Sisa Basi

Herman RN

Tepat hitungan ketiga, Tuan menggunting pita. Riuh tepuk tangan mengiring kalungan bunga ucapan selamat atas tuan. Senyum menyungging bangga dari bibirmu yang biru kehitaman. Sejenak lagi Tuan ‘merdeka’. Orang kampungku bilang, “Sibak rukok teuk,” Tuan akan bebas; bebas dari segala hujat, dari segala tuding, bahkan dari segala doa laknat korban sisa laut melumat. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Haba-haba. 2 Komentar »

Membaca Puisi

Oleh Herman RN

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pembacaan puisi. Namun, sebelumnya, penting diingat bahwa sebuah karya tercipta karena ada tujuan yang kemudian kita sebut dengan amanat/pesan pengarang/pencipta. Demikian halnya dengan puisi, ia lahir dari lirik berupa pesan yang hendak disampaikan melalui bahasa puitik. Artinya, puisi itu diciptakan memiliki tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk dibaca, baik oleh diri sendiri (pencipta) maupun oleh orang lain. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Pimpinan

Herman RN

Hiruk-pikuk kepemimpinan tetap mencuat di Gampông Lamsulet meskipun orang-orang sedang merayakan sejarah episode akhir tahun. Betapa tidak, empat bulan lagi, pemilihan pimpinan di Gampông Lamsulet kembali akan digelar. Beragam foto calon-calon pemimpin pun bertebaran, mulai di dinding sekolah, pagar taman, pagar mesjid, higga dinding kakus. Baca entri selengkapnya »

Pelanggan Keranjingan 3G, Operator ‘Main Angin’

Oleh Herman RN

Kemajuan zaman menjadikan beragam teknologi muncul adalah sebuah keniscayaan, karena ilmu bersifat dinamis, ia berkembang mengikuti zaman dan pola pikir penghuni zaman tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. Leave a Comment »

Membaca Tabir Kalbu Mahasiswa Kontemporer

(Catatan Kecil untuk Puisi Parade Tiga Kampus)

Oleh Herman RN

Puisi sebagai sebuah karya sastra yang “merdeka”, yang lahir dari proses kontemplasi mendalam bukanlah milik penyair sudah jadi semata. Akan tetapi, orang yang sudah berhasil menulis puisi dan produktif di wilayah kerjanya (menulis puisi) akan disebut sebagai penyair adalah sebuah keniscayaan. Pertanyaannya, bagaimanakah bila yang melakoni itu mahasiswa? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Resensi. Leave a Comment »

Parade Puisi Mahasiswa

GULITA YANG BERGANTI

Muhammad Haekal

Dan semua tanpa warna…

Semu malam gulita…

Bersemilir angin tak berkala…

Aku mewajah gerah…

Tanpa usang semua terbang…

Dengan debu melekat hampa…

Kutawar berada pagi…

Yang biasa bermatahari tanpa bintang abadi…

Dan semua memberkas kilaunya…

Petang yang datang…hilang…

Kesempurnaan awan yang menghujan…

Malam yang mengembun…menantang…

Tanpa selimut aku duduk di haluan…

Berteman angin meyakin Tuhan… Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi. 2 Komentar »

DIRUMPUTKAN

Herman RN

Tahukah Tuan, apa itu rumput? Kadang ia ada yang panjang, tapi ada juga yang pendek. Panjang dan pendeknya ia, tetaplah di bawah kaki juga, diinjak, dilumat, dan dicangkul. Begitulah Pawang Dolah, ia tak sadar sedang dijadikan rumput. Dengan pujian bahwa ia dianggap pintar, tugas paling banyak dan berat diberikan kepada dirinya. Dan ia, belum mengetahui hal itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Haba-haba. 3 Komentar »

Mengenang Sejarah Singkat Kubu Aneuk Manyak

KUBU ANEUEK MANYAKKUBU Aneuk Manyak ini pada dasarnya dikuburkan dua mayat laki-laki, satu orang dewasa dan satunya lagi anak-anak yang masih berumur 4 tahun. Kedua orang tersebut adalah korban pembunuhan dengan tujuan perampokan, sesuai sumber informasi yang diperoleh dari kalangan masyarakat sekitar. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 2 Komentar »

Wartawan Aneuk Meunti

Cerpen; Herman RN

Karena kampung kita sudah aman, kita tak perlu lagi takut-takut melansir berita. Ini sudah tugas wartawan. Lagian kita harus memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat.” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen. Leave a Comment »

AIDS, Nilai Sebuah Kenikmatan

(Catatan Mantan Seorang Pecandu)

Oleh Herman RN

Pengantar
Catatan ini merupakan kisah seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Medan Aceh Partnership (MAP) cabang Banda Aceh. Mulanya, dia adalah seorang pecandu. Namun, belakangan dia beralih propesi menjadi aktivis sebuah LSM yang bergerak di bidang penanggulangan terhadap korban Narkotika dan Obat-obat Berbahaya (Narkoba) dan AIDS. Saya bertemu dengan dia setelah peringatan Haria Anti Madat se-Dunia tahun lalu. Kami sempat berbincang-bincang sekitar pengalaman dia menjadi seorang aktivis anti-madat di kantor MAP Banda Aceh. Kisah ini kutulis sebagai sebuah catatan yang berharap ada manfaat bagi semuanya. Oleh Harian Aceh, menerbitkan kisah ini dalam beberapa edisi bersambung di rubrik KESEHATAN, setiap Rabu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »