Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

> PULANG

pandanganku.JPG

  Aku baru saja tiba di Tapak Tuan. Setelah sehari setengah dalam perjalanan dari Banda Aceh, sekarang aku sudah di rumah pamanku.

            Aku hendak bercerita tentang perjalanan yang menurutku sangat mengesankan. Pertama kukatakan pada sidang pembaca, aku tertidur di atas motor saat mengendarai motor. Aku baru sadar kalau aku tertidur ketika hampir saja menabrak sebuah truck koldiesel. Entah siapa yang mengendalikan aku dalam tidurku, aku tak tahu. Aku hanya percaya, semua itu adalah kuasa Allah swt.

            Menjelang subuh aku tiba di rumah Paman di Tapak Tuan. Hingga pagi aku tertidur di
sana. Pukul setengah sebelas, aku baru melanjutkan perjalanan ke
Ujung Pasir ke rumah nenekku.

            Aku disambut dengan bahagia oleh ahli family. Ini bukan suatu kejutan bagiku. Memang sedari dahulu, aku selalu disanjung-sanjung, mungkin ini pula yang membuat aku rindu sanjungan ketika berada di Banda Aceh, sehingga hidup di
kota besar itu membuat aku angkuh dan sombong. Semua karena satu hal, aku rindu pujian dari familiyku, meski terkadang aku benci pujian. Ya, aku benci pujian yang berlebihan.

            Aku bercerita pada nenek, pada paman, pada bibi dan semuanya, tentang aku di Banda Aceh. Tentang aku yang tak pernah lagi menerima kiriman dari Paman sejak tsunami. Itu semua kukatakan karena aku sudah besar, sudah mampu mengarahan naisbku. Karena menurutku nasib tidak diikuti orang, melainkan
orang yang akan menentukan arah nasibnya. Maka kukatakan pada diriku sendiri, takdir pun dapat kuubah selama aku ingin berubah.

            Aku juga bercerita tentang keadaan
orangtuaku di Juli, Aceh Bireuen. Ketika mereka bertanya tentang sakit mamaku, kukatakan mama sudah sehat. Aku sendiri yang membawa mama ke Rumah Sakit Bireuen dan membayar biaya pengobatan mama. Kataku dengan bangga. Dan mereka semakin perecaya padaku kalau aku dapat hidup di
kota besar. Semua itu kukatakan bukan karena aku ingin dipuji, tapi hanya sekedar mayakinkan semua family bahwa aku sudah besar. Bahwa aku tidak selemah seperti yang mereka bayangkan. Aku masih ingat ejekan salah seorang bibiku yang pesimis akan keberangkatanku kuliah di Banda Aceh. “Bagaimana mungkin Herman dapat hidup di
kota besar, alu saja tak dapat dilangkahinya.” Kata bibi waktu itu.

            Menurutku itu bukan ejekan, tetapi dorongan agar aku tak manja. Mungkin aku berhak menyalahkan
almarhum kakekku mengapa aku manja. Pernah suatu kali paman menyuruh aku membeli beras di pasar. Lalu bibi juga pernah menyuruh aku mengantar padi ke kilang untuk ditumbuk. Tapi kakek ketika masih hidup waktu itu berkata lantang, “Jangan kalian suruh Herman, nanti entah apa-apa di jalan, entah terjatuh, entah ketabrak, siapa yang lihat?! Senang kalian kalau dia sakit?!”

            Semua
orang diam kalau kakek sudah angkat suara. Akhirnya tak seorang pun berani menyuruh aku ke
sana atau ke mari. Aku hidup di keluarga miskin tapi manja. Aku  sedih jika ingat cerita laluku. Maka di warkah ini aku tak ingin bercerita panjang tentang masa lalu itu.

            Empat hari sudah aku di kampung. Aku mulai rindu hawa Banda. Ada sesuatu yang tertinggal di
sana yang kusebut itu cinta. Kemarin hal itu juga ada di sini, namun sekarang aku sadari, tak mungkin pipit sepertiku dapat bersanding dengan merak khayangan, maka aku pilih bungkam.

            Kemarin aku mempunyai idaman di sini, tapi sekarang dia telah jaun ke negeri
orang. Dan aku bukan tak ingin mengingatnya, tapi aku takut kalau mengingat dia. Banyak hal yang aku takutkan. Entah cinta yang sekarang atau masa lalu. Atau sama sekali aku memang takut karena tak pantas berjalan denganya.

            Satu hal lain yang membuat aku tak hendak ingat dia adalah karena aku memiliki cinta di Banda. Aku tak ingin dia kecewa karena ulahku. Aku seorang lelaki, memang mudah bagiku mendapatkan sembarang wanita. Tapi aku banyak family wanita, seorang kakak
kandung wanita. Aku tak ingin karena ulahku mereka tertimpa karma. Maka aku mencoba untuk setia.

            Walau demikian, aku masih menyimpan kecurigaan terhadap cinta yang mencintaiku. Dia pernah bilang kalau dia tak mudah melupakan cintanya sebelum mencintaiku. Aku semakin ragu kalau dia memang tak akan bisa melupakan cintanya dahulu. “Lantas untuk apa kau katakan mencitaiku, girl?” aku ragu padamu… ragu… ragu… dan ragu…

            Maafkan aku karena masih ragu padamu. Tapi jujur kukatakan, aku selalu ingat kamu. Apalagi saat aku menghadapi sesuatu hal yang menggembirakan, karena itu aku tak mau ke pantai meski semua
sanak familyku telah mengajakku. Aku tak ingin ketika melihat laut, tapi tak ada kamu. Lain halnya jika memang kamu tak ingin pergi bersamaku.

            Selama lebaran di kampungku, aku terus bersembunyi, sembunyi dari rindu. Aku memilih tempat ramai seperti di warung kopi, padahal sirup di rumah sendiri gratis. Sengaja kupilih tempat itu agar aku bisa sembunyi dari rindu. Tapi aku curiga kau malah mengira aku bersenang-senang sehingga kau pun pergi bersenang-senang. Jika memang kau sedang bersenang-senang, kudoakan semoga kau selalu bahagia dan mendapatkan kesenanganmu. Sementara biarlah aku menyimpan duka. Kelak jika aku tak sanggup lagi melihatmu menari-nari di atas redup hatiku, aku akan lari darimu, maka jangan salahkan aku jika hari itu tiba. Saat ini aku hanya menanti kesetiaan, kejujuran, ketulusan, keikhlasan, dan kepercayaanmu padaku.
Lima kata cinta ini masih kunanti darimu, meski kau pernah berkata, takut kehilangan diriku. Itu bisa saja kau ucapkan seribu kali lagi, selama aku memang masih bisa kau aduk-aduk seperti alpokat di dalam balender. Buktikanlah
lima kata cinta di atas, girl. Agar aku dapat menambah dua kata cinta lagi dariku untukmu ‘dunia & akhirat’.

            Ah, hanya ini yang mampu kuceritakan hari ini. Mungkin besok aku masih mencintai cerita ini, tapi kuharap tidak. Karena aku ingin cerita ini besok beubah ke arah yang lebih adem.

            Cerita ini ingin kusudahi sekarang, tapi bisa bersambung akan datang. Aku hanya ingin berkata, “Tak akan kunikahi seorang gadis jua sebelum berhasil cita-citaku.” Jadi maafkan aku. Siapa pun kamu yang mengharapkan aku  sekarang jua, maafkan aku.

 

 

                                                                                      Ujung Pasir, awal Januari 2006.                                                                                      Pukul 12:24 WIB

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: