Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Air Mata Jeumpa

Cerpen : Herman RN

Sangat perlahan tetesan air itu menyapu bumi. Lembab. Tanah itu semakin berlubang. Kian lama semakin banyak tetesannya bagaikan gerimis dari langit. Tapi semakin lamban. Amat perlahan. Seberapa lama sudah tetesan itu aku belum tahu. Airnya begitu indah dan bening, hangat. Air itu ternyata berasal dari sepasang mata anak manusia, dari mata seorang gadis jelita. Kiranya sudah lama ia menangis sehingga tanah itu sudah menyerupai telaga mungil, tepat berada di bawah pagar teras rumah bertangga itu.
Rumah itu memiliki serambi sempit yang dipagari broti-broti kecil, tentunya broti itu bisa diduduki sambil menatap ke langit. Rumah yang berbilik-bilik. Makanya mereka menyebutnya bukan rumah melainkan barak. Di situlah gadis itu tinggal.
Sudah menjadi kebiasaan Jeumpa, gadis remaja 18 tahun itu menatap langit dari atas pagar teras bilik baraknya. Mungkin dia satu dari orang-orang yang suka melamun dari atas pagar rumah. Sudah 3 bulan jeumpa tinggal di barak pengungsian buatan salah satu NGO. Sebelumnya ia tinggal di Tenda- tenda pengungsian, sama seperti korban bencana lainnya. Jeumpa juga bagian dari korban gelumbang raya kemarin. Saat laut murka menjilat seisi kampung halamannya, Ia terpisah dari Ibu, Ayah, dan Adiknya. Sampai sekarang Jeumpa tak tahu nasib mereka.
Kebiasaan Jeumpa saat sore menjelang hanya menatap langit dari pagar serambi. Ada sesuatu yang tersimpan di balik tatapan senja berwarna jingga itu, meskipun kelihatan kosong. Tak lama berselang lamunan, pasti airmata mengambang dari balik kelopak yang memiliki bulu-bulu lentik itu. Lalu melintasi pipi dan kemudian jatuh ke tanah tempat biasa.
Jeumpa memang tak pernah merubah posisi duduknya. Setiap melamun ia pasti memilih tempat di pojok kiri pagar, hingga tempat itu sudah berbekas. Kayunya sudah licin melebihi diketam tukang rumah. Sudah menjadi kebiasaannya setiap sebelum azan Maghrib berkumandang melakukan hal itu.
Hari ini sudah lima belas hitungan bulan puasa Ramadhan tahun ini, Jeumpa masih setia duduk di tempat biasa menatap ke atas. Di atas matahari mulai berwarna merah dan sekejap lagi akan bersembunyi di balik gunung. Goresan jingga senja memantul dalam bola mata Jeumpa yang mulai memperlihatkan aksinya. Mata itu mulai lembab. Sekeliling kelopaknya lembam seperti bekas kana pukul, kemudian perlahan bening-bening halus mengambang. Dan seperti biasa menjelma airmata.
Memang tanah selalu jadi batas akhir sebuah perjalanan. Jeumpa amat sadar itu, makanya tak pernah ia menampung airmatanya. Padahal jika dikumpul selama bulan Ramadhan ini saja, barangkali sudah bisa buat mandi si bungsu Dekgam yang mengikuti jejak kedua orangtuanya dalam gelombang itu.
Setiap hari Jeumpa mengeluarkan airmata, namun matanya seakan menyimpan mata air yang tak pernah habis. Tak pernah kering. Ia tak ingat lagi kapan ia mulai jadi perempuan penanti senja dengan segenap jiwa yang terluka. Ia hanya tahu, ketika itu seminggu lagi akan menyambut bulan suci Ramadhan, Jeumpa duduk di atas pagar serambi rumah. Kemudian tiba-tiba saja mata itu mengeluarkan air, padahal sudah lama ia simpan karena tekatnya tak mau jadi wanita cengeng. Akan tetapi hal itu terjadi juga. Dan setelah awal itu, tiada sore yang terlewati tanpa airmata.
Ketika ia sudah duduk di situ, Jeumpa tak akan mendengar lagi suara panggilan yang selalu menegurnya ramah dari tetangga sebelah, ia tak melihat lagi ada anak-anak kecil yang berlari riang di halaman barak yang luas itu, semuanya kabur. Dalam pandangannya ia hanya mendengar suara Ummi dan Abi yang memanggilnya untuk segera mendekat. Ia hanya mendengar tangisan dan rengekan khas suara Dekgam yang manja. Lalu seolah Ia mencium bau bawang tergoreng dari dapur Ummi, bertanda Ummi sedang memasak masakan kesukaannya. Dalam tatapannya juga terlintas wajah-wajah teman sepermainannya, dan semua mereka yang pernah mereguk hari bersama ketika masih meghirup udara dulu.
Kini semuanya telah tiada, Jeumpa hidup sebatangkara di bawah barak pengungsian. Setelah kejadian demi kejadian tak putus-putus menimpa hidupnya. Semua yang ia cintai telah pergi, pergi untuk selama-lamanya.
Meski hari yang bahagia segenap umat islam hanya tinggal hitungan jari, hatinya semakin luruh dan hancur. Tak ada kebahagiaan di matanya menyambut hari kemenangan itu. Tak ada lagi baju baru menyambut lebaran ini, tak ada lagi sepatu hadiah dari Abi, tak ada lagi teman bercanda riang, tak ada lagi bakar-bakar lilin saat malam hari, sehingga tak ada lagi suara tangis. Padahal jika dalam sehari Dekgam tak menagis sebanyak tiga kali, Jeumpa akan mencari akal agar adiknya itu menangis. Jika sudah seperti itu ia akan dimarahi Abi dan mendapat cubitan kecil dari tangan Ummi yang ia sebut dengan ‘jepitan kepiting’. Jeumpa rindu jepitan kepiting itu. Mengingat semua itu, airmatanya semakin lebat, dan isakannya mulai terdengar di antara lenguh napas yang tersengal.
Semua berjalan sangat cepat. Ia ingat sebuah kejadian beruntun yang menimpanya. Ketika itu baru saja ia kehilangan nenek. Sebuah kejadian besar yang belum pernah terjadi dalam hidupnya menyusul pula. Protes dari alam, pikirnya, sehingga air laut naik mengambil semuanya, termasuk dua orangtuanya, juga Dek Gam tersayang. Hari-hari Jeumpa mulai murung, meski ia telah berusaha melupakan kejadian dahsyat itu. Geulumbang Raya tak cukup melahap orangtuanya, semua orang-orang yang dicintainya ikut serta bahkan rumah dan seisinya tiada sisa. Semua tercipta bagai padang mahsyar, rata jadi padang mayat dan reruntuhan. Semua masih jelas di ingatannya, sebuah ketakjuban dan ketakutan yang amat panjang buat penguasa. Tapi kadang ia juga berpikir, sudah mampukah cobaan ini ia pikul, sehingga Tuhan menjatuhkan padanya?
Lama ia merenung semuanya dan sering baru sadar saat hari sudah mulai sore, tepat ketika lantunan ayat suci berkumandang dari meunasah-meunasah. Sementara itu telaga mungil kian tercipta di bawah pagar serambi baraknya. Hidupnya sekarang hanya berbekal dari segenggam kasihan bantuan yang datang. Itu pun sering terlambat, bahkan pernah ia tak kebagian samasekali.
Airmata semakin membanjiri pipi Jeumpa ketika ia ingat satu hal tentang hari ‘meugang’, hari yang amat meyenangkan dan mengasyikkan. Tentunya banyak makanan di hari itu. Satu hal yang amat menyentuh ingatan Jeumpa, akankah ia dapati kembali ‘leumang’ di meugang bulan ini? Karena ia tak punya siapa-siapa lagi. Maka isak tangis semakin kencang ketika ingat hal ini. Sekarang tak ada lagi kegiatan yang sudah mentradisi itu di baraknya. Tak ada lagi ia cium bau daun pisang terpanggang dari balakang rumah pertanda ibu sedang masak leumang, tak ada asap mengepul tebal dari celah dapur. Semuanya yang ada hanya airmata. Entah sampai kapan hal ini berakhir, belum dapat ia taksir. Karena kuasa ingatannya masih pada orang tercinta dan segala kenangan yang pernah ada.
***
Darussalam, Akhir September 2005
Meugang ; sehari sebelum puasa/ lebaran.
Leumang ; masakan yang sering dibuat orang Aceh ketika hari meugang.
Herman RN, lahir di Aceh Selatan 1983
Pegiat kebudayaan di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: