Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

>>Pendidikan dan Watak Orang Aceh

Opini
(Cang Panah di Warung Kopi)
Oleh: Herman RN

“Kenapa pendidikan di Nanggroe Aceh sekarang ini rendah?” Begitulah sapa pertama yang dilontarkan seorang orang tua pada temannya di sebuah warung kopi. Temannya yang baru datang adalah seorang guru (terlihat dari pakaian yang dikenakannya). Sementara orang tua itu mengaku sebagai pensiunan. Mungkin karena itu pula ia bertanya pada temannya.
Memang pendidikan bukanlah hal yang baru di kalangan masyarakat Apalagi bagi orang-orang yang peduli pendidikan, seperti sang Guru dan sang Pensiunan itu. Tertarik dengan perbincangan mereka, saya menyimaknya dari meja yang bersebelahan. Kebetulan waktu itu saya juga sedang menikmati secangkir kopi Aceh yang khas.
Mendapat pertanyaan yang sudah umum itu, sang Guru dengan ringan memberikan jawaban. “Karena Aceh memang daerah yang tidak boleh berkembang pendidikan. Coba lihat kejadian demi kejadian di Nanggroe Aceh ini, pendidikan selalu jadi imbas. Sejak konflik di daerah kita, yang namanya pendidikan memang sudah hancur. Berapa banyak sekolah yang dihanguskan. Anehnya semua tuduhan terhadap pembakaran itu di tujukan kepada orang tak dikenal, padahal orang Aceh sendiri yang jadi orang tak dikenal itu.”
“Sebab lain di Aceh ini tidak boleh hidup pendidikan bisa kita lihat dalam musibah Tsunami tahun lalu. Betapa banyak sektor pendidikan yang hancur oleh arus gelombang itu. Terbukti bahwa alam saja tak ingin di Aceh ini ada pendidikan. Padahal kalau kita lihat sekilas lalu, rumah-rumah sekolah yang dibakar dulu sudah mulai dibangun. Anehnya yang mungkin sudah tabiat orang Aceh melemparkan kesalahan pada yang lain, jika zaman konflik mereka menyalahkan orang tak dikenal, sekarang semua kesalahan terpusat pada Tsunami. Tsunami selalu jadi sorotan kesalahan. Padahal memang dianya yang tidak mau bangkit. Mungkin karena itulah orang Aceh identik dengan sebutan pemalas.” Sang Guru berhenti sekejap mereguk kopi yang sudah dihidangkan tukang warung.
Sang Pensiunan menyela, “Kamu benar, orang Aceh itu pemalas. Saya pernah mendapati orang-orang yang tinggal di tenda pengungsian. Ternyata makanan mereka lebih nikmat daripada kita. Pagi saja, minum kopi susu sambil membaca koran. Ketika ditanyakan tentang kerjanya, dia malah menjawab, teunang mantoeng, si’at treuk na bantuan. Kepasrahan mereka terhadap bantuan yang datang mebuat mereka bertambah malas. Bagaimana tidak, tidur di kasur empuk dari luar negeri. Rusak satu datang dua. Sementara anak-anak ketika kita tanyakan tentang sekolahnya, mereka dengan riang berkata, hèk (capek).
Tampaknya sipat pemalas orang Aceh sudah turun temurun. Ini semua karena orang Aceh itu suka yang singkat-singkat. Jalan yang sudah dipagari, dirusak hanya karena memilih jalan yang singkat. Setiap lapangan di Aceh ini selalu ada jalan setapak yang memotong tengah lapangan, apakah itu lapangan bola kaki atau lapangan apa saja. Karena orang Aceh tadi suka cari jalan yang singkat, ingin cepat selalu. Akhirnya pikirannya pun ikut singkat. Tidur di rumah, menganggap semuanya sudah ada yang mengerjakan. Untuk apa sekolah, guru, camat, bupati, presiden, sudah ada orangnya, begitu singkatnya pikiran orang-orang kita.
“Nah, kemana akan dibawa pendidikan di Aceh ini? Sebagai seorang guru, kamu tidak boleh ikut-ikut berpikir singkat dan berpandang jauh.” Ujar Pensiunan kepada sang Guru. Bukankah banyak kita lihat sekarang ini, baik guru ataupun dosen yang bekerja pada NGO atau LSM? Mereka rela meninggalkan kewajibannya sebagai pendidik di sekolah hanya untuk mendapatkan peghasilan yang lebih. Kesadaran mereka terhadap gaji guru rendah, terlambat. Padahal kemarin mereka saling bekejaran untuk menjadi guru. Sekarang sekolah dan kampus hanya dijadikan sebagai pelampiasan saja, agar mereka tidak dipecat suatu saat. Ya, jika tidak ada kerjaan penting di NGO tempatnya bekerja, baru ia kunjungi sekolahnya.
Sebagai seorang guru, kamu jangan ikut-ikut berpandangan seperti itu. Jangan pandang pada gaji yang kecil, tapi lihatlah, sekecil apa pun yang kita berikan di bangku sekolah, keikhlasan itu akan membuahkan hasil yang besar dan memuaskan. Semua demi anak-anak Aceh, agar tidak selalu berada di bawah dan di perintah. Aceh harus kembali seperti zaman dahulu, memberi perintah bukan diperintah.
“Kenapa harus guru yang jadi sorotan selalu? Seharusnya pendidikan ini tanggung jawab siapa? Sebagai seorang pensiunan, Bapak tentu lebih tahu.” Tanya sang Guru.
“Sebagai seorang guru, seharusnya kamu yang lebih tahu daripada saya. Saya kan sudah tua.” Ujar sang Pensiunan seraya menghabiskan tahi kopi di gelasnya.

Penulis adalah mahasiswa FKIP Unsyiah, cerpenis dan budayawan

Iklan

Filed under: Opini

One Response

  1. Audrey Cornu berkata:

    “Jangan pandang pada gaji yang kecil, tapi lihatlah, sekecil apa pun yang kita berikan di bangku sekolah, keikhlasan itu akan membuahkan hasil yang besar dan memuaskan.”

    Saya jadi teringat film Laskar Pelangi…
    Sudah nonton?

    Betapa tinggi harga sebuah pendidikan, dan harga itu harus dibayar oleh masyarakat yang untuk makan satu kali sehari pun sulit.

    UUD 1945 Pasal 31:
    (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
    (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

    Dengan demikian negara belum berhasil memenuhi hak warga negaranya dan belum berhasil menyelenggarakan sistem pengajaran yang baik untuk warga negaranya…

    Semoga dunia pendidikan cepat diberi perhatian penuh yang layak ia peroleh…

    Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: