Bintang (2)

Oleh Herman RN

Menyambung “cang panah” tentang bintang kemarin, hari ini saya berikan judul yang sama dengan episode dua.

Kemarin, saya jalan-jalan ke sebuah kantin kampus di Darussalam. Di sana, saya bertemu dengan seorang teman yang masih tercatat sebagai mahasiswa. Kata teman saya itu, “Apa mahasiswa juga dapat dikatakan atau menjadi bintang?” Baca entri selengkapnya »

Bintang (1)

oleh Herman RN

Ketika saya masih kecil, saat masih di bangku sekolah dasar dulu, saya pernah mendengar lagu “bintang kecil” dari guru kesenian saya. Lagunya hanya sebait, tapi diulang-ulang. Begini bunyinya, “Bintang kecil di langit yang tinggi/ Amat banyak, menghias angkasa/ Aku ingin terbang dan menari/ jauh tinggi ke tempat kau berada.” Lagu itu hasil gubahan R.A.C. Baca entri selengkapnya »

Epigram untuk Fozan Santa

Oleh Herman RN

Uroe gèt buleuen gèt, uroe peuseutèt pedamaian teuka

Meunyo hana sapue tapeugèt, pane lèt meugura cinta.

Hari baik dan bulan baik ini adalah hari yang paling dinantikan seluruh umat. Jika bagi ureueng Aceh, uroe gèt buleuen gèt itu adalah hari makmeugang, bagi seluruh alam saat ini, hari dinantikan itu adalah perayaan/pesta damai terwujudnya Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Mardeka (GAM). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. 2 Komentar »

OTK

oleh Herman RN

Agaknya kebiasaan “Menangguk di ari keruh” belum pudar di kampong kita. Kendati perdamaian sudah menanjak usia tiga tahun, usaha memancing kericuhan masih juga ada. Jika beberapa waktu lalu, usaha memancing kekacauan itu ditujukan kepada anggota TNI seperti penembakan terhadap salah seorang perwira Polisi Militer (POM) Iskandar Muda, dan baru-baru ini juga terjadi pada anggota Kodim Sabang, kemarin giliran mess Komite Peralihan Aceh (KPA) yang diamuk orang tak dikenal. Orang-orang tak dikenal yang mulanya diketahui namanya semasa konflik bersenjata di Aceh semakin terkenal. Baca entri selengkapnya »

Hai Bangsa Melayu, Tinggalkan Banyak Cakap!

oleh Herman RN

Berpuak-puak bangse Melayu hader ke Aceh. Mereke dudok berseronok dalam lokakarya (seminar) Pekan Peradaban Melayu Raya (PPMR) yang menjadi agenda Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Acara itu pun usai sudah setelah berhelat letih selama nyaris sepekan (20-25 Agustus). Guna menghilangkan penat karena dua hari sudah bercakap panjang di Hermes Palce Hotel, puak-puak Melayu di Banda Aceh ini pun bakal dihibur dengan kehadiran artis-artis kebanggaan bangsa Aceh (semoga menjadi kebanggaan Melayu juga), seperti Niken, Iyet Bustami, Krak Kustik, Sanggar Tari Rampoe Cut Nyak Dien. Tak cukup dengan hiburan serupa itu, malam penutupan juga direncakan akan hadir seorang presiden, yakni Presiden Rex, Hasbi Burman. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Sudah Melayukah DMDI (?)

Oleh Herman RN

Jauh sebelum Aceh dinobatkan menjadi salah satu wilayah kesatuan Republik Indonesia disebutkan bahwa negeri ini termasuk ke dalam kepulauan Melayu. Di peta lama, bila diamati seksama, tertera bahwa kerajaan Aceh Darussalam Berdaulat sampai ke Malaka. Ini menunjukkan bahwa Aceh memang bagian dari kebangsaan Melayu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Sandiwara Penguasa

oleh Herman RN

Entah kita lupa atau sengaja dilupakan oleh hiruk-pikuk perayaan ulang tahun bangsa ini sehingga ada satu kisah yang mulai redup-redam, mungkin pula lenyap tanpa pusara. Kisah itu teringat kembali di benak saya saat melihat pawai akbar anak-anak sekolah, kemarin, di kota ini. Melihat riak tawa anak-anak perserta pawai di jalanan itu, ingatan saya terbang kembali pada seorang anak yang pernah disulap usianya—dari 14 menjadi 18 tahun. Baca entri selengkapnya »

wisuda

oleh Herman RN

takzim keu gurèe meuteumèe ijazah

takzim keu nangmbah meuteumèe harueta

takzim keu nabi meuteumèe syafa’ah

takzim keu Allah meuteumèe syiruga

Seminggu yang lalu, teman saya di harian ini menulis dengan bangga tentang sebuah anugerah bagi dirinya. Pasalnya, bulan ini dia telah menyudahi sebagian langkah di meja pendidikan. Keharu-biruan itu dia tuangkan dalam sebuah kelakar singkat di sebuah pojok halaman harian ini. Dan saya sangat paham, kebahagiaannya bertambah ruah pada 16 Agustus kemarin, sebab impiannya yang sempat sirna mengenakan toga kebesaran tanda sarjana akhirya berhasil melekat di tubuhnya yang gempal itu. Baca entri selengkapnya »

Damèe

oleh Herman RN

Kutulis sepucuk surat bersampul biru di ruang ini, berharap ‘merpati’ itu benar singgah di hati insan, baik dia hanya kepala rumah tangga mapun kepala negara, baik dia petani maupun menteri, baik dia nelayan maupun wartawan, baik dia tukang bangunan maupun pedagang, baik dia pengangguran maupun berpendidikan, baik dia penanam tomat maupun pembuat pesawat. Sungguh kita rindu pada kata itu: damèe. Baca entri selengkapnya »

Nostalgia Kemerdekaan

Oleh Herman RN

Mengenang perhelatan tujuh belasan, tadi malam, kami di kantor, iseng-iseng menonton kembali film “Naga Bonar”. Tawa sudah pasti menggelitik saat menyaksikan adegan kocak Dedy Mizwar dalam film tersebut. Semula kami menonton “Naga Bonar 2” yang sarat sindiran satir Dedy Mizwar terhadap zaman ini. Tak puas dengan itu, kami bernostalgia kembali pada “Naga Bonar 1”. Saat menonton “Naga Bonar 1”, tawa teman-teman ternyata semakin mengakak. Baca entri selengkapnya »