Perempuan yang Bebas dari Dapur, Sumur, Kasur

Oleh Herman RN

Dahsyat! Perempuan-perempuan itu tidak lagi memegang sendok, garpu, atau panci, melainkan bolpoin dan buku. Mereka tidak lagi memarut atau meremas kelapa dalam baskom, melainkan ‘memeras kepala’ sendiri hingga jadilah ‘hidangan siap saji’ kepada sesiapa pun. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Bahasa Aceh Tidak Jadi Punah

Buku Panduan Diluncurkan

Banda Aceh–Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Unsyiah, Drs. Denni Iskandar, M.Pd., mengatakan, bahasa Aceh tiga atau empat tahun ke depan akan punah, jika tidak ada upaya pendokumentasian terhadap bahasa Aceh tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 1 Komentar »

Pola Kehidupan Masyarakat Aceh

wagubHerman RN

Pola kehidupan masyarakat Aceh sejak zaman dahulu sudah diatur berdasarkan kaedah-kaedah hukum agama Islam. Pola kehidupan masyarakat Aceh di zaman dahulu dibagi dalam beberapa tingkat atau strata. Meskipun terbagi dalam strata-strata tidak berarti ada pemilahan pandangan hidup di antara strata tersebut. Rakyat Aceh menyebut strata itu dengan golongan. Adapaun golongan yang dimaksud adalah, golongan rakyat biasa, hartawan, ulama/ cendikiawan, dan kaum bangsawan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Resensi. 1 Komentar »

GAM CANTOI

Cerpen Herman RN

Sebuah gedung bertingkat warna putih di Gampông Alon sedang dikerumuni orang-orang. Nyaris setiap hari, sejak disebutkan di gedung itu banyak uang, orang-orang berkumpul di sana. Semuanya lelaki. Kurus, gemuk, sedang, botak, berambut keriting, bermata cekung, mata bulat, dan berbagai corak lelaki melimpah di halaman gedung bertingkat dua itu. Di dalam gedung, tepat di ruang tengah, terlihat empat orang sedang sibuk di belakang meja. Keempat orang itu sedang melayani tamu-tamu sekumpulan orang yang memadati gedung itu, yang satu per satu dipersilakan masuk ke dalam gedung. Kertas, pensil, bolpoin, spidol, map warna-warni, dan berbagai alat tulis menulis lainnya tak beraturan di atas meja keempat orang tersbeut. Satu di antaranya bertugas sebagai penanya, satu lainnya menuliskan hasil tanya jawab dengan tamu di kertas yang ada di depannya, lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam map. Seorang yang lain menyusun map tersebut berdasarkan warna, ada yang dimasukkan ke dalam map merah, kuning, dan hijau. Setelah selesai seorang, maju yang lain lagi. Itu terus berlangsung kontinyu. Sungguh keempat orang itu sibuk dan berkeringat. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen. 1 Komentar »

Sejarah Berliku Kota Dingin di Aceh

Herman RNhern

Letak nanggroe (kampung/kota) yang satu ini berdasarkan peta persis di tengah-tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Secara nyata, ia terletak di atas ketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Tak ayal lagi, kota ini disebut juga dengan daerah pegunungan dengan hawa dingin hutan leuser yang menusuk tulang sum-sum saat berada di sana. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 2 Komentar »

Deut Buta

Suatu hari di zaman dahulu kala, entah benar terjadi di Aceh, telah hidup sebuah keluarga miskin. Keluarga itu terdiri atas seorang anak lelaki dan ibunya. Tak disebutkan ke mana ayahnya. Sudah tiga hari ibu dan anak itu tidak makan dengan ikan. Maka, si ibu suatu hari meminta anaknya, si Amat Bangai, mencari ikan di sungai. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aneukdot, Humor. 2 Komentar »

Hilangnya Seremoni, Ketakutan Rektor atau Kelemahan Mahasiswa

Oleh Herman RN

peusijuk1Kutulis surat ini berhampar kasih dan segenap lara cinta untuk teman-teman yang masih menyandang predikat mahasiswa—sebuah jabatan agen perubahan. Maaf kupinta tulus dari segenap si empunya hati manakalan surat ini didengar kasar dan melukai. Sungguh, kutulis surat ini dengan segenap kelembutan hati yang jauh jangkau dari dendam bara, karena kutahu kita sudah menggerai rambut di hulu sungai sebagai pertanda MoU kita setuju bahwa mahasiswa tanpa rektorat sama dengan pendidikan tersumbat, sedangkan rektorat tanpa miliki mahasiswa sama dengan pendidikan hampa. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Jenayah, Jangan Mencipta Bisul di Tempat yang Sama!

Oleh Herman RN

Kutulis kembali surat perih ini, yang beralir cabik tatkala membaca dan mendengar berita, ditambah pula menyaksikan nyata, kanduri raya menakuti-takuti rakyat jelata dengan uang takziah korban sengsara laot raya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Kongres Kelamin

Oleh Herman RN

Suatu masa berlangsung kongres kelamin hewan sejagat raya. Kelamin-kelamin itu digantung di seutas tali jemuran, mulai dari yang paling besar hingga ke yang paling kecil. Lantas dihimbaulah para hewan sedunia agar datang memilih kemalin untuk dirinya masing-masing. Baca entri selengkapnya »

Bahasa (Kita) yang Mana

Oleh Herman RN

Kedudukan dan fungsi bahasa daerah di antaranya disebutkan sebagai pendukung budaya daerah dan nasional. Selain itu, juga sebagai sarana pendukung/ pemerkaya kosa kata bahasa dan sastra Indonesia. Oleh karenanya, keberadaan bahasa daerah menjadi penting untuk menyokong kelestarian bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan berusaha menggunakan bahasa daerah dengan baik, sesuai di tempat bahasa tersebut berkembang. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »