Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Profesional Guru dalam Pembelajaran

hernoleh Herman R

1. Pengantar

Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki orang yang menjabat sebagai guru harus bekerja profesional. Bekerja dengan profesional berarti harus berbuat dengan keahlian. Sementara itu, keahlian hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus, dan guru merupakan orang yang mengikuti pendidikah keahlian melalui lembaga kependidikan. Karena itu, guru dituntut memiliki keahlian mendidik yang profesional.

Buku “Profesi Kependidikan; problema, solusi, dan reformasi pendidikan di Indonesia” karangan Prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd., mencoba menawarkan sejumlah kegiatan bagi guru sehingga dapat dianggap sebagai sebuah profesionalitas. Tulisan ini mencoba meninjau solusi dan tawaran Uno dalam buku yang diterbitkan oleh BUMI AKSARA tersebut. Secara spesifik, tinjauan yang saya lakukan hanya pada BAB V (halaman 42-59). Pada bab ini, Uno memberi judul tulisannya, “Jabatan Profesional dan Tantangan Guru dalam Pembelajaran”.

2. Kegiatan Guru dalam Pembelajaran

Mengutip pendapat Prof. Dr. Made Pidarta, dalam bukunya “Landasan Kependidikan”, pendidik dapat diartikan secara luas dan sempit. Secara luas (universal), Pidarta menyebut pendidik sebagai semua orang yang mempunyai kewajiban mendidik anak, sedangkan dalam arti sempit (spesifik), pendidika dikatakan sebagai orang-orang yang sengaja dipersiapkan menjadi guru atau dosen. Dengan demikian, guru yang sudah dicetuskan sebagai tenaga pendidik yang khusus, diharapkan memiliki profesionalitas dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik. Maksudnya adalah guru harus mampu memberikan pembelajaran kepada peserta didik dengan sempurna, sesuai jabatan yang dimilikinya.

Menurut Uno, dalam tinjauan bab yang dilakukan di sini, banyak sekali kegiatan yang dapat dipilih guru dalam menyampaikan pembelajaran. Sayangnya, tidak ada rumus sederhana untuk mencocokkan kegiatan dengan sasaran. Ada yang dianggap baik untuk seorang pengajar atau sekelompok siswa, bisa saja tidak memuaskan dalam situasi lain. Karenanya, Uno mengatakan perlu adanya persiapan landasan bagi pengambilan putusan secara memuaskan tentang metode pengajaran dan kegiatan belajar yang efektif. Beberapa pola pembelajaran efektif tersebut, kata dia, dapat dilakukan dengan pengembangan metode-metode mengajar dan kegiatan belajaran yang sudah umum dilakukan, misalkan metode ceramah, berbicara dengan formal, menulis di papan tulis, memperagakan, menggunakan bahan pandang dengar, mempersiapkan lembar kerja siswa, menulis laporan praktikum, dan barangkali menonton film serta menggunakan bahan pandang dengar yang lain.

Metode-metode tersebut tidak dapat digunakan dengan sembarangan ketika merencakan program pengajaran. Ada beberapa alasan dikemukan Uno. Pertama, dari pengetahuan tentang gaya belajar, baik metode kelompok maupun metode mandiri harus digunakan. Ada siswa dapat belajara mandiri, tetapi ada juga sejumlah siswa lebih senang belajar dalam suasana dan situasi pengajaran yang beraturan dan terpimpin. Kedua, kondisi adan asas belajar menyebabkan kita tangggap akan perlunya memilih metode yang memberi peluang untuk peran serta yang aktif dari pihak siswa dalam segala kegiatan belajar. Ketiga, jika kita siap menggunakan teknologi pengajaran yang baru (TV, komputer, dan lain-lain), penakaran biasanya diberikan pada penyajia kelompok atau pada kegiatan belajar mandiri. Kedua jenis penyajian ini tidak memberikan kesempatan interaksi antarguru-siswa secara tatap muka. Keempat, ada persoalan dalam keefesienan menggunakan waktu guru dan siswa, sarana, serta peralatan. Untuk tujuan tertentu mungkin lebih efesien apabila guru menyajika informasi kepada seluruh kelas secara serempak (dengan jumlah siswa berapa saja) daripada menguasai siswa mempelajari bahan secara mandiri.

Menurut Uno, secara kesuluruhan, metode penyajian kelompok dan belajar mandiri paling berhasil mencapai sasaran dalam ranah afektif dan psikomotor. Lebih jauh, ia menjelaskan, cara terbaik dan efektif dalam mencapai sasaran afektif adalah melalui kerja kelompok.

3. Kondisi dan Asas untuk Belajar yang Berhasil

Dalam buku “Profesi Kependidikan” pada Bab 5, Uno menyebutkan pengajaran yang efektif ditandai oleh berlangsungnya proses belajar. Ia menawarkan beberapa kondisi dan asas belajar yang penting dan dianggap bermanfaat. Kondisi dan asas tersebut yakni: (1) persiapan sebelum mengajar; (2) sasaran belajar; (3) susunan bahan ajar; (3) perbedaan individu; (5) motivasi; (6) sumber pengajaran; (7) keikutsertaan; (8) balikan; (9) penguatan; (10) latihan pengulangan; (11) urutan kegiatan; (12) penerapan; (13) sikap mengajar; (14) penyajian di depan kelas.

Selain itu, Uno juga memaparkan sejumlah metode penyajian dalam pembelajaran. Menurutnya, ada metode penyajian keunggulan. Metode-metode tersebut dibaginya menjadi:

a. ceramah atau format penyajian lainnya yang telah dikenal dan diterima secara konvensional, baik dari kalangan pengajar maupun siswa. Metode ini merupakan metode utama dan kebanyakan digunakan oleh pengajar;

b. pada umumnya diperlukan upaya dan pemikiran, minimal untuk merencanakan penyajian ceramah, karena pengajar sudah mengenal dan menggunakan metode penyajian model ini;

c. ada beberapa pengajar yang merasa bahwa untuk mempertahankan status mereka atau menambah wibawa di mata siswa, mereka berbicara di depan kelas;

d. dari segi tujuan pembelajaran, waktu dapat dihemat karena dalam jangak waktu tertentu lebih banyak informasi dapat disajikan;

e. sejumlah besar siswa dapat dilayani dalam waktu yang sama, yang jadi pembatas hanyalah ukuran ruangan;

f. jika diperlukan, penyajian dapat diubah dengan penyajian bahan ajar tertentu atau menambahkan bahan baru sebelum, bahkan ketika pengajar menyajikan bahan ajar; dan

g. cara ini layak diterapkan sebagai metode komunikasi apabila informasi yang akan disampaikan mengharuskan sering terjadinya perubahan dan pemutakhiran.

Kendati ada sejumlah keunggulan metode penyajian, Uno juga tidak memustahilkan adanya kelemahan pada metode tersebut. Jika keunggulan metode penyajian disebutkannya ada 8 poin, kelemahannya pun ada 8 poin, yakni:

a. siswa dibatasi keikutsertaannya, mereka hanya menonton, mendengar, mencatat, dan hanya sedikit atau sama sekali tidak kesempatan bertukat pendapat dengan pengajar;

b. adanya keharusan bagi pengajar untuk menyajika bahan ajarnya dengan cara menarik, bergairah, dan penuh tantangan, agar siswa tetap tertuju pada penyajian pengajar;

c. ketika guru memberikan ceramah atau memperagakan sesuatu kepada siswa, diandaikan siswa memperoleh pengertian yang sama, tingkat pemahaman yang sam, dan pada waktu yang sama pula;

d. apabila dizinkan bertanya, pengajaran akan berhenti dan beberapa siswa terpaksa menunggu sampai pertanyaan itu terjawab sebelum dapat mengikuti penyajian selanjutnya;

e. pengajar sulit mendapat balikan dari siswa sehubungan kesalahan dan kesulitan yang dihadapi siswa selama penyajian;

f. terdapat bukti bahwa bahan penyajian lisan saja tanpa disertai keikutsertaan siswa secara terencana, hanya dapat diingat dalam jangka waktu pendek; dan

g. penyajian bukanlah metode yang dapat diterapkan untuk mengajarkan keterampilan psikomotor dan sasaran dalam ranah afektif hanya terpengaruh sedikit sekali.

Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan yang dilakukan pengajar mengurangi waktu dalam menyajikan bahan ajarnya. Pengajar mulai mencoba membiarkan siswa belajar mandiri atau berkelompok. Menurut Uno, belajar mandiri sekarang ini memperoleh perhatian terbanyak dalam rancangan pengajaran.

Ada sejumlah ciri program secara mandiri yang dipaparkan Uno dalam buku ini.

1. Kegiatan untuk siswa dikembangkan secara cermat dan rinci sehingga pengjaran dapat berlangsung dengan baik manakala bahan disusun menjadi langkah-langkah yang terpisah dan kecil.

2. Kegiatan dan sumber pengajaran dipilih dengan hati-hati dan memerhatikan sasaran pengjaran yang dipersyaratkan.

3. Penguasaan siswa terhadap setiap langkah harus diperiksa sebelum ia melanjutkan ke langkah berikutnya.

4. Siswa kemudian harus segera menerima kepastian (balikan) tentang kebenaran jawaban atau upaya lainnya.

5. Apabila muncul kesulitan, siswa mungkin mempelajari lagi atau meminta bantuan pengajar.

Ada beberapa keunggulan menurut Uno dalam belajar mandiri pada siswa. Di antara keungggulan-keunggulan itu disebutkan bahwa program mandiri sengaja dirancang dengan cermat sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak asas belajar. Pola ini juga disebutkan dapat memberi kesempatan, baik kepada siswa yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Keunggulan lainnya belajar mandiri dikatakan Uno dapat menyebabkan perhatian tercurah lebih banyak kepada siswa perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih luas untuk melangsungkan interaksi antarsiswa.

Di samping keunggulan, juga disebutkan beberapa kelemahan pada belajar mandiri. Kelemahan-kelemahan itu di antaranya memungkinkan kurang terjadi interaksi antara pengajar dengan siswa dan antara sesama siswa. Apabila dipakai jalur dengan langkah tetap, kemungkinan belajar mandiri akan membosankan dan tidak menarik. Kelemahan lainnya terdapat pada metode yang sering menuntut kerja sama dan perancanaan tim yang rinci di antara staf pengajar yang terlibat.

4. Media Pandang

Media pandang dengan lembar petunjuk dapat dipakai apabila siswa memerlukan pengajaran atau petunjuk untuk menjalankan suatu perlengkapan, melaksanakan suatu proses, atau menyelesaikan suatu kegiatan dengan cermat. Semua bahan ini sering disebut alat bantu kerja. Media pandang ini dapat ditempatkan di bengkel kerja, laboratorium, atau toko, atau dipersiapkan untuk dapat diambil dan dipelajari kapan saja, kapan diperlukan.

5. Sistem Pengajaran Perseorangan (PSI)

Sistem pengajaran perseorangan atau disebut juga Personalization System of Instruction (PSI) adalah sebuah pendekatan yang dapat diterapkan pada suatu pelajaran yang lengkap. Pendekatan umumnya berdasarkan pada sebuah buku ajar dengan satuan pelajaran yang terdiri atas bacaan, pertanyaan, dan soal. Setelah mempelajari setiap bagian bahan dan menjalankan seperangkat pertanyaan yang berkaitan atau menyelesaikan berbagai kegiatan, siswa melaporkan kepada pengawas atau tutor bahwa siap untuk diuji tentang bagian tertentu dari bahan ajar.

Suatu pendekatan sistem lengkap lainnya untuk belajar mandiri adalah metode AT (Audio Tutorial). Model ini menggunakan media suara. Pendekatan ini dirancang oleh Botaniwan Samuel N. Postlethwait. Prosesnya meliputi tidak komponen utama, yaitu (a) pertemuan kelompok besar (kelas); (b) kegiatan belajar mandiri di laboratorium yang sesuai dengan pelajaran dimaksud; (c) pertemuan diskusi kelompok, yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, melaporkan sesuatu, dan ikut dalam bentuk interaksi lainnya.

Dari sekian banyak model pembelajaran yang ditawarkan Uno pada bab 5 buku ini, kelihatannya pendekatan yang terakhir (pendekatan PSI dan AT) lebih memiliki peluang hasil belajar pembelajaran yang diharapkan dibanding pendekatan-pendekatan lainnya.

Herman RN, mahasiswa Pascasarjana Unsyiah

About these ads

Filed under: Essay, Opini

11 Responses

  1. shanti wien mengatakan:

    saya seorang guru di sebuah sekolah dasar di bandung. Yang saya rasakan selama mengajar, masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki dari sistem pendidikan di Indonesia. Salah satunya? pendidan kita masih kurang menghargai multiples intelligences

  2. EVI NURHAYATI mengatakan:

    bagus banget , isinya . sangat kompten .
    Iwant to know you more.

  3. kasih mengatakan:

    semangat yach,,,,keren deh

  4. boy nashruddin agus mengatakan:

    Ini pasti tulisan pasca jadi sarjana S1 kemarin?

  5. intami mengatakan:

    kenalan dunk . . .

  6. afni mengatakan:

    isi bukunya boleh juga untuk menambah wawasan guru kalo bisa buat contoh kasus doonk

  7. muhammad daud mengatakan:

    ass wr wb
    mas tlg donk krmin yg jelas tentang langkah2 pendekatan audio-tutorial cos skripsi saya tentang penedekatan audio-tutorial…ap judul buku yg berisi tentang pendekatan audio-tutorial ya mas
    waslm..terima kasih

  8. Sunah mengatakan:

    Bgus bgt tulisanya.sgt membntu saya.

  9. Ahmad Alhawarizmi mengatakan:

    Selain itu, Uno juga memaparkan sejumlah metode penyajian dalam pembelajaran. Menurutnya, ada metode penyajian keunggulan. Metode-metode tersebut dibaginya menjadi:

    a. ceramah atau format penyajian lainnya yang telah dikenal dan diterima secara konvensional, baik dari kalangan pengajar maupun siswa. Metode ini merupakan metode utama dan kebanyakan digunakan oleh pengajar;

    b. pada umumnya diperlukan upaya dan pemikiran, minimal untuk merencanakan penyajian ceramah, karena pengajar sudah mengenal dan menggunakan metode penyajian model ini;

    c. ada beberapa pengajar yang merasa bahwa untuk mempertahankan status mereka atau menambah wibawa di mata siswa, mereka berbicara di depan kelas;

    d. dari segi tujuan pembelajaran, waktu dapat dihemat karena dalam jangak waktu tertentu lebih banyak informasi dapat disajikan;

    e. sejumlah besar siswa dapat dilayani dalam waktu yang sama, yang jadi pembatas hanyalah ukuran ruangan;

    f. jika diperlukan, penyajian dapat diubah dengan penyajian bahan ajar tertentu atau menambahkan bahan baru sebelum, bahkan ketika pengajar menyajikan bahan ajar; dan

    g. cara ini layak diterapkan sebagai metode komunikasi apabila informasi yang akan disampaikan mengharuskan sering terjadinya perubahan dan pemutakhiran.

    *dari kata2 “Metode-metode tersebut dibaginya menjadi:”
    a
    b
    c
    Kurang relevan, krena seharusnya sodara mengungkapkan macam2 metode, sedangkan yang dibahas pada poin-poin diatas hanyalah metode ceramah :)

    Dapat berkarya dengan lebih bagus lagi :)

  10. Ardina mengatakan:

    I LIKE YOUR STATEMENT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • (3) Ada yang menyampaikan jumlah hadiah yg tertera di iklan sudah berubah, lagi2 saya tak bisa jawab. Mungkin @iloveaceh bisa membantu. tks 48 minutes ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: