Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

ANEH

Oleh Herman RN

Hari ini, Selasa, 26 Desember 2006. Pagi yang cerah. Aku keluar rumah setelah menyelesaikan komik ‘Tulak Bala’ yang akan kuserahkan ke Munir IAIN. Tujuan pertamaku adalah bengkel Lingke. Aku akan memperbaiki motorku di sana. Sesampainya di bengkel itu, selama 10 menit aku menunggu, tapi awak bengkel sibuk dengan ekerjaannya masing-masing.
Sepuluh menit berlalu, baru aku ditegur oleh pemilik bengkel.
“Lampunya macet, kadang nyala, kadang ngga.” Ucapku.
Tukang bengkel pun mengutak atik setang motorku. Beberapa saat kemudian, “Rumah sakelarnya harus dihanti!” kata tukang bengkel.
“Berapa kena, Bang?”
“Rp 55000.-”
“Ngga bisa kurang, Bang?”
“Udah pas itu.”
Aku menunggu motorku diperbaiki, tapi sudah lima menit berlalu, motorku didiamkannya saja. Akhirnya kunaiki sepeda motor Grend itu, aku menuju Darussalam.
Sesampainya di salah satu bengkel Darussalam, tepatnya di samping wartel Malem Diwa, kuletakkan motorku.
“Bang lampunya macet.” Kataku.
Seorang awak bengkel seusiaku menguta atik motorku. Seperti di bengkel Lingke tadi, awak bengkel ini pun berkata kalau rumah sakelarnya harus diganti.
“Kena berapa?”
“Rp 37.000.- dengan ongkos.”
“Ngga bisa kurang?”
“Memamg segitu, karena kita harus bongkar setang dan remnya lagi.”
“Ya sudah kalau begitu. bikin saja.” Kataku sambil mengambil tempat duduk di kursi panjang yang disediakan memang untuk pasien bengkel.
Kira-kira setengah jam aku duduk menunggu motorku diperbaiki. Begitu selesai kubayar ongkosnya. Lalu aku pamit. Baru beberapa langkah aku menjalankan motorku, ketika hendak berbelok ke arah kanan, sebuah sepeda motor Astrea Star melintas, padahal sebelumnya aku tak melihat kalau ada kendaraan di ujung jalan yang akan melintas. Kelihatannya motor itu sangat kencang dilarikan sehingga menabrakku. Aku terdorong ke depan. Syukur, tak jatuh.
Kuhentikan sepeda motorku di seberang jalan. Lelaki yang menabrakku tadi mendatangiku dengan muka garang. Aku gemetar. Deguup jantungku terasa sangat cepat. Aliran darahku tersendat.
“Abang kok ngga lihat-lihat jalan kalau mau motong?” ujarnya begitu tiba di depanku.
“Saya udah lihat ke kiri dan ke kanan, tdai tidak ada kendaraan, makanya saya berani motong terus. Abang sendiri ngebut, tiba-tiba nabrak saya.” Balasku.
“Gimana kreta saya ni? Rusak ni. Harus diganti.”
“Emangnya kreta abang rusak apanya.”
Lelaki itu memperlihatkan kepadaku depan motornya yang menurutku tidak lecet sama sekali. Motornya hanya kotor, pasti tidak dicuci, batinku.
Tiba-tiba seorang lelaki berbadan tegap, mengenakan baju kemeja putih abu-abu petak-petak, celana jeans, dan sepatu sport Eagle mendekati kami. Di balik topi pet merahnya terihat rambut panjang, tapi rapi.
“Ada surat kreta kau?” kata lelaki itu kepada orang yang menabrakku.
“Ada, Bang, tapi di rumah.”
“Di mana rumah kau?”
“Di beurabong.”
“Ini kreta siapa?”
“Kreta teman.”
“Kok kau yang bawa?”
“Pinjam sebentar, Bang.”
“Suratnya mana?”
“Di rumah, Bang.”
Kulihat kedua orang itu tegang. Aku memotong pembicaraan mereka dalam ketakutanku.
“Bang, kreta Abang ngga apa-apa?” tanyaku pada penabrak.
“Ngga, ngga apa-apa. Kreta Abang ngga apa-apa?” jawabnya lembut, tidak seperti semula dia mendatangiku.
Lelaki bertopi merah itu kembali bersuara tanpa mengacuhkan aku. “Kreta kau kok seperti ini? Ada suratnya?”
“Ada Bang, di rumah.” Jawab penabrak itu lagi.
“Coba kau miringkan kreta kau.”
Penabrakku tadi memiringkan sepeda motornya. Lelaki bertopi merah itu menggosok-gosok bawah mesin motor dengan sebilah kayu tipis yang diambilnya dari sekitar tempat itu. Ketika lelaki jongkok menggosok nomor rangka mesin motor, terlihat olehku kepala pistol menyembul dari kemeja petak-petaknya. Pistol itu berwarna putih metalik. Kupikir dia pasti inteligen polisi.
“Sekarang kita ke Polresta Jambo Tape.” Ujar lelaki bertopi merah selepas memeriksa sepeda motor yang menabrakku.
“Ada suratnya, Bang.” Kata lelaki penabrakku dengan suara takut.
“Kita ke Jambo Tapee sekarang!”
Lelaki yang ternyata benar adalah intel polresta NAD itu mendorong penabrakku sedikit ke depan, lalu dia naiki sepeda motor penabrak itu. Mereka pun berlalu dari hadapanku tanpa mengiraukan perasaanku yang galau. Saat itu aku merasakan takut, ngeri, nyeri, dan penuh tanda Tanya. Megapa intel polisi itu tidak menyapaku, atau menayaiku paling tidak. Meski demikian aku bersyukur. Sebab kalau mungkin dia bertanya padaku, aku barangkali pingsan karena ketakutan. Akhirnya kutinggalkan tempat itu dengan menghalau rasa takut.
Berjalan seratus meter, di simpang tiga Darussalam, aku belokkan motorku ke arah jalan utama. Aku berhenti sesaat di wartel Lisma Jaya. Di sana ada Yuli Sandra, temanku. Kepadanya kuceritanya perihal yang baru saja kualami tadi sambil menyimpan rasa nyeri.
Selesai menceritakan kepada Yuli, hatiku ternyata belum juga tenang. Aku masuk komplek KRH, di sana dulu aku pernah kos selama 3 tahun. Aku jumpai Kasman, bekas teman se-kosku. Kepada Kasman juga kuceritakan kejadian yang menurutku sangat aneh itu. Keluar dari rumah Kasman, aku hendak pulang ke kosku di Peurada Utama, tapi di depan warung Cek Lah, beberapa orang teman memanggilku, di antaranya ada Wak Hen dan Taslem. Aku berhenti di warung itu. Sempat kureguk segelas Kopi mik panas. Kepada orang-orang di warung itu aku kembali menceritkan perihal tadi. Selepas baru aku pulang.
Di simpang tiga Darussalam, aku berubah pikiran. Aku baru ingat kalau helmku tertinggal di bengkel. Aku belokkan motorku ke kiri. Sesampainya di bengkel tadi, kuambil kembali helmku setelah minta izin pada awak bengkel.
Aku masih belum hendak pulang. Aku datangi kampusku. Sesampainya di depan gedung FKIP, aku berpapasan dengan Bu Rostina Taib, dosen pembimbing skripsiku.
“Pak Herman, bisa tolong Ibu sebentar?” sapa Bu Tina.
“Bisa, Bu. Ada apa?”
“Bisa tolong ibu ngajar sebentar di Serambi Indonesia, Mata Kuliah Umum.”
“Kapan, Bu.”
“Besok pagi. Pukul setengah sembilan.”
“Ooo, maaf, Bu, besok Herman pulang kampong.” Jawabku dengan perasan bersalah karena telah berjanji bisa menolong beliau.
“Ya sudah, jangan lama-lama ya? Nanti skripsimu terlantar. Atau kamu mau kawin terus di kampong?”
“Ngga, Bu. Cuma sebentar, mau jenguk nenek yang kurang sehat.” Ucapku.
“Ya sudah, hati-hati.” Kata Bu Tina seraya berlalu ke ruang Lobi.
Aku kembali mengidupkan motorku. Kutancap gas pulang ke kos. Dalam hati aku berkata-kata. Ada apa dengan diriku saat ini? Bukankah selama ini aku cari pekerjaan mengajar? Sudah di depan mata, mengapa pula kubuang begitu saja? Terus dengan olisi tadi, mengapa dia tidak menanyaiku. Ketakutan dan keanehan itu kubawa dalam tulisan ini. Hingga coretan selesai, aku masih merasakan aneh terhadap kejadian hari ini.
O ya, sebelum tulisan singkat ini kututup, ada hal yang hendak kujelaskan sedikit kepada pembaca. Aku mau belanja sedikit, sebab besok pagi aku pulang kampong melihat nenek. Barusan Mira telpon, katanya mau menemaniku. Kepada Allah kumohon perlindungan, “Ya Allah, lindungilah selalu hambaMu ini. Selamatkanlah aku dan orang-orang yang kucintai di mana pu dan kapan pun ya Rahman.”

Peurada, 26 Desember 2006.
Pukul. 13:53 Wib.

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: