Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Seni Tutur PMTOH dan Realisme Aceh

oleh Herman RN

Karya sastra, baik lisan maupun tulis selalu memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata. Meski cerita yang dipaparkan adalah fiksi, tidak tertutup kemungkinan kepastian-kepastian dalam kisah pernah terjadi di alam sungguhan. Seseorang menciptakan sebuah karya melalui imajinasinya bisa berdasarkan pengamatan, hayalan, atau rekaan, yang hasilnya tidak melenceng dari kemauan pencipta karya tersebut. PMTOH adalah salah satu karya sastra lisan yang terdapat di Nanggroe Aceh Darussalam. Karya sastra ini berbentuk seni tutur. Masyarakat Aceh di samping mengenalnya dengan kesenian PMTOH juga menamai kesenia itu dengan pohaba, meuhaba, hikayat. Masyarakat Aceh Selatan menyebutnya dengan bakaba. Penamaan PMTOH pada kesenian tradisi ini diambil dari salah seorang tokoh yang memomulerkan kesenian ini. Adalah Teungku Adnan, salah seorang yang pandai dan sering membawakan kesenian tutur ini dalam masyarakat Aceh pada masa hidupnya. Tgk. Adnan sering keliling dalam memomulerkan kesenian meuhaba. Pada saat keliling beliau menggunakan mobil PMTOH, sebuah mobil daerah Aceh yang rutenya lintas Sumatra. Mobil tersebut memiliki terompet yang terletak pada kiri kanan mobil. Setiap melintasi perkampungan penduduk, mobil itu akan membunyikan terompet yang suaranya sangat keras dan khas di telinga orang Aceh. Ketika memainkan kesenian meuhaba, Tgk. Adnan sering menyontohkan bunyi terompet mobil PMTOH dengan memencet hidungnya. Bunyi suara Adnan sangat mirip dengan suara terompet PMTOH. Oleh karen dua alasan ini akhirnya Tgk. Adnan terkenal dengan gelar Adnan PMTOH Kesenian yang dibawakannya dikenal orang-orang dengan kesenian PMTOH. Akhirnya sampai sekarang ini, jika masyarakat Aceh mendengar ada orang yang akan main hikayat, nama Tgk. Adnan selalu dikait-kaitkan meskipun beliau sudah meninggal dunia tahun yang lalu. Dalam kesenian PMTOH termuat narasi, mantra, syair, dan pantun, yang kesemuanya itu performance seni tradisi. Tukang cerita atau pemain bisa bertindak sebagai narator, juga sekaligus sebagai tokoh dalam cerita. Uniknya, pencerita bisa menjadi tokoh apa saja dengan jenis kelamin berbeda pula. Kebiasannya ketika pencerita hendak berubah dari satu tokoh ke tokoh lain, dia mengubah suaranya atau kostum yang dikenakan. Misalkan dari seorang pedagang yang berpakain biasa hendak menjadi seorang raja, pencerita mengenakan pakaian kebesaran raja atau simbol-simbol yang menunjukkan bahwa dia sekarang sudah menjadi raja. Tentunya properti sangat mendukung kelancaran cerita. Dalam karya sastra PMTOH ada sebuah naskah yang sangat terkenal pada masyarakat Aceh, yaitu cerita Malem Diwa. Cerita ini sangat panjang, bisa sampai tujuh malam untuk menghabiskan cerita, dan inilah yang akan dilakukan si tukang cerita. Jika cerita ini dipotong atau tidak habis diceritakan akan memancing penasaran bagi pendengar, sehingga terkadang dalam sebuah pertunjukan, seorang pemain PMTOH diminta waktu sampai tujuh malam bercerita. Sudah menjadi kebiasaan, cerita yang disajikan dalam naskah PMTOH menggambarkan kehidupan dan watak masyarakat. Sehingga kisah yang diceritakan diyakini masyarakat benar-benar ada di alam sungguhan. Misalkan saja dalam naskah Malem Diwa. Malem Diwa merupakan seorang tokoh yang berasal dari Aceh Selatan. Dia menyukai Putri Bungsu (anak raja Linge) berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Karena kegigihannya, Malem Diwa berhasil mendapatkan cinta Putri Bungsu. Akan tetapi Raja Linge tidak setuju kalau anaknya menikah dengan Malem Diwa karena tidak sederajat. Putri Bungsu pun dikurung ayahanda di Takengon dengan pengawalan yang super ketat dan hendak dinikahkan dengan orang yang sederajat, yaitu keturunan raja juga. Karena Malem Diwa sangat mencintai Putri Bungsu, dia berhasrat merebut Putri Bungsu dari pengawalan Raja Linge. Malem Diwa yang berasal dari Aceh Selatan memiliki taktik juang yang sangat hebat dan ilmunya cukup tinggi. Mungkin karena inilah orang Aceh Selatan diasumsikan mempunyai ilmu magic yang termahsyur ke seluruh Aceh sampai sekarang. Ketika mendengar Putri Bungsu hendak dinikahkan dengan orang lain, Malem Diwa menyamar sebagai orang tersesat yang luka-luka. Dia tinggal di sebuah gubuk pinggiran kampung. Tersebutlah Banta Ahmad, anak Malem Diwa dari Putri Bungsu. Melihat orang yang luka-luka lagi tinggal di gubuk, Banta Ahmad merasa kasihan. Kesempatan itu digunakan Malem Diwa untuk mengambil hati Banta Ahmad dengan mengajarinya ilmu agama dan bela diri. Lama kelamaan Banta merasa manja dengan Malem Diwa dan sulit melepaskannya. Setelah yakin kemahiran Banta Ahmad, suatu hari Malem Diwa membujuk Banta Ahmad untuk menyerang pasukan pangeran yang hendak menikahi Putri Bungsu. Malem Diwa mengatkan bahwa pangeran itu bermaksud jahat pada keluarga Putri. Pergilah Banta Ahmad ke negeri Pangeran. Ketika Banta Ahmad membuat kekacauan di istana pangeran, tersebar berita sampai ke kerajaan Raja Linge. Raja Linge mengerahkan pasukannya membantu negeri pangeran. Kesempatan ini digunakan Malem Diwa untuk mencuri Putri Bungsu. Ending cerita, akhirnya Putri Bungsu berhasil didapatkan Malem Diwa dan Banta Ahmad akhirnya mengetahui kalau yang mengajarinya ilmu agama dan ilmu bela diri sesungguhnya adalah ayahnya sendiri. Hikayat ini sangat diyakini masyarakat Aceh pernah terjadi pada zaman dahulu kala. Watak orang Aceh yang keras kepala digambarkan pada tokoh Malem Diwa yang sangat gigih untuk mendapatkan Putri Bungsu. Sebuah realita, orang Aceh memiliki kebiasaan, ‘apa yang diinginkannya harus didapatkan meski dengan seribu cara dan harus menumpahkan darah’. Juga pada tokoh Banta Ahmad digambarkan watak orang Aceh. Pasalnya jika orang Aceh sudah berhasil direbut ‘hatinya’, apa pun akan dilakukan untuk orang tersebut, namun jika hati dilukai, dia pun akan melakukan apa saja untuk membalas luka tersebut, seperti hadih maja, Ureueng Aceh, menyeoe ka teupeeh, bu leubeeh hanya meuteumee rasa, menyoe hana teupeeh, boh kreeh jeut ta raba (Orang Aceh, kalau sudah tersinggung, nasi sisa pun tidak akan diberikannya, kalau tidak tersinggung, alat vital boleh diraba). Begitulah banta Ahmad, hatinya telah ‘direbut’ Malem Diwa, sehingga Banta rela memerangi pangeran, orang yang dijodohkan kakeknya untuk ibunya. Kepergian sang truobadur PMTOH membuat kesenian PMTOH sudah mulai memudar dari ranah sastra lisan Nanggroe Aceh Darussalam, padahal masyarakat sangat merindukan cara bertutur kesenian tersebut. Yang sangat saya takutkan, pudarnya kesenian ini pudar pula hikayat yang lantang. Hilangnya hikayat lantang sangat ditakutkan Aceh pun kehilangan realismenya. Oleh karena kesenian adalah bagian dari kebudayaan, dan budaya adalah cerminan sesungguhnya manusia dan daerahnya, jangan sampai Aceh kehilangan marwah karena pemerintah mengabaikan perkembangan seni budaya di ranah Serambi ini.

Herman RN, lahir di Aceh Selatan, 1983. Cerpenis, pegiat kebudayaan, dan tukang cerita PMTOH Aceh Modern.

Iklan

Filed under: Essay

5 Responses

  1. rahman berkata:

    bingung neh.. malem diwa ketemu ama anaknya banta ahmad..banta ahmad anaknya dari putroe bungsu.. ketemunya waktu malem diwa nyamar n belon kawin….. anak dari mana tuhhhhhhhhhhhhhhhhh…………. halo. banta ahmad anak kedua malem diwa.. anak pertama namanya raja ahmad.. sebenarnya raja ahmad bukan anak kandung.. karena malem diwa lama tidak punya anak.. malem diwa adalah raja di salasari atau samudra pase.. beliau yang berperang dengan gajah mada.. mengirimkan kepala gajah mada ke hayam wuruk.. pernah dengar hikayat tak geureuda.. itu ibarat perang dengan majapahit yang memakai simbul burung garuda. simbul yang kita puja sekarang…

  2. lidahtinta berkata:

    Terima kasih atas perbaikannya. Maaf, kalau ada kekeliruan
    salam

  3. MARMUS berkata:

    BOS ; Tolong Telusuri Kembali, fakta malem Diwa jangan sajikan info yg bisa menyesatkan fakta2 yang ada:
    Malem Diwa merupakan seorang tokoh yang berasal dari Aceh Selatan. Dia menyukai Putri Bungsu (anak raja Linge) berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Karena kegigihannya, Malem Diwa berhasil mendapatkan cinta Putri Bungsu. Akan tetapi Raja Linge tidak setuju kalau anaknya menikah dengan Malem Diwa karena tidak sederajat.

  4. lidahtinta berkata:

    Yup. Anda benar. Terima kasih fakta yang sudah dipaparkan.

  5. vikievendri berkata:

    nyan that bahaya trok raba “tiiit”, bek raba2 “tiiit’ lon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: