Suara Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ibu, Sederhananya Kau

Catatan Herman RN

Apa pendapatmu tentang “ibu”? Mungkin ia hanya dipandang sebagai perempuan biasa, yang terlahir dengan keadaan biasa. Ia muncul dari rahim seorang perempuan pula, kendati dalam proses kejadian, konon perempuan diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Surat kepada Adik

Menulis surat kepada pemimpin, mulai tingkat universitas sampai dengan kepada presiden, agaknya sudah menjadi tren masa kini. Biasanya, penulisan surat kepada pempimpin itu dilakukan menjelang suatu even semisal pemilihan atau untuk mendukung suatu kegiatan.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Luar Biasa!

oleh Herman RN

MUNGKIN bagi sebagian orang, diundang ke sebuah acara apalagi hanya kegiatan kebudayaan, adalah hal biasa. Kendati sudah di atas panggung pun, mereka akan mudah mengatakan “Biasa saja.”

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Bukan Sekadar Ngobar

“Ngopi kita ntar malam?”

Begitu SMS yang kuterima siang tadi. “Ok. Di tempat biasa ‘kan?” balasku kemudian.

“Kita ganti posisi sesekali. Di jalan Chik Dipineung ada warkop baru. Kayaknya wifi-nya kencang.”

Kesepakatan pun terjadi. Aku dan dia, temanku itu, ngobar—ngopi bareng—di warung kopi baru dimaksud. Bersama kami malam ini, sudah berkumpul pula dua teman lainnya. Tiga di antara kami berempat sudah membuka laptop masing-masing, sedangkan satu lagi tidak bawa laptop.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

UN untuk Pengawas

oleh Herman RN

Hari ini, 18 April 2011, Ujian Nasional (UN) kembali digelar secara serentak di seluruh Tanah Air. Seperti tahun lalu, UN untuk SMA/sederajat tahun ini pun, saya dipercayakan mengawas pengawas. Maksudnya, menjadi tim pengawas independen yang bertugas mengawasi guru pengawas di sekolah tempat berlangsungnya UN.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Surat Lebaran

Herman RN

Lama sudah kutidak berkirim surat kepada ayah, ibu, atau nenek. Mungkin sekitar sewindu lalu surat terakhirku, yang mengungkapkan kesedihan sekaligus kekesalanku pada nenek, karena tidak mengabari sakit makcik. Tatkala kudapati makcik sudah menghadap-Nya, saat itulah kusurati nenek dan sanak famili. Kuluahkan kekesalanku di kertas double folio hingga empat halaman, kala itu.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Dia Menangis Seusai Musikalisasi

Guruku, izinkan kusampaikan isi hati ini yang aku sendiri tak tahu harus menamakannya apa: sedihkah, senangkah, gundahkah, resahkah, bencikah, atau apalah. Jelasnya, ini isi hatiku setelah apa yang terjadi petang tadi, Selasa (22 Desember 2009).

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Sabar, Kendaraan Mudik

oleh Herman RN

Lumrahnya orang banyak, saya juga mudik setiap menjelang lebaran. Idul Fitri tahun ini saya mudik pada malam 27 Ramadan atau tiga hari menjelang lebaran.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Selepas Senja di Ulee Lheue (3)

oleh Herman RN

Selepas mereguk segelas kopi Uleekareng di warkop Apa Kaoy, saya dan teman saya beranjak mencari makan malam. Kami makan di nasi uduk Peunayong. Selanjutnya, kembali menuju ‘rumah Tuhan’ untuk ibadah isya. Selesai salat isya, kami tak langsung pulang, melainkan ke Taman Sari. Di taman yang letaknya persis di depan Kantor Walikota Banda Aceh itu sedang berlangsung acara peringatan Hari Jadi Kota Banda Aceh. Aneh mungkin, hari jadi Kota Banda Aceh sebenarnya April, tetapi acara perayaan HUT tersebut digelar walikota pada akhir Mei hingga 2 Juni nanti. Puncak perayaan HUT itu, yang disebut-sebut mengembalikan peradaban kebudayaan Aceh, adalah pemilihan “Agam-Inong Aceh” yang pesertanya dari anak-anak SMA. Program pemilihan “putra dan putri terbaik” Aceh ini punya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Lagi-lagi aneh, program kebudayaan kok malah pemiliihan putra-putri, seperti miss Indonesia saja.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Selepas Senja di Ulee Lheue (2)

oleh Herman RN

Senja telah kami lepaskan di Ulee Lheue. Selesai menjenguk Tuhan di mesjid saksi tsunami itu, kami beranjak ke arah pusat kota Banda Aceh, arah Mesjid Raya Baiiturrahman. Tanpa terasa, perjalanan kami sampai pada sebuah warung kopi (warkop) di pinggir jalan. Warung kopi itu milik Apa Kaoy, seorang seniman tutur di Banda Aceh. Ia membuka warkop di sana sekitar satu bulan lalu, yang peresmiannya dihadiri segenap seniman, penulis, dan budayawan Aceh.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Memory

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

KATEGORI

SIMPANAN

Anda Pengunjung

  • 289,752 hits

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang pula kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di katapelangi@yahoo.co.id . Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.