Cerpen Herman RN
Sebuah gedung bertingkat warna putih di Gampông Alon sedang dikerumuni orang-orang. Nyaris setiap hari, sejak disebutkan di gedung itu banyak uang, orang-orang berkumpul di sana. Semuanya lelaki. Kurus, gemuk, sedang, botak, berambut keriting, bermata cekung, mata bulat, dan berbagai corak lelaki melimpah di halaman gedung bertingkat dua itu. Di dalam gedung, tepat di ruang tengah, terlihat empat orang sedang sibuk di belakang meja. Keempat orang itu sedang melayani tamu-tamu sekumpulan orang yang memadati gedung itu, yang satu per satu dipersilakan masuk ke dalam gedung. Kertas, pensil, bolpoin, spidol, map warna-warni, dan berbagai alat tulis menulis lainnya tak beraturan di atas meja keempat orang tersbeut. Satu di antaranya bertugas sebagai penanya, satu lainnya menuliskan hasil tanya jawab dengan tamu di kertas yang ada di depannya, lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam map. Seorang yang lain menyusun map tersebut berdasarkan warna, ada yang dimasukkan ke dalam map merah, kuning, dan hijau. Setelah selesai seorang, maju yang lain lagi. Itu terus berlangsung kontinyu. Sungguh keempat orang itu sibuk dan berkeringat. Baca entri selengkapnya »