Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pendidikan

abu-nipah.jpgOpini ini dimuat di Serambi Indonesia, 16 Maret 2007
UN; Kegelisahan Guru dan Pasrah Siswa
Oleh Herman RN

Kegelisahan akan hadirnya Ujian Nasional (UN) yang hanya tinggal hitungan minggu menyelimuti seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta. Uji kompetensi praUN pun sedang marak saat ini di berbagai sekolah. Pencapaian taget nilai siswa yang tahun ini harus mencapai 5,01 menjadi kegelisahan banyak kalangan, termasuk lembaga-lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Banyak Bimbel membuat program intensif mengahadapi UN. Kecuali itu, mereka juga terkadang melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengadakan try-out menghadapi UN. Anehnya, yang susah bin gelisah adalah kalangan pendidik atau guru, sementara siswanya hanya pasrah pada keajaiban nasib.
Beberapa hari lalu, saya jalan-jalan ke salah satu sekolah di Aceh Besar. Kebetulan waktu itu sedang jam istirahat. Salah seorang guru di sekolah itu saya lihat sedang memberikan semangat kepada siswanya. Ini merupakan bukti gelisah sekaligus pesimis guru terhadap kemampuan siswanya. Akan tetapi ketika sang Guru menasehati siswa agar hati-hati menghadapi UN kelak, siswanya malah berkata, “Ibu tak perlu susah-susah, apa yang kami jawab nantinya, itu lah kemampuan kami. Terima saja apa adanya. Tuhan tahu kok apa yang terbaik bagi hambaNya.”
Mungkin, bagi saya ini adalah suatu hal baru ketika seorang guru berusaha membimbing siswanya agar tidak gegabah, tetapi siswanya malah menggurui gurunya. Tidak seperti yang kami (penulis) alami ketika sekolah dahulu. Ketakutan salah dalam menjawab soal ujian akhir membuat penulis seperti sedang berada dalam ‘kamar hantu’.
Yang menjadi kegelisahan penulis di sini, kemana perginya roh pendidikan di negeri ini? Siapa yang harus dipersalahkan? Apakah kita akan kembali mengkambinghitamkan Tsunami? Sementara kita sama-sama tahu, ada isu yang mengatakan, ujian nasional kali ini tidak ada ujian susulan. Bagaimana caranya agar roh pendidikan dan belajar kembali bangkit di tanah bekas kehancuran ini.
Kegelisahan paraguru dan sekolah ingin meningkatkan tingkat kelulusan siswanya adalah baik, tetapi jika kegelisahan itu hanya milik paraguru, penulis khawatir akan terjadi manipulasi kesekian kalinya dalam dunia pendidikan kita. Penulis harap semua kita masih ingat peristiwa tahun lalu yang dimuat oleh Aceh kita dan jangan sampai terulang tahun ini.
Waktu itu, karena ingin mengejar target kelulusan, banyak sekolah memanipulasi nilai hasil siswa. Beragam cara dilakukan demi nilai siswanya mencapai tingkat kelulusan yang ditetapkan dinas pendidikan. Salah satu cara, siswa hanya diberi kesempatan menjawab setengah dari seluruh soal, setengah lagi ‘digotongronyongi’ oleh paraguru. Jika hal ini kembali terulang, hendak dikemanakan wajah pendidikan kita tahun-tahun mendatang?
Dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat 9 mata pelajaran, seperti pendidikan Agama, Kewarganeraan, Bahasa, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Keterampilan dan Muatan Lokal.” Kelulusan siswa ditentukan jika semua mata pelajaran di atas dapat nilai baik. Secara teori semua mata pelajaran harus dikuasai seorang siswa agar ia dapat dinyatakan lulus dari ujian nasional. Akan tetapi yang menjadi target dan selalu dikejar-kejar parasiswa hanya tiga mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Nah, bagaimana dengan mata pelajaran yang lain, apakah hanya sekedar pendamping, sehingga dianggap sebagai sampingan?
Banyak orang beranggapan bahwa rendahnya mutu pendidikan di NAD adalah karena kesalahan guru. Mungkin karena rendahnya penguasaan guru terhadap bidang yang diajarkannya, atau karena masih kurang terpahaminya kurikulum berbasis kompetensi yang menuntut siswa aktif. Atau bisa jadi karena kasus seperti yang penulis paparkan di atas. Bukankah melakukan ‘gotongroyong’ menjawab soal dengan siswa merupakan suatu tindakan pembodohan? Sehingga imbas dari rendahnya mutu pendidikan selalu kepada guru.
Menurut penulis guru tidak selalu harus jadi kambing hitam. Pernah satu kasus penulis temukan di lapangan. Ketika itu di sebuah pasar, kebetulan pasar itu dekat dengan sekolah si anak. Seorang guru bertanya pada salah seorang orangtua siswa, mengapa anaknya tidak masuk sekolah pada hari ini. Pertanyaan singkat itu dijawab orangtua siswa dengan panjang lebar. Orangtua si anak menjawab, “jangan ibu marahi anak saya, jangan ibu pukul anak saya, biarkan dia seperti itu, kasihan dia, dia korban tsunami dan…”
Si guru yang mendapat komentar dari orangtua anak sepontan terperangah. Apakah salah jika pertanyaan tidak masuk sekolah itu dilontarkan oleh seorang guru? Bukankah ini suatu bukti eksistensi guru dalam kepeduliannya terhadap anak didiknya? Tapi si orangtua siswa tadi…?
Jika sudah sejauh ini seorang guru peduli dan khawatir terhadap siswanya, apakah guru masih dipersalahkan ketika siswa-siswinya nantinya banyak yang tidak lulus? Lantas beban yang diperbolehkan kepada seorang guru sebatas apa? Apakah guru bertugas hanya sebagai pengajar di depan kelas?
Kegelisahan guru teramat dalam demi tercapainya standar kelulusan UN. Setiap mata pelajaran boleh saja mendapat 4,00, asalkan dua mata pelajaran lagi dapat 6,00. Melihat kenyataan ini apa salah jika penulis bertanya pada pemerintah, dalam hal ini dinas pendidikan? Pantaskah sudah di Aceh standar nilai kelulusan UN dinaikkan sampai sekian, mengingat sarana dan fasilitas pendidikan kita sekarang?
Darussalam, 7 Mei 2006

Penulis, Mahasiswa FKIP PBSID Unsyiah,
Peminat masalah pendidikan dan sastra.

Iklan

Filed under: Opini

4 Responses

  1. Fidel berkata:

    Selamat ya atas blognya. Berbicara soal pendidikan memang hal yang sangat menarik. Mudah-mudahan pendidikan di Indonesia menemukan solusi terbaik dalam perjalanannya.

  2. Amel Tuurs berkata:

    Hallo,
    Lam kenal ya. Saya sudah menulis juga tentang kurikulim di Indonesia di blog saya. Kurikulum yang sampai sekarang belum stabil….

  3. Agus Wibowo berkata:

    anda juga bisa membaca tulisan-tulisan pendidikan di
    http://www.agus82wb.blogspot.com, atau http://www.agus82.wordpress.com. mohon saran-sarannya

  4. yokeiju berkata:

    Um…..:d he..he….jadi inget masa2 SMA ketika UN..yang terlintas di pikiran adalah….semoga luolos itu saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: