Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

>> Anak yang Menggambar di Tepi Laut

Cerpen Herman RN

pantai.jpgAnak itu masih kecil. Usianya seusia anak sekolah dasar, tapi dia tidak sekolah dan tidak pernah ke rumah sekolah. Setiap hari dia hanya ke tepi pantai. Sesampainya di tepi pantai, dipandanginya ke tengah laut. Setelah itu dia menggoreskan sesuatu di pasir. Sebuah gambar wajah manusia. Saban hari seperti itu.

Setelah mata hari hampir masuk ke peraduan, anak itu baru pulang. Meski tidak pernah sekolah, anak itu bisa menggambar. Saban hari dia menggambar di pasir di salah satu pantai di kampungnya.
Saban hari dia seperti itu, datang ke laut, memandang ke tengah, lalu pulang. Hari ini dia masih berdiri di tepi bibir pantai Paleeh. Ujung kakinya sesekali dijilati ombak yang memecah di bibir pantai. Anak itu melihat ke laut lepas tanpa memejamkan mata sepicing jua, padahal cahaya mata hari yang memantul di permukaan air cukup menyilaukan. Tatapan anak itu kosong, menyapu luas seluas biru laut. Sejenak kemudian dia meraih sebilah ranting yang ada di sekitar tempat dia berdiri, lalu dia mencoret-coret pasir dengan bilah ranting itu.
Sekejap kemudian terlihatlah sesosok wajah di atas pasir. Wajah itu perempuan, terlihat dari bola mata yang digambar anak itu sedikit bulat dan alisnya melentik. Tambah lagi rambut wajah di pasir itu tergerai panjang melewati bahu. Di telinga wajah itu ada antig-anting. Jelas sekali itu wajah seorang perempuan. Hanya wajah. Anak itu tidak menggambar tubuh, dia berhenti setelah menggambar wajah saja.
Anak itu berhenti sesaat mencoret-coret pasir. Ditatapnya gambar yang baru saja dibikinnya. Tiga jemari kirinya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Beberapa butir pasir nyelinap di balik rambut anak itu. Matanya sedikit dipicingkan melihat hasil gambarannya. Sekejap kemudian anak itu kembali mencoret-coret sesuatu di atas wajah gambarannya. Dibubuhinya sebiji titik di dagu wajah di atas pasir. Tentunya itu sebuah tahi lalat.
Anak itu tersenyum melihat hasil gambarannya. Ditinggalkannya gambar wajah itu, dia melangkah dua langkah ke tepi pantai. Kembali dia menatap ke laut. Pandangannya jauh ke tengah, lebih jauh dari semula, seperti menembus tujuh lapis kaki gelombang yang berdiri tegak.
Sebutir air jatuh dari balik kelopak matanya yang bulat. Air itu berbulir sangat bening. Dia membiarkan saja air itu menjalari pipinya dan jatuh di pasir tepat di ujung jemari kakinya. Tak sepicing jua ia memejamkan mata meski bola mata itu terasa berat dan ingin mengatup.
Mata hari perlahan merangkak mendekati garis batas laut di tengah. Cahayanya mulai merah jingga. Anak itu berpaling ke belakang, ke tempat gambarnya tadi. Dilihatnya wajah di pasir itu tinggal sebagian. Itu pun tak beraturan lagi. Laut telah menjilat gambar anak itu sehingga tak berwujud seperti semula.
Dia menjongkok. Disapunya pasir di depannya dengan telapak tangannya hingga gambar wajah yang digambarnya tadi hilang sama sekali. Diketepikannya ranting-ranting di sekitar tempat itu. Setelah bagian pasir di depannya itu rata, tampak bersih dan rapi, dia kembali mencoret-coret sesuatu. Anak itu kembali menggambar sesosok wajah di pasir yang sudah dibersihkannya dengan telapak tangannya. Tapi kali ini bukan wajah perempuan. Dia menggambar wajah lelaki. Ada coretan kasar di atas bibir wajah yang diagambarnya itu. Kumis yang sangat tebal.
Anak itu berhenti sejenak dan menatap hasil gambarannya. Ah, masih ada yang kurang, batinnya sambil berpikir kekurangan pada gambarannya. Dia kembali jongkok dan menggambar sebuah senjata laras panjang. Senjata itu digambarnya tersemat di belakang pundak sosok lelaki. Kini wajah di pasir itu tampak seperti seorang tentara. Meski anak itu tidak menggambar tubuh dan baju seragam di wajah lelaki yang digambarnya, wajah itu tetap terlihat seperti tentara yang sedang memikul senjata laras panjang.
Dia tersenyum sesaat melihat hasil gambarannya. Mimik wajahnya tiba-tiba berubah bengis. Digigitnya giginya rapat-rapat hingga mengeluarkan bunyi gemeretak. Dipijaknya gambar di pasir itu berkali-kali. Dia melompat-lompat di atas wajah yang baru saja selesai digambarnya sambil menyumpahlaknat. Dengan jempol kakinya gambar wajah itu disilang-silangnya. Wajah di pasir itu hancur oleh garis silang-sali tak karuan. Anak itu terus mengumpat-umpat sambil menekan-nekan pasir yang bergambar wajah sesosok lelaki berkumis tebal dan menyandang senjata. Pasir itu akhirnya berlobang-lobang membentuk bekas tumitnya.
Anak itu berhenti melompat, tapi mulutnya masih mencerca sambil meludah di atas pasir bekas gambarannya. Tak ada lagi gambar wajah di pasir, kecuali gelombang-gelombang kecil bekas tumit anak itu. Pasir itu pun sekarang tampak kasar. Anak itu kembali meludah, lalu menarik napas dalam-dalam. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu menghempaskan napas kuat-kuat seperti orang bersin. Anak itu diam berdiri terpaku beberapa detik.
Dia kembali melangkah ke arah laut. Mata hari semakin merunduk dan hampir menyentuh permukaan laut. Alam mulai gelap. Satu per satu bintang bermunculan redup di langit. Anak itu masih di sana, di pinggir pantai Paleeh sambil terus menatap ke tengah laut.
Dia tidak mempedulikan air laut menjilati ujung kakinya dan meninggalkan beberapa biji buih di sela-sela jemari kakinya. Buih-buih itu nanti kan hilang juga, pikirnya.
Ombak laut semakin besar. Batas pecahnya pun semakin melebar ke tengah pantai. Anak itu menjauh dari bibir pantai. Dia mengambil tempat sedikit ke belakang. Sesampainya di belakang, anak itu kembali menggambar di atas pasir menggunakan bilah kayu tadi yang belum dilepaskannya.
Sekarang dia bukan menggambar wajah, tetapi rumah. Anak itu menggambar sebuah rumah panggung. Rumah itu dibuatnya memiliki jendela dua buah dengan sebuah pintu. Hanya satu pintu. Tengah asyik menggambar, tiba-tiba pecahan ombak laut sampai ke tempatnya. Gambar rumah itu pun rusak disapu air laut. Anak itu berpindah ke tempat yang lebih jauh dari bibir pantai. Di sana dia kembali menggambar rumah yang tadi tak sempat selesai. Ketika baru selesai membuat jendela, pecahan ombak laut kembali sampai ke tempat anak itu, dan gambarnya pun kembali rusak disapu air.
Anak itu diam sejenak. Ditatapnya laut yang baru saja kembali surut ke tengah setelah merusak gambarannya. Anak itu bergeser menjauh dari bibir pantai. Kali ini dia bergeser tiga langkah. Ombak laut pasti tidak sampai ke sini, pikirnya.
Setelah membersihkan pasir di depannya dengan tepi telapak tangan, dia kembali menggambar rumah. Seperti perkiraanya, pecahan ombak laut tidak sampai ke tempatnya sekarang. Anak itu akhirnya menyelesaikan gambar rumahnya. Dia tersenyum sambil mencibir ke arah laut.
Biasanya setelah senyum kepuasan seperti itu, dia langsung meninggalkan pantai, tapi kali ini tidak. Anak itu duduk di sebelah gambar rumahnya. Dia duduk sambil membelakangi laut. Kakinya mengangkang melingkari gambarnya. Cahaya bulan jatuh tepat di atas kepala anak itu. Dia masih di sana menjaga gambarnya hingga tertidur di samping gambar rumah itu.Pelabuhan Ulee Lheu ‘07

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: