Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menjadi Penulis Cerpen, Siapa Takut?

(Sebuah Proses Kreatif)

oleh Herman RN*

Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang tergolong ke dalam fiksi. Sebagai fiksionaris, kisah dalam cerpen hanya ada dalam hayalan. Namun, ia dapat beranjak dari dunia nyata semisal pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, kejadian alam, dan segala hal yang tertangkap pada panca indra.

Bermimpi menjadi penulis cerpen menjadi sebuah keniscayaan, apalagi bagi remaja. Beberapa remaja yang saya temui mengaku suka pada cerpen atau novel—keduanya adalah jenis karya fiksi. Namun, sebagian besar dari mereka mengaku kesulitan menulis cerpen, meskipun sudah mencobanya. Maka, warkah ini mencoba ‘membongkar kabut kesukaran’ menulis cerpen tersebut.     Sebelumnya, mari mengingat kembali apa yang pernah diucapkan Arswendo Atmowiloto dua puluh lima tahun silam. “Mengarang Itu Gampang,” kata dia dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta, 1984. Sangking mudahnya pekerjaan mengarang, Arswendo membahasakannya dengan sebutan “gampang”. Menulis cerpen merupakan sebuah kegiatan mengarang yang dimaksudkan gampang tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan bagi seorang penulis cerpen adalah kreativitas, baik dalam menyusun kata-kata (membahasakan) maupun dalam mengotak-atik jalan cerita dengan bumbu-bumbu yang dapat mempengaruhi pembaca larut dalam cerita yang dibaca. Tamsilnya begini, gulai kambing akan berbeda citarasanya tatkala hanya digulai sederhana (kambing semata). Namun, saat diberikan sedikit campuran semisal buah nangka, kelapa, merica, cabai, ditambah penyedap rasa lainnya, gulai kambing tersebut akan berubah citarasa menjadi tambah nikmat. Namun demikian, mencampuradukkan segala bumbu tersebut tanpa kelihaian mengolahnya, sama saja bohong. Rasa yang diharapka sedap bisa saja menjadi tambah amburadur. Demikian halnya cerpen, jika hendak mengisahkan sebuah peristiwa semisal kecelakaan dalam cerita tanpa pengaruh alam dan segala apa yang terdapat di sekitar peristiwa tersebut, ceritanya pasti biasa saja, karena kisah kecelakaan nyaris pernah dialami setiap orang. Oleh sebab itu, perlu kelihaian mendeskripsikan peristiwa kecelakaan dimaksud. Kelihaian inilah yang disebut proses kreatif pencerita dan pencitraan.

Penggunaan Paragraf

Dalam menulis cerpen dibutuhkan seni bertutur (bercerita). Ada beberapa jenis paragraf atau ungkapan yang dapat digunakan dalam seni bertutur. Ungkapan atau paragraf tersebut, dalam konteks cerpen, akan menjadi kuat jika menggunakan ungkapan deskripsi. Ungkapan atau paragraf deskripsi menjadi kekuatan detail dalam sebuah cerita (baik cerpen maupun novel) meskipun kedua karya sastra ini sering disebut sebagai karangan narasi. Saya misalkan ada paragraf begini:

“Perempuan itu berkulit kuning langsat. Wajahnya oval, bulu matanya lentik, alisnya tebal, hidungnya mancung sekitar lima senti dan ada tahi lalat di pipi sebelah kiri. Dagunya sekilas bagai sangkar burung tempua. Sesekali barisan putih menyembul dari balik bibirnya saat tersenyum. Ah, bibir yang tipis dan basah…”

Sekarang coba bandingkan paragraf tersebut dengan kalimat “Perempuan itu sangat cantik.” Dengan deskripsi seperti di atas, semua orang dimungkinkan untuk mengambil kesimpulan bahwa si perempuan memiliki rupa yang cantik. Cantik sebagai sebuah kata adjektiva (sifat) bisa disimpulkan secara relatif. Cantik bagi seseorang bisa saja mesti memiliki lesung pipit, tetapi bagi yang lain tidak mesti ada lesung pipit asalkan berkulit putih. Maka kekuatan deskripsi mengaburkan kesimpulan cantik atas sebuah persepsi. Karena itu, deskripsi sangat dibutuhkan dalam sebuah kisah cerpen. Pendeskripsian tersebut bisa pada tokoh (orang atau hewan), bisa pula pada benda-benda lainnya yang menjadi properti dalam teks cerita.

Selanjutnya, paragraf narasi sering mendominasi penceritaan, sebab narasi sendiri memiliki makna cerita. Kelihaian menggunakan kata-kata dalam bernarasi menjadi kreativitas tersendiri. Dari sini kemudian kita bisa menangkap stile (gaya) seorang penulis. Ada yang suka menggunakan ungkapan-ungkapan metafora misalnya, ada pula yang suka bermain dengan simbol, tetapi ada juga bercerita apa adanya. Semua ini sah digunakan, yang terpenting tidak sampai melakukan pemubaziran kata-kata (pleonasme).

Mungkin kita pernah mendengar orang mengeluh terhadap sebuah cerita seseorang dengan sebutan garing atau terlalu dibuat-dibuat. Hal ini biasanya terjadi karena pandangan terhadap seni sastra dalam cerpen mesti bermain kata sehingga menimbulkan ‘kejenuhan’ makna yang hendak diungkapkan. Bermain kata yang mengharapkan seni berkisah bukan berarti mesti memperbanyak simbul puitis. Ingat, Anda sedang menulis cerpen, bukan puisi. Jika setiap kata dalam sebuah puisi cenderung mewakili makna ambiguitas, dalam cerpen usahakan dihindari ambiguitas kata. Cerpen sesungguhnya mengisahkan apa adanya dengan penguasaan diksi yang memadai, tidak perlu terlalu muluk dengan simbol, dan tiak bertele-tele. Sebagai sebuah cerita yang dapat diangkat dari pengalaman nyata, kisah lakon dalam cerpen ditulis seperti apa adanya di alam nyata, kecuali Anda sedang menulis cerpen surealis (untuk jenis cerpen ini kita bicarakan di lain kesempatan jika waktu mengizinkan).

Paragraf lainnya yang dapat dipakai dalam menulis cerpen adalah argumentasi (pendapat). Namun, dalam pengungkapan argumen, penulis cerpen mesti dapat memilah dirinya sebagai tokoh atau sebagai narator. Kencenderungan ini bisanya menimbulkan cerpen yang menggurui. Sebagai sebuah karya sastra, cerpen bukanlah teks pidato yang tidak mesti memberikan nasihat menggurui. Memberikan kebebasan kepada pembaca dalam memberi penafsiran terhadap kisah dalam cerpen akan membuat cerpen itu berdikari. Sebagai sebuah karya yang ditujukan kepada publik, ini menjadi penting. Memang diakui banyak penulis cerpen (cerpenis) sulit memilah diri sebagai narator atau sebagai tokoh. Apalagi, terhadap cerita yang menggunakan tokoh “Aku” lirik. Namun, di sinilah letak kreativitas tersebut sehingga cerita dapat berjalan mengalir seperti keinginan tokoh dalam cerita, bukan keinginan penulis.

Dalam kaitan tersebut, ungkapan/paragraf persuasif sebanyak mungkin mesti dihindari. Lebih baik menggunakan paragraf eksposisi daripada persuasif yang akan menjebak penulis menjadi ‘khatib’ dalam karya.

Mengenali Bagian-bagian Cerpen

Sebagai sebuah cerita pendek yang kemudian dinamakan cerpen, kisah di dalamnya sangat singkat, habis dibaca sekali duduk sehingga cerpen disebut juga sebagai karya fiksi yang hanya menceritakan satu pokok masalah atau persoalan. Maksud “satu pokok masalah” adalah punya satu konflik.

Yang dimaksud dengan konflik adalah persoalan. Konflik dalam cerpen dapat terjadi secara lahir atau secara batin. Konflik lahir merupakan persoalan yang terjadi di luar diri si tokoh, biasanya dengan menghadirkan tokoh lainnya. Konflik batin adalah persoalan yang terjadi dan dialami dalam diri si tokoh. Konflik dimaksud bisa berupa tekanan batin, kegelisahan, duka mendalam, dan sejenisnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagian terpenting dalam sebuah cerpen adalah tokoh, disusul konflik. Tak mungkin sebuah cerita dapat terjadi tanpa ada yang mengalami. Pengalaman yang tidak melalui masalah tidak akan menarik pendengar atau pembaca. Karenanya, dua hal ini (tokoh dan konflik) menjadi bagian terpenting dalam sebuah cerpen, yang dalam novel konflik tersebut bisa lebih dari satu.

Bagian lainnya yang terdapat dalam cerpen adalah alur atau jalan cerita. Alur dapat terjadi dari dua sisi—alur maju atau alur mundur. Alur maju berarti cerita bergerak ke depan terus. Sedangkan alur mundur kisah berupa flashback, mengingat kejadian yang telah pernah dilewati si tokoh. Misalkan si tokoh yang sudah dewasa menceritakan kejadian saat dirinya masih kanak-kanak.

Bagian selanjutnya yang akan mendukung cerita dalam cerpen adalah setting atau tempat kejadian atau lokasi berlangsungnya cerita dalam cerpen tersebut. Tempat kejadian ini bisa digambarkan atau disebutkan seperti nama-nama tempat sungguhan (benar-benar ada), biasa pula hanya sekedar tempat rekaan, yang hanya ada dalam cerpen yang diceritakan.

Hal berikutnya yang biasa ada dalam cerpen adalah tema dan amanat/nasihat. Dua hal ini biasanya menjadi wilayah kerja pembaca/penikmat/pengkritis karya sastra. Bagi penulis, tidak usah dulu berpikir tema, amanat, atau nasihat apa yang akan disampaikan melalui cerpen yang akan ditulis, kecuali memang permintaan yang biasanya ada dalam lomba. Penulis cukup menulis saja cerita seperti adanya. Kemudian, serahkan kepada pembaca yang akan menangkap dan memberi penilaian terhadap tema, amanat, dan pesan dalam cerpen dimaksud. Artinya, melakukan pemetaan pemikiran akan menulis cerpen tentang apa, cukup sampai di situ. Langkah selanjutnya adalah tuliskan apa yang ada dalam pikiran Anda, jangan pikirkan apa yang akan Anda tuliskan. Biarkan cerita mengalir apa adanya.

Satu hal mesti dicoba saat menuliskan apa yang ada dalam pikiran Anda adalah jangan berusaha mengedit cerita atau bahasa atau pengungkapan sebelum cerita tuntas dituliskan. Bagian pengeditan letakkan tersendiri setelah Anda merasa tulisan (cerpen) selesai dituliskan. Setelah usai, baca kembali cerpen tersebut, saat itulah baru lakukan pengeditan. Seusai Anda mengedit, diamkan sebentar untuk beberapa saat atau beberapa jam, boleh juga unuk sehari semalam. Setelah itu, baru baca kembali sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang disebut dengan pemolesan.

Sebelum Dikirimkan ke Media

Jika cerpen tersebut Anda maksudkan untuk dikirim ke media semisal koran atau majalah, alangkah lebih baik memperlihatkan terlebih dahulu kepada orang sekitar cerpen yang Anda tulis tersebut. Orang sekitar dimaksud boleh jadi teman, kakak/abang atau adik, guru, atau kepada siapa saja yang Anda harapkan dapat memberikan komentar terhadap cerpen Anda. Ya, Anda mesti meminta komentar dari orang-orang tersebut, karena bisa jadi komentarnya dapat dijadikan tambahan dalam cerpen tersebut sehingga akan dimuat saat dikirimkan ke media cetak.

Jika kurang puas dengan komentar orang-orang tersebut, Anda dapat pula meminta komentar dari orang yang Anda anggap paham tentang sebuah cerpen. Persoalan komentar tersebut mau digunakan atau tidak, kembali kepada pribadi Anda. Karena itu, menyaring setiap komentar yang diterima adalah sebuah keniscayaan. Intinya, jangan takut dikomentari, meskipun komentar itu barangkali tidak Anda sukai. Perlu diingat bahwa Anda menulis cerpen untuk dibaca oleh orang lain, bukan untuk diri sendiri. Maka komentar orang menjadi penting didengarkan.

Hal lainnya yang mesti diperhatikan sebelum megirim cerpen ke media adalah melihat media apa yang menjadi tujuan Anda. Penyesuaian tema cerita dengan visi-misi media mesti diperhatikan. Selera koran dan redaktur dipelajari sehingga kemungkinan untuk karya dimuat lebih besar. Misalkan saja, cerpen berbau remaja dan agama, tentu akan lebih layak dikirimkan ke Majalah Annida daripada koran harian seperti Kompas atau Tempo.

Baik koran lokal maupun koran nasional, masing-masing memiliki stile tersendiri. Misalkan Harian Republika; mengarah kepada cerpen agamis. Sebagai sebuah koran nasional, Republika tak ubahnya seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia, dan lainnya, setiap cerpennya cenderung tidak terlalu keremajaan. Kompas sendiri biasanya lebih memilih cerpen-cerpen yang memiliki informasi berita, berkaitan dengan apa yang sedang hangat terjadi/dibicarakan.

Begitulah sekilas catatan untuk melakukan proses kreatif penulisan cerpen. Anda dapat pula memotivasi diri menulis cerpen dengan embel-embel bahwa setiap karya yang dimuat akan diberikan imbalan honor. Namun, pemikiran ke arah sana jangan terlalu besar. Jadikah saja ia sebagai motivasi, tapi bukan untuk dikejar. Yang terpenting adalah menulis terlebih dahulu. Masalah honor, akan datang dengan sendirinya saat Anda telah menjadi. Nah, sekarang tunggu apa lagi? Lekas ambil kertas dan pulpen, lalu menulis. Bagi yang sudah biasa menulis langsung di komputer (laptop), nyalakan segera laptop Anda dan langsung mencoba. Sesungguhnya, “yang bisa hanya orang-orang yang mau dan berani mencoba”. Salam!!!

tulisan ini dimuat di Aceh Institute.org, 5 Meis 2009

*Herman RN, menulis cerpen di beberapa media, lokal dan nasional. Cerpennya “Abu Nipah” terpilih sebagai juara III lomba menulis cerpen tingkat nasional oleh Creative Writing Institute (CWI) dan Menpora RI, 2005.

About these ads

Filed under: Essay

9 Responses

  1. Husna Azizah mengatakan:

    saya juga ingin jadi penulis mohon bimbingannnya

  2. herman mengatakan:

    Saya pernah memenang dua kali lomba menulis. Lomba petama saya dapet 5 juta rupiah dan hadiah kedua saya dapat kalkulator dan buku. Sebenarnya permasalahannya bukan karena tidak ada ide tetapi untuk mulai menulis rasanya malas. Bagaimana Bapak mengatasi persoalan ini. Di samping itu saya juga harus bekerja. Hingga kadang tulisan hanya setangah jadi.

  3. shanti wien mengatakan:

    begitu banyak ide di kepala, tapi langsung menguap saat berhadapan dengan kertas dan pena. gimana yaa…

  4. shanti wien mengatakan:

    begitu banyak ide di kepala, tapi langsung menguap kalau sudah berhadapan dengan kertas dan pena. Bagaimana ya….

  5. mambyz mengatakan:

    mencerahkan.

  6. Nina mengatakan:

    semoga dgn info ini saya bisa menulis lbh baik Lgi.
    Trimakasih.

  7. Nina mengatakan:

    Trimakasih untuk infonya.

  8. Nia mengatakan:

    Sungguh bermanfaat bagi saya, seorang pemula yang ingin terus mencoba. Semoga menulis merupakan jalan saya untuk meraih kebebasan berekspresi dan juga pengahargaan.

    Terimakasih banyak atas ilmu ini,saya yakin saya bisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: