Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

KONSEP DAN DAMPAK PENDIDIKAN BAGI PESERTA DIDIK

Oleh Herman RN

hernPENDAHULUAN

Sasaran pendidikan adalah manusia. Karena itu, pendidikan dimaksudkan dapat membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya yang menjadi benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Untuk itu, sudah menjadi keharusan bagi elemen pendidikan, baik pendidik maupun peserta dan seluruh kloni yang berkaitan dengan proses pendidikan agar tahu berbagai teori dan implikasi pendidikan.

Pendidikan yang memiliki sasaran manusia mengandung banyak aspek dan memiliki sifat yang kompleks. Oleh karena itu, sulit mencari batasan yang memadai tentang pendidikan secara lengkap. Akan tetapi, karena berbicara masalah pendidikan sejatinya harus mendalami terori tentang pendidikan dan penerapannya dalam dunia pendidikan, menjadi penting bagi tenaga didik untuk mengetahui bergam jenis batasan tentang pendidikan.

Sejatinya, teori berbicara tentang konsep pendidikan. Dengan demikian, sebelum kepada praktiknya, terlebih dahulu mendalami teori (konsep) pendidikan. Tentu saja, setiap konsep akan berdampak dalam penerapannya terhadap dunia pendidikan. Sebelum meninjau konsep pendidikan dan dampaknya dalam dunia pendidikan, terutama kepada peserta didik, terelebih dahulu kita melihat beberapa batasan tentang pendidikan.

1.1 Pengertian Pendidikan

Seseorang dapat memahami pengertian pendidikan dengan benar manakala dia memahami unsur-unsur pendidikan, sistem pendidikan, landasan pendidikan, dan wujud pendidikan sebagai sebuah sistem. Karena itu, ada beberapa batasan tentang pengertian pendidikan tersebut.

Sebelumnya, dapat dipahami bahwa pendidikan berkaitan dengan segenap elemen dalam lingkungan kehidupan manusia: kebudayaan, ekonomi, hankam, politik, etos kerja, sumber daya, dan sebagainya. Semua itu, dapat dilihat dari bagan berikut.

Bagan komponen yang turut mempengaruhi kualitas output pendidikan

a. Pendidikan sebagai proses transformasi budaya

Pendidikan yang diartikan sebagai proses transformasi budaya adalah sebuah kegiatan pewarisan budaya dari satu genarasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, pendidikan berkaitan dengan kebiasaan dalam suatu komunitas. Misalnya, berkenaan dengan kebiasaan tentang perkawinan di suatu tempat, acara pesta sunat rasul, dan kegiatan adat lainnya. Semua itu, berkenaan bagaimana memberikan sebuah pendidikan kepada generasi berikutnya tentang kegiatan dan kebiasaan yang dilakukan dalam komunitas tersebut. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai suatu nilai yang kemudian mengalami proses transformasi dari generasi ke generasi.

Menurut Tirtarahardja dan S.L. La Sulo, dalam bukunya “Pengantar Pendidikan”, ada tiga bentuk tranformasi pendidikan, yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan, misalnya nilai kejujuran; nilai yang kurang cocok untuk diperbaiki, misalnya tata cara perkawinan; dan nilai yang tidak cocok untuk diganti, misalnya tentang beberapa hal yang dianggap tabu untuk dipakai/diterapkan zaman sekarang (2005:33-34).

Hal ini memperlihatkan bahwa proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas mempersiapkan peserta didik untuk hari esok. Untuk mesti disadari bahwa pendidikan merupakan subsistem dari sistem pembangunan nasional.

b. Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi

Sebagai pembentukan pribadi, pendidikan diartikan menjadi kegiatan yang sistematis dan sistemik. Terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Dikatakan sistematis karena proses pendidikan berlangsung melalui tahap-tahap kesinambungan (prosedural). Disebut sistemik karena berlangsung dalam semua situasi dan kondisi.

Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran, yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa dan pembentukan pribadi bagi mereka yang sudah dewasa. Keduanya dikatakan Tirtarahardja berlangsung secara alamiah dan menjadi sebuah keharusan (2005:35). Pembentukan pribadi tersebut mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang sejalan dengan pengembangan fisik.

c. Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara

Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan menjadi suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. Warga negara yang baik di sini relatif, tergantung falsafah negara masing-masing. Bagi Indonesia, warga negara yang baik diartikan selaku pribadi yang tahu hak dan kewajiban sebagai warga negara. Hal ini tercantum dalam UUD 1945 pasal 27 yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan wajib menjungjung hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada kecualinya.

d. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja

Batasan pendidikan ini dimaksudkan untuk membimbing peserta didik memiliki dasar untuk bekerja. Pendidikan diberikan berupa pembekalan dasar seperti pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja. Hal ini sesuai UUD 1945 pasal 27 ayat (2), yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Selanjutnya, dalam GBHN (BP 7 Pusat) butir 23 disebutkan bahwa pemerataan lapangan kerja dan kesempatan kerja serta memberikan perhatian khusus pada penanganan angkatan kerja usia muda.

1.2 Konsep Pendidikan

Telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah diemban oleh orang-orang yang terbeban (concern) terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang yang punya visi ke depan, yaitu menjadikan generasi yang lebih baik dan beradab.

Oleh karena itu, yang duduk di kementerian pendidikan, kepala dinas, dan pembuat konsep pendidikan dipercayakan kepada orang-orang yang dinilai memiliki konsep (pemikiran) yang matang untuk memajukan dunia pendidikan.

Tirtarahardja dan S.L. La Sulo, dalam buknya “Pengantar Pendidikan” (2005:42), mengemukakan salah satu konsep pendidikan itu adalah Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH). Kata dia, konsep PSH sudah ada sejak zaman Rasulullah, sesuai sebauah hadis, “Tuntutlah ilmu sejak di buaian hingga ke liang lahat”.

Menariknya, konsep PSH disebutkan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, melainkan merupakan suatu proses berkesinambungan dan berlangsung sepanjang hidup. Ide PSH ini sudah dicetuskan sejak belasan abad silam, namun sekarang terkesan tenggelam dengan hadirnya beragam konsep baru ala pemerintahan. Konsep-konsep baru tersebut memandang bahwa kualitas peserta didik akan tercapai dengan melakukan ujian akhir. Hal ini menimbulkan beberapa konsep pendidikan di Indonesia yang mulai berkiblat kepada UUD 1945 dan Pancasila, disusul dengan Surat Keputusan (SK) atau semacam kurikulum.

Konsep pendidikan yang dicetuskan oleh sistem pendidikan nasional (Indonesia) melahirkan sejumlah kurikulum. Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Adapun kurikulum yang dicetuskan itu kemudian melahirkan sejumlah pendekatan. Pendekatan-pendekatan tersebut misalnya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Setelah pendekatan ini ditengarai tidak mampu menghasilkan tujuan pendidikan yang diharapkan, kurikum diubah lagi dengan model pendekatan pembelajaran yang baru.

Perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia sejatinya dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Akan tetapi dalam dekade ini, kurikulum sudah berubah sesuka hati pemerintah, setiap pergantian Menteri Pendidikan. Karena itu, kurikulum pendidikan yang pada tahun 2004 dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) hanya dapat bertahan tiga tahun. Setelah itu diganti lagi dengan Kurikulum Tingkat Satuan Acuan Pembelajaran (KTSP).

Kendala kemudian adalah hasil pendidikan di Indonesia tidak berubah sehingga kurikulum-kurikulum yang dianggap sangat handal memajukan pendidikan itu mendapat pelesetan. KBK dipelesetkan menjadi Kasih Buku Keluar. Maksudnya, guru-guru di sekolah hanya pintar memberikan buku panduan (modul) kepada siswa, lalu keluar dari ruangan. Hal ini tidak jauh beda dari pemelesetan CBSA sebagai Catat Buku Sampai Abis. Adapun KTSP yang masih dipakai sebagai kurikul di Indonesia sekarang mulai dipelesetkan menjadi Kasih Tugas Suruh Pulang.

PENJELASAN

2.1 Dampak Konsep Pendidikan

Pada bab sebelumnya sudah dijelaskan beberapa konsep pendidikan. Bab ini hanya menelaah konsep pendidikan yang diterapkan di Indonesia, yakni berdasarkan kurikulum yang ada dengan beragam model pendekatannya.

Umumnya, perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia adalah setiap sepuluh tahun sekali. Hal ini telah terpraktik sejak masa pemerintahan Soeharto sebagai presiden. Namun, belakangan, perubahan sistem pendidikan nasional sebagai sebuah standar dalam pendidikan secara universal (nasional), telah dilakukan setiap pergantian Menteri Pendidikan. Karenanya, pergantian kurikulum dari KBK menuju KTSP berlaku hanya dalam rentang waktu tiga tahun setengah. Di sini terkesan ada ego pribadi terhadap setiap menteri yang menjabat. Kemungkinan ‘takut’ menggunakan metode yang sudah dilakukan oleh Menteri Pendidikan sebagai sebuah ketidaka-daaan konsep yang baru, oleh orang yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan berikutnya, memberikan/ memutuskan harus ada kurikulum pendidikan yang baru. Tanpa disadari bahwa perubahan konsep pendidikan (kurikulum) sebentar-sebentar telah mengacaukan dunia pendidikan secara nasional.

Karena itu, bagaimanakah dalam prkatik di lapangan kurikulum dengan beragam model pendekatan pembelajarannya, penulis mencoba menelaah itu satu demi satu.

a. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

CBSA merupakan konsep pendekatan pembelajaran dengan menuntut siswa lebih aktif dari guru. Akhirnya, kesalahpengertian terhadap model pendekatan ini membuat guru cenderung melepaskan pembelajaran kepada siswa sepenuhnya, tanpa bimbingan dan arahan. Hal ini dilakukan dengan memberikan buku kepada siswa, meminta siswa membaca dan merangkum sendiri apa yang ada dalam buku pegangan yang diberikan. Kerja malas guru untuk membacakan atau menerangkan isi buku akhirnya model CBSA dipelesetkan menjadi Catat Buku Sampai Abis. Tentunya ini sebuah model pendekatan yang membosankan.

b. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Pendekatan dengan model KBK sesungguhnya mengharapkan pembelajaran kontekstual. Siswa benar-benar diharapkan aktif dalam menemukan sesuatu dari hasil pembelajaran. Pada model penekatan dalam kurikulum ini sesungguhnya juga mengharapkan siswa lebih aktif; yakni aktif dalam menemukan sesuatu sselama proses pembelajaran. Karena itu, model pendekatan pembelaharan dalam KBK dituntut kontekstual. Sayangnya, model ‘menemukan sendiri’ dan ‘kontekstual’ ini diukur guru dengan meninggalkan buku kepada peserta didik, berharap peserta didik menemukan hasil pembelajaran yang akan dicapai, lalu si guru keluar dari kelas sehingga KBK pun mendapat pelesetan Kasih Buku Keluar.

c. Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP)

Seperti dua model pendekatan pembelajaran dalam kurikulum di atas, KTSP pun tak ubah diperlakukan guru ‘seenak perut’. Kurikulum ini sebenarnya mengharapkan model pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Keaktifan yang dimaksudkan masih pada siswa sebagai peserta didik, kemudian inovatif dan kreatif dalam menemukan hasil pembelajaran yang dimaksudkan sehingga pembelajaran tidak hanya dititikberatkan dalam ruangan (kelas) semata. Proses pembelajaran yang efektif untuk mencapai output pendidikan pun memberikan keluesan kepada siswa untuk mengaitkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang diamati dan dialami siswa (kini dan di sini). Akan tetapi, konsep ini juga salah dimengerti oleh guru sehingga keaktifan, kekreatifan, dan keefektifan pembelajaran diukur dengan aktif dan kreatifnya siswa menyelesaikan tugas. Akibatnya, siswa kelimpungan menerima tugas dari guru saban kali masuk kelas sehingga KTSP dipelesetkan menjadi Kasih Tugas Suruh Pulang. Maksudnya, guru hanya berpikir bagaimana memberikan tugas kepada siswa, lalu siswa dipersilakan pulang mengerjakan tugas tersebut. Padahal, seorang guru dituntut menjadi mediator dan sekaligus fasilitator, yang mengarahkan siswa menemukan output pendidikan.

Dari model/konsep yang salah diartikan tersebut menimbulkan beragam dampak kepada peserta didik. Sudah jelas, proses pembalajaran tidak akan dapat membuahkan hasil seperti harapan, jika guru hanya menyerahkan pembelajaran 100% kepada siswa. Seharusnya, guru menjadi pemandu, motivator, sekaligus fasilitator.

Dalam hal ini, kita tak tahu harus mempersalahkan siapa terhadap hasil (output) pendidikan. Menyalahkan siswa ketika tak mau mengerjakan tugas yang diberikan boleh jadi sebuah kemungkinan. Akan tetapi, guru sebagai pemandu menemukan hasil belajara pun mestinya benar-benar dapat memosisikan diri sebagai fasilitator dan mediator proses pembelajaran.

2.2 UN sebagai Sebuah Konsep Pendidikan

Di samping beragam model pendakatan dan kurikulum di atas, Ujian Nasional (UN) yang masa penerapan KBK disebut dengan Ujian Akhir Nasional telah ditetapkan pemerintah sebagai alat ukur akhir (final) dari hasil proses pembelajaran. UN telah dijadikan sebagai standar hasil pendidikan secara nasional. Tes UN diadakan bagi peserta didik di kelas tertinggi pada sebuah jenjang pendidikan: kelas VI SD/MI, kelas III SMP/MTs, dan Kelas III SMA/MA.

Sejatinya, UN diharapkan dapat dilakukan oleh semua siswa di tingkat akhir tersebut. Akan tetapi, sarana dan prasaran pendidikan di sebuah sekolah mesti menjadi telaah pula. Jika ada sekolah yang tidak memiliki laboratorium (LAB), baik LAB IPA, LAB IPS, maupun LAB Bahasa, sekolah tersebut tidak semestinya harus menerima perlakuan yang sama terhadap UN seperti sekolah yang memiliki segenap kelengkapan sarana dimaksud.

Kendala lainnya adalah tidak semua daerah di Indonesia ini bebas dari penyakit “busung lapar’, konflik, atau bencana alam lainnya. Apabila di daerah-daerah yang mengalami beberapa hal itu, kepada siswanya juga diharapkan ikut UN, tentu tidak akan mendapatkan hasil yang sama seperti siswa di sekolah lain, yang memiliki fasilitas belajar semacam buku. Maka sangat tidak wajar jika UN dijadikan sebagai standar kelulusan siswa secara nasional. Sesungguhnya, yang tahu kemampuan siswa di sekolah adalah guru di sekolah tersebut. Lebih sepisifik lagi, yang tahu kemampuan siswa di suatu kelas adalah guru yang mengajar di kelas tersebut, yang tahu kemampuan siswa terhadap suatu ilmu bidang studi pelajaran adalah guru yang mengajarkan bidang studi tersebut kepada siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Ada beberapa batasan untuk mengetahui pengertian pendidikan, yakni (a) pendidikan sebagai proses transformasi; (b) pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi; (c) pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara; dan (d) pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja.

Sementara itu, konsep pendidikan yang seharusnya diterapkan adalah Pendidikan Sepanjang Hayat (PHP). Hal ini diungkapkan oleh Tirtarahardja dan S.L. la Sulo dalam bukunya “Pengantar Pendidikan” (2005:42). Akan tetapi, sejauh ini konsep pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia berdasarkan pendekatan dalam kurikulum yang ada.

3.2 Saran

Kendati beragam model pendekatan dalam sistem pendidikan Indonesia sudah dipaparkan dalam makalah ini, ternyata banyak kendala yang dihadapi dalam prosesnya. Oleh karena itu, disarankan kepada pemerintah agar dalam pencetusan konsep pendidikan hendaknya memikirkan dengan matang laba-ruginya kepada tenaga didik dan peserta didik. Harus diakui bahwa yang paham terhadap kualitas peserta didik adalah tenaga didik yang masuk/mengajar di kelas peserta didik dimaksud.

Disarankan pula kepada tenaga didik (pendidik) agar dapat menerapkan pembelajaran sesuai dengan konteks dan menggunakan PAIKEM. Guru hendaknya tidak lagi menggunakan model lama sehingga penyimpangan pengertian terhadap nama kurikulum terus berlangsung. Perlu ditekankan bahwa guru memiliki tanggung jawab penuh terhadap berhasil-tidaknya seorang murid sehingga guru dituntut lebih aktif membaca, menulis, dan mencari segala sumber ilmu untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.

Herman RN adalah mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Syiah Kuala

About these ads

Filed under: Opini

5 Responses

  1. safriandi mengatakan:

    Bagus tulisannya Pak Man. Memang Bapak jeut that. hehehehehehehe

  2. Ozank mengatakan:

    Kalo kangen sama ‘poh wablah ee’
    pasti datang ke sini hehehehe…
    Poh wablah eee….

  3. mely mengatakan:

    salam…mas boleh dong pinjem bukunya? kebetulan a lg nyari buku pengantar pendidikan nih, penulis Dr. umar tirtaraharja….cos susah dtempat a. thanks

  4. wulan mengatakan:

    klo konsep landasan pendidikan sd tau gak pak?

  5. Daniel mengatakan:

    Good post. I learn something new and challenging on websites I stumbleupon everyday.
    It will always be helpful to read content from other writers and practice
    something from their web sites.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: