Suara Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kali Ini, Pesan Itu Kali

Cerpen Herman RN

[Sumber: Serambi Indonesia, 22 Januari 2012. Ini adalah edisi sebelum masuk ke redaksi]

Remuk! Sungguh, kali ini Buyung merasa hilang bentuk, selepas mendapat serangkai pesan lewat media fesbuk. Bagi Buyung, kabar dalam rangkaian pesan itu sangat buruk, hingga membuatnya jauh terpuruk.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Purnama Bersinar Siang

Cerpen : Herman RN

KUAWALI hari ini dengan sebuah tulisan, seperti pagi yang mengawali hitungan hari dengan bening embun di pucuk-pucuk daun, tapi raja segala energi selalu membiaskannya. Bunga-bunga layu kepanasan, daun pun terkulai melambai bumi. Burung-burung melintasi horison, sesekali cemburu melihat kumbang bermain di merekahnya merah mawar. Awan masih bersama mengarung angkasa, tak hendak berpisah. Saat itulah kuawali hari ini dengan sebuah tanya, “Ada apa gerangan dengan diriku hari ini. Mengapa aku ingin sekali bertemu dengan dirinya?”

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Kek, Ini Kitab Bertulis Namaku

Cerpen Herman RN

[Serambi Indonesia, 28 November 2010]

MASIH melekat erat dalam ingat tentang seraut wajah tua pucat lagi keriput-kerat hingga jelas terlihat bentuk urat-urat yang menggurat paras nyaris seabad itu belasan tahun lewat. Kendati ia telah dipanggil Sang Hujarat, Tuhan penguasa jagat, masih tetap kuingat senyum yang mengambang ikhlas tapi berat tatkala ia, kakekku, sempat menyusun abjat, menyebut-menyebut namaku, menjelang ia mengakhiri hayat.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku

Herman RN

[Sumber: Cerpen Kompas, 8 Agustus 2010]

SUATU malam dia datang ke rumahku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengelana yang berasal dari jauh. Katanya, ia datang ke kampung kami untuk mengadu nasib sebab di kampungnya dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Pemuda Dala-é

[Serambi Indonesia, 13 Juni 2010]

SUNGGUH mereka pemuda yang beruntung. Karena punya suara sangat merdu menghantam belenggu si nyamuk serdadu. Suaranya mendayu mengalahkan gaung jangkrik yang terkadang pilu. Semula aku heran, apa yang ditukikkan mereka dengan alat pengeras suara pula, di menasah pula, dan beramai-ramai pula.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

T A M U

Cerpen Herman RN

Interior rumah yang sederhana. Sebuah meja di ruang tengah diapit dua kursi pendek. Sebuah lampu teplok tergantung di dinding. Sebuah lagi di atas meja. Sebuah poto anak lelaki berwarna klasik menghias dinding dari terpas rumbia itu. Seorang pemuda berpakaian mentereng terlihat sedang menikmati makanan di atas meja. Suasana malam dengan penerangan lampu minyak, menambah kilauan baju batik pemuda itu. Melihat pakaiannya, caranya makan, pemuda ini tak layak jadi penghuni rumah. Lain halnya dengan seorang ibu paruh baya yang sedang menampi beras di atas kursi panjang sebelah pojok, pakaiannya yang sudah usang itu memperlihatkan kalau ia memang pemilik rumah. Juga seorang gadis yang tengah memanaskan sesuatu di tungku, ia layak menjadi penghuni rumah sempit ukuran tiga enam itu. Tidak seperti lelaki yang sedang menyantap makanan.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Pesan yang Tak Sempat Terkirimkan

Cerpen Herman RN

[sumber: Serambi, 18 April 2010]

SUNGGUH sialan! Berbilang bulan berganti tahun hingga hitungan genap pada angka delapan, penantian hanya jadi sebuah kepura-puraan. Kali ini menimpa Buyung, seorang lajang dari Kampung Lamkutang yang memetik kecuraman dari Upik, dara yang tak pantas disebut jalang, yang berasal dari kampung sebelah kemukiman.

Selepas kepergian Upik ke perantauan demi cita-cita dan ilmu pengetahuan, Buyung bujang mencoba setia pada kebujangannya hingga masa sampai keharusan melepas lajang, ia tetap masih menjadi bujang. Tatkala kini usia Buyung sudah sangat matang untuk tidak lagi setia pada status lajang, bergudang cara dan aral melintang ia lewati demi mencari jalan agar dapat bertemu pandang dengan si Upik yang dikiranya juga masih lajang.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Kue Adat

Cerpen Herman RN

Pat gulipat orang-orang merapat bersesak erat di ruang bersekat ukuran empat kali empat itu. Kabarnya, ada kue yang sangat memikat, dibungkus kertas mengkilat, cukup untuk mendirikan gedung bertingkat. Kertas balutnya, sudah ditandatangani oleh pejabat negeri, pertanda sah kue adat untuk dibagi-bagi. Maka, serupa pawai takziah di rumah orang mati, perempuan dan laki mencari bagi. “Kita ada jatah untuk kue itu,” kata seorang lelaki yang kepalanya tanpa rambut lagi.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

JANDA

Cerpen Herman RN

jandaSungguh sangat beruntung janda itu. Meski hanya tinggal berdua dengan anak gadisnya yang masih belia, setiap hari ada saja orang yang datang melihat keadaannya. Orang-orang yang datang itu terkadang membawakan beras, minyak tanah, minyak makan, makanan ringan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan pernah seorang lelaki berdasi memberikannya jilbab sekaligus dengan baju.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Prahara di Panggung

Cerpen Herman RN

dialog dengan wagubIni bukan kali pertama lelaki itu berdiri di atas mimbar. Ia sudah sering berorasi di panggung, seperti lima tahun lalu saat ia pertama sekali bergabung di salah satu partai politik, atau sembilan tahun silam saat ia masih tercatat sebagai mahasiswa di perguruan tinggi ternama di kotanya. Kala itu, ia sempat beberapa kali memimpin aksi demonstrasi mahasiswa. Seperti saat itu, kali ini pun, di panggung ia masih berkeringat meskipun sudah sering berorasi. Peluh bercucuran di dahi lelaki berkumis tipis itu, lalu meleleh ke pipi dan lehernya. Setetes demi setetes peluh itu ada juga yang jatuh menyentuh lantai panggung. Badannya kuyup.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Cerpen

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

KATEGORI

SIMPANAN

Anda Pengunjung

  • 289,752 hits

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang pula kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di katapelangi@yahoo.co.id . Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.