Pendidikan

oleh Herman RN

Lucu-lucu membaca media di Aceh akhir-akhir ini. Mulai Pawang Dolah yang kerjanya sehari-hari menarik pukat, hingga Ampon Din yang hanya suka mengumpulkan kabar dari jambô jaga, sering asék-asék ulè melihat berita yang disiarkan media di gampôngnya. Baca entri selengkapnya »

UN; Kegelisahan Guru dan Pasrah Siswa

Oleh Herman RN

Kegelisahan akan hadirnya Ujian Nasional (UN) yang hanya tinggal hitungan minggu menyelimuti seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta. Uji kompetensi praUN pun sedang marak saat ini di berbagai sekolah. Pencapaian taget nilai siswa yang tahun ini harus mencapai 5,01 menjadi kegelisahan banyak kalangan, termasuk lembaga-lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Banyak Bimbel membuat program intensif mengahadapi UN. Kecuali itu, mereka juga terkadang melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengadakan try-out menghadapi UN. Anehnya, yang susah bin gelisah adalah kalangan pendidik atau guru, sementara siswanya hanya pasrah pada keajaiban nasib. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Teugeucha

oleh Herman RN

Di gampông saya, perihal menasihat anak sebelum merantau masih dilakukan sampai sekarang. Kebiasaan memberikan nasihat kepada seorang anak sebelum meninggalkan tanah nangaek (kampung halaman: bahasa Aneuk Jamee) sudah berlaku sejak zaman dahulu. Rasanya menjadi tabu melepas anak bepergian tanpa nasihat. Kebiasaan ini berlaku pula hingga sampai saat ini dan saya percaya, juga berlaku di hampir seluruh gampông kita. Baca entri selengkapnya »

Menjadi Sastrawan Koran

Oleh Herman RN

Beberapa kali saya bertemu sastrawan nasional kekinian pada sejumlah perbincangan/diskusi, baik dalam bentuk seminar/simposium/lokakarya, maupun sekedar bincang ringan di rangkang bebas dan warung kopi. Sebut saja di antaranya Nirwan Dewanto, Maman S. Mahayana, Hamsyad Rangkuti, Ignatius Haryanto, Linda Christanti. Hampir semua mereka sepakat bahwa sebuah karya yang “layak” hendak dipublikasikan (diterbitkkan dalam bentuk buku) adalah jika penulisnya sudah pernah diterima di ruang koran. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Pulang Kampung

oleh Herman RN

Sudah lama Pang Dolah tak pulang kampung. Kalau orang kampung tak salah mengitung, sudah sekitar setengah windu Pang Dolah tak melihat warna tanah di kampungnya. Meskipun suatu ketika laôt raya menjilat seisi kampungnya, Pang Dolah tidak juga pulang. Pasalnya, ia saat itu menjadi buron, dengan tuduhan ingin mengganti sarang merpati dari pelepah rumbia ke sangkar besi. Baca entri selengkapnya »

Simbol

Oleh Herman RN

Jika dalam kesempatan terdahulu kita sudah berkelakar tentang “warna”, hari ini sedikit tacang panah tentang simbol. Pada prinsipnya, kedua hal ini tak jauh berbeda. Warna sering dikatakan sebagai simbol juga, misalkan warna putih sebagai simbol kebersihan, warna merah simbol keberanian. Baca entri selengkapnya »

Sarang di Aceh

oleh Herman RN

Pernah mendengar dongeng tentang tiga anak kecil pencuri telur naga? Benar, kisah itu hanya sebuah dongeng. Namun, ada edukasi yang dapat dipetik. Simak saja dongengnya sekilas berikut ini. Tiga anak tersebut mencuri telur-telur naga di sebuah goa setiap tiga hari sekali. Setelah diambi, telur-telur itu tidak dibawanya langsung pulang, tetapi diletakkan di depan seorang pertapa dalam goa tersebut, keesokan harinya baru telur-telur itu dibawa pulang, sebab kalau langsung dibawa pulang, takut ketahuan oleh si naga. Baca entri selengkapnya »

Nabsu

Oleh Herman RN

Nabsu dalam bahasa Aceh tentu hampir sama dengan nafsu dalam bahasa Arab. Jika sederhananya nafsu diartikan sebagai keinginan, nabsu juga demikian. Maka, ketika dikatakan atau ada yang mengatakan nabsu meukawén, sama dengan keinginan untuk menikah. Lantas, haruskah nabsu itu dibiarkan lepas membabi-buta? Sehingga, berserabutlah penangkapan orang-orang di luar nikah seperti sebuah perayaan saja. Baca entri selengkapnya »

Membela Hutan Lewat Puisi

Judul Buku : Antara Ketambe dan Suak Belimbing

Antologi Puisi

Penulis : Basri Emka dan Darwin Baharuddin

Rancang Cover : Myblue Design

Penerbit : Aliansi Sastrawan Aceh

Tebal Buku : 86 + xii dan cover

Cetakan : Pertama 2008

Perih, duka, dan amarah saat melihat hutan “digerayangi” secara membabi buta oleh tangan-tangan kokoh tak bertanggung jawab. Segala macam bentuk umpatan dan makian kepada penebang hutan ilegal sudah menjadi rahasia umum. Pasalnya, jika dulu kita hanya mengenal banjir bandang kiriman setiap akhir tahun, kenyataannya sekarang, penebangan hutan menimbulkan petaka baru bagi masyarakat yang hidup di pinggir hutan. Satwa-satwa yang hidup bebas dan liar dalam hutan mulai memasuki pemukiman manusia. Tak ayal, korban serangan buaya, harimau, dan gajah, menjadi cerita baru dari sebuah akibat penebangan liar. Akhirnya, terbentuklah sejumlah LSM yang bergerak di bidang lingkungan demi menjaga kelestarian hutan. Di Aceh sendiri tercatat belasan LSM lingkugan hidup, seperti BPKEL, Silfa Aceh, Rimueng Lam Kaluet, dan lain-lain. Aktivis-aktivis lingkungan pun semakinn banyak. Mereka seolah memekik “Hentikan penebangan hutan!” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Resensi. Leave a Comment »

Warna

Oleh Herman RN

“Hidup penuh warna,” adalah sebuah ungkapan pepatah untuk menyatakan kebahagiaan kehidupan. Bagi remaja pecinta, mereka juga punya cara tersendiri menyatakan sesuatu atas nama cinta. Misalnya, warna merah muda atau pink, selalu ditujukan sebagai warna kasih sayang, merah tua untuk ungkapan cinta telah lama bersemi, ungu untuk menyebut orang pertama jatuh cinta sehingga remaja sekolahan cenderung memilih kertas surat atau amplop warna ungu untuk mengirimkan surat cinta pertamanya–anak-anak sekarang saja, karena dunia sudah canggih, cara mengungkapkan isi hati tinggal misscall beberapa kali, kirim SMS, selesai dah… J Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Haba-haba. 2 Komentar »