Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

>>Menulis Untuk Teriak

Oleh Herman RN

Gila! Inilah kata yang terlontar dari hati saya ketika mengunjungi Seuramoe Teumuleh, sebuah tempat berkumpulnya sekelompok pemuda yang bergerak dibidang kepenulisan. Seuramoe Teumuleh merupakan sebuah program kerja BARAKA Perbukuan dan katahati institute.
Saya mengatakannya gila sebab kegiatan ini sangat diminati peserta. Panitia kegiatan ini mengumumkan dalam sebuah iklan untuk menerima 150 peserta di kalangan anak Aceh berusia 17 sampai 30 tahun, namun peserta yang mendaftar mencapai dua kali lipatnya.
Mungkin untuk daerah lain kejadian ini lumrah, tetapi di Aceh ini merupakan sebuah keistimewaan, ketika anak-anak Aceh mulai tersambar ‘petir menulis’. Dahulu, sebelum kesepakatan damai terjadi, memang ada juga anak Aceh yang suka menulis, tapi tidak seramai seperti sekarang. Mungkin saja suasana kala itu membuat mereka merasa terpasung, sehingga takut meluahkan perasaannya. Namun setelah MOU Perdamaian Aceh disepakati oleh pihak bertikai pada 2005 yang lalu, saya melihat anak-anak Aceh mulai menyukai dunia menulis. Barangkali ini bisa dikatakan ‘berontak’ dari bungkam.
Seperti kita ketahui, masyarakat Aceh sejak dahulu kala selalu merasa tertindas. Posisi rakyat sipil berada di daerah rawan serdadu bersenjata dan konflik berkepanjangan membuat rakyat biasa tak dapat berkata apa-apa. Ditambah lagi musibah mahadahsyat 26 Desember 2004, ketika tsunami datang menghentak, membuat orang-orang Aceh semakin diliput duka berkepanjangan.
Kita masih ingat peristiwa-peristiwa di masa konflik bersenjata antara tentara RI dan GAM yang membuat masyarakat merasa tertekan. Salah satunya masalah penemuan mayat tanpa identitas yang sudah menjadi menu mingguan atau bahkan harian di telinga masyarakat Aceh. Seorang bapak yang suka cang panah tentang penemuan mayat tanpa identitas itu di warung kopi serambi menyeguh dua potong pisang goreng, harus menghembuskan napas terakhir. Pasalnya, ada sekelompok orang bertanya pada bapak itu tentang mayat yang ditemukan di kali tanpa kepala. Sang Bapak memberikan jawaban apa adanya, namun dia harus mati. Seorang bapak lain memberikan jawaban bohong, dia juga mati. Dan bahkan seorang bapak yang tidak mau berkomentar apa-apa pun tetap harus kehilangan nyawa. Akhirnya orang-orang terpaksa membungkam, meskipun untuk berkata ‘ampun’.
Melihat kenyataan zaman konflik di atas, sebuah kewajaran bagi anak-anak muda Aceh ingin berteriak ketika kampung mereka dikatakan sudah damai. Salah satu teriakan itu mereka lakukan dengan menulis. Dengan menulis barangkali mereka dapat berteriak lantang seperti hikayat-hikayat yang dituliskan oleh orang-orang terdahulu.
Saya katakan anak-anak muda Aceh mulai ‘gila’ menulis, bukanlah sebuah tuduhan belaka. Hal itu dapat kita lihat dengan banyaknya pelatihan-pelatihan atau sekolah menulis diadakan di Banda Aceh. Bahkan sekarang, beberapa daerah lain di luar Banda Aceh juga hendak didirikan kelompok menulis untuk kamu muda.
Semula, ketika pelatihan-pelatihan menulis ini diterapkan di Banda Aceh, peminat masih kurang. Sekolah menulis ‘Do Karim’, misalnya, yang pernah dicetuskan Komunitas Tikar Pandan, salah satu komunitas pergerakan kebudayaan di Banda Aceh, dulu kekurangan peminat. Meskipun pendaftarannya gratis, tapi angkatan pertama hanya diikuti 15 orang. Pendaftar untuk angkatan kedua (2005) hanya kedatangan 16 orang, padahal pendaftaran dibuka selama satu bulan. Namun ketika dibuka angkatan ketiga (2006), jumlah pendaftar seratusan lebih. Ini artinya minat anak muda Aceh untuk menulis meningkat. Minat kepenulisan anak muda Aceh meningkat juga dapat kita lihat dari pendaftar di Seuramoe Teumuleh.
Contoh lain dapat dilihat dari semangat anak muda Aceh yang mengikuti sayembara menulis yang diadakan sekolah menulis ”Do Karim”. Lomba yang bertemakan “Perdamaian Aceh” itu telah menghasilkan 1.432 naskah dari seluruh Nanggroe Aceh Darussalam (Serambi Indonesia, 15 November 2006).
Hal ini merupakan sebuah keterkejutan di benak parapenulis senior di Aceh atau umumnya penulis di belahan Sumatra. Apalagi ketika melihat banyak pemenang dan nominator dari daerah-daerah yang dulunya dijadikan basis pertempuran senjata. Artinya, mereka yang dulunya ‘dihadiahi’ suara senjata, kini menyuarakan ‘senjata’ mereka lewat tulisan. Dewan juri yang merupakan penulis dan pengamat sastra di Aceh merasa terpukau dengan ide dan gagasan peserta lomba. “Sangat beragam, lantang dan tajam,” kata Fozan Santa, seorang penyair, esais dan penulis naskah film yang menjadi salah satu anggota dewan juri.
Dari kasus di atas, dapat dikatakan orang Aceh sekarang hendak berteriak, melepaskan kata-kata mereka yang sekian lama terbungkam. Dengan menulis orang merasa dapat meluahkan segala perasaannya, baik suka maupun duka dan baik pahit maupun manis. Wajar kiranya jika mereka memilih menulis sebagai salah satu jalan menyuarakan isi hati.
Menulis bagi sebagian orang memang merupakan suatu keasyikan. Dengan menulis orang dapat mengingat dan mengingatkan, mengingat sebuah peristiwa dan mengingatkan pemerintah. Banyak kasus kekerasan di Aceh, seperti pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan, pembakaran, suara senjata hingga suara decit rem mobil, merupakan bahan tulisan yang penuh drama. Hal itu terbukti dari karya-karya mereka, baik fiksi maupun nonfiksi di berbagai media.
Semakin banyaknya media cetak–seperti koran, majalah, dan buletin–yang terbit di Aceh telah mendorong anak muda Aceh semakin terpacu untuk menulis. Namun sayang, media-media cetak di Aceh kurang menyediakan rubrik budaya, sehingga keinginan anak Aceh untuk menulis fiksi, seperti cerpen dan puisi, sedikit terkendala. Sementara itu, untuk menembus media luar Aceh tidaklah mudah, karena mereka umumnya belum ‘punya nama’. Akibatnya, meskipun kampung mereka sudah dicap aman, mereka masih merasa terbungkam. Keluhan ini dapat kita lihat dari surat-surat pembaca yang dilontarkan ke harian Serambi Indonesia. Sebagai media cetak terbesar di Aceh, banyak orang yang mengajukan agar Serambi Indonesia kembali membuka rubrik budayanya yang sudah dua tahun hilang dari mata pembaca (Serambi Indonesia, 23 November 2006).
Tergila-gilanya anak muda Aceh ke dunia menulis juga dapat kita lihat dengan timbulnya nama-nama baru di ’belantara sastra’. Salah seorang pemuda mengaku ikut pelatihan menulis di salah satu komunitas karena melihat nama temannya diterbitkan di koran. Ada pula karena temannya memenangi beberapa lomba menulis. Jika demikian, apakah benar mereka menulis untuk berteriak sehingga dapat lepas dari keterpasungan? Jika memang benar menulis dapat melepaskan keterpasungan dalam diri manusia, semoga saja dengan berserabutnya pelatihan menulis di Aceh, membawa anak Aceh merasakan kemerdekaan.***

Iklan

Filed under: Essay

2 Responses

  1. zavista berkata:

    sebelum menulis sebaiknya banyaklah bicara dimana pun anda berada sebab komunikasi paling tua adalah suara bukan tulisan, seperti yang anda katakan itu. tak ada kata tanpa bicara, termasuk bahasa isyarat. menulis akan membuat kita kewalahan dengan alat tulis. sedangkan bicara adalah kesederhanaan komunikasi. jadi apapula kesibukan anda mengutak-atik dunia yang tak pernah selesai dalam proses hanya untuk mendapatkan uang segelintir dengan membuang-buang waktu sedemikian banyak apalagi umur yang tak sempat mengecap kemasyhuran penulisnya. jadi jangan sia-siakan bicara hal sepatutnta dibicarakan saja bukan dituliskan untuk kemudian tak peduli pada situasi orang yang mabuk diatas palaminan dahsyat kemunafikan bangsa kita yang muali renta menunggu patah beretak-petak dua dilapis globalisme

  2. Suka Nulis berkata:

    Dengan menulis banyak yang bisa kita dapat. Batin kita lebih tenang karena semua resah sudah tertumpah. Orang yang menulis dengan penuh ketulusan tak selalu berharap popularitas. Hatinya penuh bahagia ketika yang dia tahu dapat disampaikan juga pada orang lain sehingga tidak hanya dia yang dapat merasakan manfaatnya. Menulis membuat kita belajar untuk tidak egois ketika kita memikirkan kata-kata yang tepat untuk kita tulis agar tidak membekaskan rasa tak enak di hati orang lain. Dengan menulis, kita dapat menegur dan mengingatkan tanpa menyakiti. Ayo menulis! Menulis menjadi terapi yang sehat untuk jiwa kita ketika kita menulis dengan niat untuk kebaikan diri kita dan sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: