebutkan dengan RSUZA, barangkali maksudnya Rumah Sakit Untuk Zaman Aladin.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Oleh Herman RN

Akhir-akhir ini, Action Research menjadi populer dilakukan oleh para professional dalam upaya menyelesaikan masalah dan peningkatan mutu. Karenanya, tak dapat dinafikan bahwa Action Research selalu bermula dari suatu masalah yang terjadi dalam uatu aktivitas tertentu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Konsep Bahasa Nasional dan Bahasa Negara

Ditulis ulang oleh Herman RN

Secara tridisional, bahasa dapat dimaknai sebagai alat komunikasi dan alat interaksi. Banyakya bahasa di belahan dunia menimbulkan ada istilah bahasa nasional dan bahasa negara, di samping bahasa daerah. Ada negara yang menyatakan bahwa bahasa nasional sama dengan bahasa negara, baik dari segi pengertian, kedudukan, maupun fungsinya. Namun, tidak semua negara di dunia meletakkan konsep tersebut. Bagaimana dengan Indonesia, Malasyia, dan Filipina?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Gender dalam Bahasa

oleh Herman RN

rameHAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah “gender” dalam berbahasa. Sebagai refleksi bulan bahasa (setiap 28 Okotober) ini, kita lihat sekilas kaitan bahasa dengan relasi gender. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan adalah pengungkapan, gaya, dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur, baik lelaki maupun perempuan. Hal ini memang perkara sederhana, tetapi ini pulalah yang “jauh” dari kajian para pakar. Padahal, jika benar-benar ditilik, ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita, cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Artinya, soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para “aktivis gender” sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata.

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Janji Presiden Jadi Insiden

Oleh Herman RN

Mungkin, yang dilakoni oleh seorang kepada daerah dengan membuka baju saat kedatangan kepala negara adalah ‘urang ajar’. Namun, kondisi itu kelihatannya terpaksa dilakukan Bupati Aceh Selatan beberapa waktu lalu. Pasalnya, beberapa hari sebelum ketibaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Aceh dalam rangka membuka “piasan” adat Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang kelima, dikatakan oleh panitia pelaksana kegiatan tersebut bahwa presiden akan menyinggahi anjungan Aceh Selatan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Menggugat “Cabul” dalam Sastra

dimuat di Tabloid Kontras, edisi 22-28 Oktober 2009

Oleh Herman RN

hehehePembicaraan sastra “cabul” atau “satra kelamin” sebenarnya sudah lama heboh di Jakarta sejak beberapa karya sastra yang ditulis oleh sastrawan kekinian kerap mendeskripsikan adegan esek-esek. Bahkan, soal sastra cabul atau ada pula yang menamakannya dengan “sastra kelamin” sempat membuat kalangan sastrawan nasional saling tuding. Sebut saja di antaranya karya-karya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Hudan Hidayat, Eka Kurniawan, dan beberapa ‘penjaga Komunitas Utan Kayu’ yang suka melahirkan cerita-cerita nyentrik. Namun, lambat laun persoalan itu hening seperti ditiup angi. Bahkan, saat ini permasalahan tersebut terkesan mati atau tak dipedulikan lagi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Aceh, PKA, dan UU Hamidy

Oleh Herman RN

Kalau ada yang menulis tentang “Dunia Melayu” hingga lebih 50 buah buku, ia adalah UU Hamidy. Lelaki itu lahir Rantau Kuantan, Riau, 17 November 1943. Kendati bukan kelahiran Aceh, ia tahu benar seluk beluk Aceh, terutama bidang sastranya dan terkhusus lagi tentang hikayat-hikayat Aceh. Karena itu, tak salah jika salah seorang ulama sekaligus sastrawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy, menggelari Hamidy sebagai “Orang Aceh yang lahir di Pekanbaru. Menariknya lagi, Hamidy mengawali tulisannya dengan Aceh dan tulisan terakhirnya pun tentang Aceh.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »