Ayah Tiri Cabuli Anak Tirinya yang Masih Tujuh Tahun

Pencabulan anak di bawah umur kembali terjadi di Aceh Utara. Zia, 40, warga Desa Ude, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, ditangkap petugas dari Mapolsek setempat karena ketahuan mencabuli anak tirinya yang masih berusia tujuh tahun. Perbuatan ini dilakukan secara berulang kali. Kini, si kecil Indah (sebut saja begitu), dalam kondisi trauma berat. Baca entri selengkapnya »

Patutkah Menghargai Syariat Islam?

(Dimuat juga di www.acehinstitute.org)

Oleh Herman RN

Mungkin ini surat kesekian saya yang berisi tentang Syariat Islam sejak pertama sekali diberikan Pusat untuk Aceh. Pemberian itu menjadi bergumpal gelisah dalam dada saya manakala “Kado Syariat Islam” yang saya ketahui kemudian hanya sebuah peredam; peredam kecamuk politik di Aceh masa-masa dicabutnya status Daerah Operasi Militer dari Tanah Rencong dan masa-masa runtuhnya Orde Baru. Sebelumnya, surat gelisah serupa pernah saya layangkan melaui Harian Serambi Indonesia (23 Agustus 2007) bertajuk “Syariat Lara Kampongku”. Saya harap surat kesekian ini menjadi sebuah pemikiran bagi kita. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Penghargaan untuk Sastra Masih Bobrok

(Dimuat di Harian Aceh dalam dua edisi)

Oleh Herman RN

Masalah pemberian penghargaan terhadap hasil karya sastra, sejak dahulu sampai sekarang masih rendah. Bahkan, ada yang menilai penghargaan bagi penghasil karya dan karya itu sendiri semakin lama semakin kacau. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. 3 Komentar »

Aceh Butuh Polmas?

(dimuat di Tabloid Kontras)

Oleh Herman RN

Tulisan ini terinspirasi setelah saya mengikuti seminar tentang Polisi Masyarakat (Polmas) yang diadakan oleh International Organization for Migration (IOM) pada 24 April kemarin. Lembaga organisasi dunia untuk migrasi itu mengadakan seminar tentang perpolisian masyarakat yang katanya sebagai jembatan antara masyarakat dengan polisi, dengan tujuan agar Aceh benar-benar aman. Atas keresahan mereka yang takut Aceh kembali ribut sehingga mencoba memberikan solusi Polmas itu, keresahan saya pun timbul hingga membuahkan tulisan ini. Semoga saja keresahan sebagai anak Aceh tidak salah jika saya tuangkan di ruang ini. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Kadang-kadang Aku Melihatnya

Cerpen Herman RN

Kadang-kadang aku melihatnya. Di tekongan jalan itu ia berdiri dengan kocak. Setiap mobil yang lewat pasti berhenti dan mengulurkan sesuatu ke tangannya. Sudah pasti itu uang. Terkadang mobil yang melintas di depannya itu hanya melemparkan uang lembaran seribuan begitu saja, bagai memberi umpan pada anak ayam. Meskipun hal itu terjadi berulang-ulang, lelaki yang kutaksir berumur 40-an itu tetap memungut recehan yang dilempar di hadapannya. Ada juga pecahan lima ratusan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen. 8 Komentar »