Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Soal Kontingen Aceh Selatan

Oleh Herman RN

air dinginSungguh, saya tak habis pikir terhadap bahasa media yang memberitakan insiden “buka baju” Bupati Aceh Selatan, Husein Yusuf, dalam arena PKA-5, 5 Agustus 2009 lalu. Kesan dari sejumlah media yang saya baca, semua menyayangkan—kalau tak mau dimaknai menyalahkan—sikap Bupati Aceh Selatan yang buka baju dan menutup anjungan Aceh Selatan karena Presiden SBY tidak jadi masuk anjungan tersebut. Padahal, persoalan presiden tak jadi berkunjung ke anjungan Aceh Selatan hanyalah perkara puncak dari kekecewaan kontingen “negeri pala” itu, sedangkan sebelumnya masih banyak hal lain yang merupakan kebiri dari panitia PKA-5 tingkat provinsi terhadap kontingen dari pantai barat Aceh.

Hingga hari penutupan PKA-5, media di Aceh saya lihat masih memberitakan seolah-olah Bupati Husein kekanak-kanakan. Lihat saja petikan berita halaman depan sebuah media berikut ini. “Kontingen Aceh Selatan lebih memilih walk out (hengkang) dari arena PKA V gara-gara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono urung meninjau anjungan kontingen negeri pala itu pada 6 Agustus lalu, sehingga peluangnya untuk mempertahankan juara umum, kandas.” (Serambi, 12-08-09). Jelas kalimat ini seakan menyindir kontingen Aceh Selatan dengan pemahaman “cengeng” menutup anjungan hanya karena SBY tak jadi berkunjung. Akibatnya, ada yang menafsirkan bahwa Aceh Selatan ke PKA-5 hanya sekedar pamer adat kepada presiden sehingga “pulang kampung” karena tak dikunjungi kepala negara. Padahal, sekali lagi, masalah kunjugan SBY hanyalah masalah puncak dari kebiri panitia provinsi. Masih banyak kebobrokan panitia tingkat provinsi yang membuat Pemda Aceh Selatan mengambil sikap “keluar” dari perhelatan akbar atas nama kebudayaan tersebut. Ini yang seharusnya diberitakan media, tidak sekedar melihat yang besar saja. Seorang wartawan mestinya menggali lebih dalam sebab-sebab kepulangan kontingen tersebut. Apalagi, anjungan Abdya juga diberitakan sempat tutup. Jangan-jangan Abdya ikut tutup bukan karena ikut-ikutan Aceh Selatan, tetapi juga dapat imbas yang hampir sama dari panitia provinsi. Sekali lagi, hal-hal seperti ini seharusnya yang digali wartawan sehingga bahasa jurnalis lebih berimbang, tidak memihak sebelah.

Sebagai penikmat kesenian, saya tidak bermaksud membela ‘kepulangan” kontingen Aceh Selatan atau akan membeberkan sejumlah kejelekan kerja panitia provinsi. Tulisan ini sekedar mencoba memberi gambaran mengapa Bupati Aceh Selatan mengambil sikap menutup anjungannya. Data yang saya peroleh ternyata kekecewaan itu bermula dari perubahan petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak) dari panitia provinsi yang dilakukan sepihak tanpa konfirmasi kepada panitia dari daerah. Mungkin hal ini tidak hanya menimpa Aceh Selatan. Akan tetapi, penting melihat “negeri Tuan Tapa” tersebut karena hanya kabupaten itu saja yang berani ‘melawan’ sentralisasi panitia provinsi.

Pertama, sayembara hikayat mulanya disampaikan panitia provinsi kepada seluruh panitia daerah untuk mempersiapkan peserta putra dan putri. Namun, karena hanya Aceh Selatan yang memiliki bibit tukang hikayat putri, tangkai lomba hikayat untuk putri ditiadakan. Padahal, bisa saja panitia memberikan semacam apresiasi kepada peserta putri tersebut karena ia adalah bibit penting di dunia hikayat Aceh. Jujur saja, sulit mencari tukang hikayat putri. Belum lagi kita melihat penonton sayembara tersebut hanya dari peserta lomba semata. Kelihatan bahwa panitia tidak menginformasikan kegiatan tersebut kepada publik, atau memang ini sudah diatur dalam juknis agar tidak boleh ada penonton?

Kedua, tangkai lomba tadarus. Dalam buku juknis yang dikirimkan kepada panitia kabupaten, setiap daerah haya diperbolehkan mengikutkan satu orang peserta. Akan tetapi, pada hari “H”, daerah yang tidak membawa peserta tadarus hingga enam orang, dianggap gugur. Ketiga, tangkai lomba suson ranup adat. Saat rapat teknis, dikatakan bahwa menyusun dauh sirih tersebut tidak boleh menggunakan lidi, benang, jarum, atau kawat. Namun, kenyataannya hal ini tidak dijalankan oleh panitia provinsi.

Tentunya masih banyak kebiri dari panitia provinsi secara sebelah pihak semisal mengenai jadwal lomba yang digeser semaunya. Inilah sebagian dari kekecewaan kontingen Aceh Selatan hingga puncak kekecewaan itu adalah hari kedatangan presiden. Pasalnya, anjungan “kota naga” itu dijadwalkan akan dikunjungi presiden sesuai SK Panitia PKA-5 Provinsi Aceh yang ditujukan kepada Bupati Aceh Selatan. SK itu bernomor TU/430/1842/2009, tertanggal 30 Juli 2009. Anjungan Aceh Selatan pun sudah beberapa kali diperiksa oleh pihak keamanan untuk memastikan bahwa Presiden SBY memang akan memasuki anjungan tersebut. Karpet sepanjang 25 meter pun sudah disediakan oleh panitia kabupaten penghasil pala itu untuk tempat berjalan presiden beserta rombongan, sesuai permintaan protokoler.

Nah, jika kita cermati semua itu, panitia provinsi terkesan tidak menghargai kerja keras orang lain. Maka hemat saya, menjadi wajar anjungan tersebut ditutup, meskipun sebenarnya tidak harus sampai buka baju segala. Artinya, anjungan itu ditutup bukan hanya karena batalnya kunjungan presiden, melainkan banyak hal atas perbuatan panitia provinsi. Karena itu, apabila Pemda Aceh Selatan dianggap telah melecehkan adat Aceh karena menutup anjungannya, lantas apa pula yang patut kita ungkapkan pada panitia provinsi yang mengebiri adat dari daerah lain? Semoga ke depan dapat diperbaiki, begitu kata orang pemerintahan. Wallahu’alam.

Penulis, alumni FKIP Unsyiah. Berdomisili di Banda Aceh.

About these ads

Filed under: Opini

3 Responses

  1. hikmah mengatakan:

    setuju. beotoi nyan. bahkan setelah kejadian itu, ada teman yang mengatakan bahwa kejadin itu bisa memunculkn kembali isu prov ALA ABAS. Prov memang memainkan sebuah permainan yang seharusnya tak pantas dimainkan.
    semoga semuanya bisa menjadi renungan untuk perbaikan ke depan. n bumi Serambi Mekkah ini akan aman n damai 4ever.

  2. ehsano mengatakan:

    alah… pat tamita panitia yg sempurna tat kerja…
    munyo herman yg kerja mungken lebeh parah lom…
    bek lage aneuk mit…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • Dua intelektual muda UIN Ar-Raniry akan wakili Aceh sbg pemakalah Seminar Memartabatkan Bahasa Melayu di Asean-II di Thailand @iloveaceh 8 hours ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: