Posted by: lidahtinta | Oktober 11, 2008

Merdeka!!!

Oleh Herman RN

Salam pada langit yang kita junjung; menampung segala suara

Salam pada bumi yang kita jejak; permadani perak tanah manusia

Sambutlah salam kami; salam sepuluh jari di atas kepala

Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), sengaja kami buka cang panah kali ini dengan sebuah sajak Fikar W. Eda, sebagai pertanda damai masih kita suka. Kendati membaca judul kelakar ini sedikit “aneh” barangkali bagi sebagian orang. Namun, inilah adanya: kita adalah bangsa yang merdeka.

Tak ada lagi larangan untuk menjenguk kampung halaman, tak ada lagi larangan berbentuk pembungkaman, dan kita percaya itu, karena kita adalah orang-orang yang menghargai janji dan perdamaian. Maka sangat aneh, jika ada orang yang melarang teriakan yel-yel kemerdekaan bagi bangsa ini.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | Oktober 10, 2008

Meusyén (2)

oleh Herman RN

Masih ingat haba meusyén yang saya tulis di ruang ini beberapa waktu lalu? Saat ini, orang-orang sedang melepas meusyénnya di sebuah kota. Meusyén kepada seorang yang dituakan, yang dihormati, yang diagung-agungkan, yang didoakan, dan tentunya yang dirindukan. Maka berserabutlah orang-orang dari Kuta Raja melepaskan meusyén sembari menjabat hangat tangan sang dituakan tersebut. Pejabat, pejuang, birokrat, seniman, hingga mereka yang dulu buronan, mencari cara masuk dalam burung besi untuk sampai ke negeri jiran melepas meusyén.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | Oktober 8, 2008

Mirip

Oleh Herman RN

Entah dosa apa yang menimpa gampông Lamsulet sehingga setiap yang mirip-mirip dilarang ada di gampông tersebut. Ironisnya, masyarakat di sana menyukai yang mirip-mirip itu.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | Oktober 8, 2008

Salam dari Balik Terali Baja untuk Wali Nanggroe

Nun jauh di seberang pulau itu. Namanya Ismuhadi, narapidana politik asal Aceh yang masih mendekam di penjara Cipinang, Jakarta. Ia terbata-bata saat mengawali percakapan kecil melalui handphone, Selasa (7/10) pukul 10.30 WIB. Lalu, ia bercerita kepada Harian Aceh dengan nada rindu dan gelisah selama kurang lebih 30 menit.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | Oktober 7, 2008

Hari Raya

oleh  Herman RN

Hari raya adalah hari besar, hari yang menjadi sejarah bagi sekelompok umat. Hari itu dianggap suci. Misalkan Hari Raya Waisak, menjadi hari besar dan hari suci bagi penganut agama Budha, Hari Raya Nyepi menjadi hari suci bagi penganut agama Hindu, Hari Natal menjadi Hari Raya dan suci bagi penganut agama Kristen–namun penganut agama ini ada juga Hari Raya yang lebih berharga dari Hari Natal, yakni Jumat Agung dan Hari Paskah.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | September 27, 2008

Banyak Jalan Menuju Tuhan

oleh Herman RN

Banyak jalan menuju Tuhan! Ya, benar, tapi tidak sama dengan banyak jalan menuju Rhoma atau banyak jalan menuju Banda Aceh, yang boleh ditempuh lewat darat, boleh jalan laut, boleh pula jalur udara. Banyak jalan menuju Tuhan taklah sama dengan banyak cara menuju hutan, yang boleh dilalui pakai kendaraan bermesin, boleh pakai jasa hewan seperti unta dan kuda, boleh pula jalan kaki. “Banyak Jalan Menuju Tuhan” haya sekedar sebuah cerita yang diamprahkan oleh seorang novelis Sumatera Barat yang meninggalkan dunia sastra dalam usia 79 tahun.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | September 26, 2008

Meusyén

Oleh Herman RN

Kemarin, kita baru saja dikejutkan dengan kepulangan Gubernur Aceh secara tiba-tiba dari persinggahan perawatannya di Singapura. Yang lebih mengagetkan, kehadirannya hanya sekali putaran rotasi bumi pada porosnya. Ya, hanya sehari, lalu dia kembali meninggalkan Aceh dan rakyatnya. Padahal, Hari Kemengan Fitri sudah di depan hidung.

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | September 25, 2008

Tentang Kecurigaan Plagiat

oleh Herman RN


maaf puasa telah pun dilisan
maaf lebaran segera tiba
sungguh bijak sebuah pembelaan
terlampau tafsiran bersuka kata

Agaknya tulisan saya yang berkelakar tentang cinta di bulan damai, yang saya sarikan dari amatan terhadap Soneta Soneta Neruda di Serambi Indonesia telah membuka gelisah segenap pembaca sastra. Akibatnya, penikmat dan pemikir sastra saling curiga bahwa “Ada apa antara saya dan Fozan Santa”. Tuding menuding hingga usaha pembelaan pun berseliweran, dari meja warung kopi hingga laman Serambi Indonesia (SI) dan Aceh Institute (AI).

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | September 24, 2008

Biarlah…

oleh Herman RN

Hari Raya Fitri tinggal bilangan sebelah jari. Perkara Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji mulai jadi cerita menyambut pagi. Belum lagi masalah pengungsi korban tsunami. Mereka juga punya punya cerita sendiri. Misalkan saja, pejabat BRR yang punya besar gaji menggelar buka puasa akbar di Jakarta, para korban tsunami tetap masih di barak, entah pun sempat menggigit jari. Jangan-jangan karena sudah sering menggigit jari, mereka tak lagi punya jari (mungkin).

Baca Lanjutannya…

Posted by: lidahtinta | September 23, 2008

Ingat!!!

oleh Herman RN

Alkisah itu terjadi juga. Mulanya dicurigai karena penghuni hutan membawanya ke sebuah tempat. Masyarakat bilang, ke tempat semayam penghuni rimba tersebut. Namun, kejadian itu terkuak juga, bahwa si dara lima belas tahun itu bukan diambil penghuni rimba yang ditamsilkan seperti hantu atau genderuwo, melainkan diciduk sesama manusia, dinikmati tubuhnya, lalu dibunuh.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori