Melihat Kutu di Seberang

oleh Herman RN

(Harian Serambi Indonesia, 29 Agustus 2009)

hernSERABUT pendidikan Aceh yang diresahkan Dr Sofyan A. Gani, MA, patut diapresiasi. Sebagai seorang dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, ia telah berusaha menjernihkan berbagai persoalan dunia pendidikan. Namun dalam tulisannya yang terakir (baca: Serambi, 26 Agustus 2009), saat menyatir semraut dunia pengelola pendidikan (LPTK) perguruan tinggi selain Unsyiah, tebersit resah—jangan-jangan Pak Yan (sapaan Sofyan A Gani) melihat kutu di seberang, sedangkan gajah di pelupuk mata dikatupkan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Kepunahan dan Transfer Bahasa

Oleh Herman RN

Herman R, S.Pd.Di dunia ini, terdapat lebih dari 7000 bahasa yang digunakan oleh penutur. Dari jumlah ini, 300-an bahasa memiliki pentur per satu juta lebih. Bahasa-bahasa ini tersebar di seluruh penjuru dunia hingga ke pelosok-pelosok daerah terpencil sekalipun. Ironisnya, bahasa-bahasa yang terdapat di pelosok dimungkinkan akan punah (hilang). Namun, kepunahan bahasa tidak terkecuali di kota-kota besar yang sarat arus globalisasi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. 1 Komentar »

Patutkah Menghargai Syariat Islam?

Oleh Herman RN

AkuMungkin ini surat kesekian saya yang berisi tentang Syariat Islam sejak pertama sekali diberikan Pusat untuk Aceh. Pemberian itu menjadi bergumpal gelisah dalam dada saya manakala “Kado Syariat Islam” yang saya ketahui kemudian hanya sebuah peredam; peredam kecamuk politik di Aceh masa-masa dicabutnya status Daerah Operasi Militer dari Tanah Rencong dan masa-masa runtuhnya Orde Baru. Sebelumnya, surat gelisah serupa pernah saya layangkan melaui Harian Serambi Indonesia (23 Agustus 2007) bertajuk “Syariat Lara Kampongku”. Saya harap surat kesekian ini menjadi sebuah pemikiran bagi kita.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Simeulue, Kekayaan yang Tersisa dari Konflik dan Tsunami

tuhoe | Sinabang

hutanAceh memang terkenal dengan kekayaan hutannya, tetapi hutan-hutan Aceh dewasa ini mulai mengalami degradasi. Penebangan liar dan pembakaran hutan semakin merajalela. Namun, semua itu tidak menghilangkan kebanggaan Aceh terhadap sebuah pulau terpencil di propinsi ini. Simeulue, demikian nama pulau tersebut.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 2 Komentar »

Empat Sultanah Aceh Berdaulat

oleh Herman RN

Sebagai sebuah pemerintahan berbentuk  kerajaan, Aceh tempoe doeloe bukan hanya dipimpin seorang raja (sultan), tapi juga sultanah. Hal ini jelas membuktikan bahwa Aceh sangat menjunjung tinggi harkat dan derajat kaum perempuan. Menurut data sejarah tercatat empat perempuan yang berhasil memimpin Aceh Darussalam.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

17-an, Dulu dan Sekarang

Oleh Herman RN dan Thayeb Loh Angen

panjatTahun kemarin dan tahun-tahun tatkala Aceh masih dalam kecamuk konflik bersenjata, perhelatan kebudayaan atas nama 17 Agustus-an sangat semarak. Kami ingat benar, bahkan di beberapa daerah basis konflik sekalipun, tidak lepas dari kibaran merah putih. Sepanjang jalan, gedung-gedung sekolah dan instansi pemerintahan, penuh dengan umbul-umbul serta bendera Sangsaka Merah Putih sebagai tanda Aceh masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. 3 Komentar »

Ada Apa di Balik Karbon Hutan Aceh?

tuhoe | Banda Aceh

Hutan, lahan, maupun sumberdaya alam yang dikandungnya merupakan alat produksi utama bagi masyarakat adat yang mata pencaharian utamanya adalah berladang dan menggunakan hasil hutan. Karena itu, peran lembaga adat di gampông-gampông menjadi penting dalam pengelolaan sumberdaya alam. Struktur pemerintahan adat mesti digerakkan dengan sumberdaya yang didapat dari hasil pengelolaan atas hutan dan dumberdaya tersebut sendiri. Sistem pembagian hasil nantinya diatur dalam hukum adat, termasuk penentuan wilayah hutan mana yang bisa dikelola oleh masyarakat setempat. Jika ini tidak dilakukan, kehancuran hutan adat di suatu gampông akan sangat mudah terjadi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Feature. 3 Komentar »

Kue Adat

Cerpen Herman RN

Pat gulipat orang-orang merapat bersesak erat di ruang bersekat ukuran empat kali empat itu. Kabarnya, ada kue yang sangat memikat, dibungkus kertas mengkilat, cukup untuk mendirikan gedung bertingkat. Kertas balutnya, sudah ditandatangani oleh pejabat negeri, pertanda sah kue adat untuk dibagi-bagi. Maka, serupa pawai takziah di rumah orang mati, perempuan dan laki mencari bagi. “Kita ada jatah untuk kue itu,” kata seorang lelaki yang kepalanya tanpa rambut lagi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen. Leave a Comment »

Kesenian Setelah Si “Burung Merak”?

Oleh Herman RN

Harian Aceh, 16 Agustus 2009

aku“Tiba-tiba aku jadi muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman.” (Keagungan Penari-penari Losari, 1982).

Kalimat tegas itu dilontarkan budayawan kharismatik (Alm) W.S. Rendra, 27 tahun silam, saat ia menonton seorang penari tua (sekitar 70 tahunan kala itu) di Losari Cirebon. Pasalnya, penari itu terlihat agresif dan ekspresif dalam gerakan-gerakan tenaganya seperti anak muda. Karenanya, lelaki bernama lengkap Willibrordus Surendra Rendra Bawana Rendra tiba-tiba saja merasa ada yang paradoks dalam pikirannya. Ia mengamati ada seniman tua yang masih kuat berkesenian, tetapi di sisi lain kehidupan berkesenian generasi muda terlalu terpedaya dengan alam maya, alam nalar semata.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay. Leave a Comment »

Soal Kontingen Aceh Selatan

Oleh Herman RN

air dinginSungguh, saya tak habis pikir terhadap bahasa media yang memberitakan insiden “buka baju” Bupati Aceh Selatan, Husein Yusuf, dalam arena PKA-5, 5 Agustus 2009 lalu. Kesan dari sejumlah media yang saya baca, semua menyayangkan—kalau tak mau dimaknai menyalahkan—sikap Bupati Aceh Selatan yang buka baju dan menutup anjungan Aceh Selatan karena Presiden SBY tidak jadi masuk anjungan tersebut. Padahal, persoalan presiden tak jadi berkunjung ke anjungan Aceh Selatan hanyalah perkara puncak dari kekecewaan kontingen “negeri pala” itu, sedangkan sebelumnya masih banyak hal lain yang merupakan kebiri dari panitia PKA-5 tingkat provinsi terhadap kontingen dari pantai barat Aceh.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini. 2 Komentar »