Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Suara Kodok

Oleh Herman RN

cover-buku-tsunami.jpgDi sebuah kampung bernama Paceklik, hujan sudah lama tidak pernah turun. Karena itu pula kampung itu diberi nama Paceklik, yang artinya kemarau. Hampir semua sawah dan ladang kekeringan. Tempat-tempat penampungan air tampak gersang. Penduduk kampung itu semakin diliputi gelisah.


Suatu hari Pak Kades mengadakan rapat di balai desa. Semua penduduk berdatangan ke sana karena kata Pak Kades berkaitan dengan masalah air di kampung itu.
Setelah semua rumah sudah mengirim seorang utusannya dalam musyawarah itu, rapat desa pun dimulai. Hasil rapat memutuskan kalau setiap penduduk tidak boleh lagi membunuh kodok, kata Pak Kades. Karena suara kodok dapat memanggil hujan.
Selama ini penduduk di kampung itu memang menabur racun kodok di setiap tempat. Semua itu mereka lakukan karena merasa bising dengan suara kodok yang ribut saling bersahutan. Tetapi, sejak keputusan rapat itu, penduduk tidak lagi menabur racun kodok.
Beberapa waktu kemudian hujan benar-benar turun di kampung itu. Semua anak-anak berlari ke halaman. Semua bersorak riang. Bahkan ada yang berjoget mengikuti suara kodok yang bertalu-talu. Munir membawa sebuah batok kelapa ke tengah halaman, lalu dia memukul-mukul batok itu dengan sebilah kayu. Bunyi batok itu persis seperti suara kodok. Anak-anak lain pun mengikuti tingkah Munir.
Sejak hari itu penduduk kampung tidak pernah lagi membenci kodok. Mereka membiarakan kodok-kodok riang bernyanyi.Herman RN, tukang cerita PMTOH Aceh modern.

Iklan

Filed under: Dongeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: