oleh Herman RN
HIRUK pikuk seakan tak hendak takluk pada sesama makhluk atau serupa hindar dari semacam kutuk jadi kian buruk, mulai dari gedung mewah hingga ke yang menetap di gubuk buruk, sejak yang masih baru mengenal aksara hingga ke yang ninik-datuk, semakin sibuk bercakap soal cambuk. Syahdan, muncul pula selebih dari cambuk pengganti kutuk, yakni soal pancung sebagai bagian dari hukum di negeri kita yang (saat ini) masih bubruk. Maka itu, kenankan saya coba urai rutuk sebagai benah dari demo mahasiswa berturut-turut tempo hari di halaman gedung-gedung para pemilik puncak tampuk. Pula masalah kutuk mengutuk yang disanksikan dengan rajam dan cambuk telah jadi polemik para peneliti dan penulis pada sejumlah media.



HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah “gender” dalam berbahasa. Sebagai refleksi bulan bahasa (setiap 28 Okotober) ini, kita lihat sekilas kaitan bahasa dengan relasi gender. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan adalah pengungkapan, gaya, dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur, baik lelaki maupun perempuan. Hal ini memang perkara sederhana, tetapi ini pulalah yang “jauh” dari kajian para pakar. Padahal, jika benar-benar ditilik, ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita, cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Artinya, soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para “aktivis gender” sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata.
Pembicaraan sastra “cabul” atau “satra kelamin” sebenarnya sudah lama heboh di Jakarta sejak beberapa karya sastra yang ditulis oleh sastrawan kekinian kerap mendeskripsikan adegan esek-esek. Bahkan, soal sastra cabul atau ada pula yang menamakannya dengan “sastra kelamin” sempat membuat kalangan sastrawan nasional saling tuding. Sebut saja di antaranya karya-karya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Hudan Hidayat, Eka Kurniawan, dan beberapa ‘penjaga Komunitas Utan Kayu’ yang suka melahirkan cerita-cerita nyentrik. Namun, lambat laun persoalan itu hening seperti ditiup angi. Bahkan, saat ini permasalahan tersebut terkesan mati atau tak dipedulikan lagi.