oleh Herman RN
Mobil merah yang kami tumpangi mulai menanjak. Jalan yang mendaki ditambah berbelok-belok sempat membuat perutku mual. Kadang juga decit rem yang diinjak supir bis membuat aku terhoyong ke muka belakang. Tekongan demi tekongan mulai terlewati. Perjalanan ini pun kurasa semakin jauh. Sebuah gunung telah terlewati, tapi jalan yang datar hanya sekejap kurasakan. Mobil kami kembali menanjaki jalan berbukit. Sebelah kanan jalan, gunung menjulang tampak semacam hampir tumbang. Hutan tandus berdiri di atasnya. Pohon-pohon kelapa dan pala saling berjajar diantara belukar akar. Warna tanah kapurnya yang kuning seperti mau melongsor ke bawah. Aku merasa nyeri melihat pemandangan ini. Tambah lagi ketika aku melihat ke sebelah kanan yang waktu itu kebetulan aku memang duduk dekat jendela sebelah kanan. Laut biru luas membentang tepat di bawah kami. Ombaknya yang biru seakan memanggilku untuk terjun. Aku semakin bergidik.
Dia tersudut. Didekapnya tangan ke dadanya. Matanya menatapku sesaat, lalu menunduk. Aku masih berdiri di mulut pintu sambil terus menatapnya. Hatimu keras seperti batu, tapi itulah yang membuat aku tambah sayang padamu. Bathinku.
PERMAINAN tradisional merupakan sejumlah lakon dalam keseharian masyarakat yang kemudian disejajarkan menjadi sebuah keriangan. Lakon itu lalu dijadikan sebagai sebuah permainan yang hidup dan berkembangan dalam masyarakat secara regenerasi.