Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Gerhana dalam Mitos

Oleh Herman RN

            4.jpgAkhir-akhir ini kita sering sekali mendengar terjadi gerhana. Ketika gerhana datang ada kalangan yang menganggapnya sebagai bencana, tetapi ada juga yang menganggap itu gejala alam biasa.

            Dalam kehidupan masyarakat di
Indonesia ada beberapa cerita yang berkembang tentang terjadinya gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana mata hari. Cerita pertama mengatakan bahwa ada seorang raksasa yang ingin menelan bulan, maka terjadilah gerhana bulan dan jika dia menelan mata hari, maka terjadilah gerhana mata hari. Lantas setelah ditelan, mengapa mata hari atau bulan itu besoknya kelihatan kembali?

            Ketika raksasa itu menelan mata hari, ternyata
perutnya tak mampu menerima. Perutnya terasa panas. Raksasa itu memuntahkan kembali mata hari tersebut. Lalu, suatu malam sang raksasa melihat benda bulat lagi
indah di langit. Raksasa menelan benda tersebut yang tak lain adalah bulan, tetapi dia tetap merasa kepanasan. Cahaya bulan memantul lewat mulutnya. Akhirnya raksasa itu memuntahkan kembali bulan. Bulan pun lari dari hadapan raksasa dan kembali bersinar kala malam. Raksasa yang dendam terus mencari-cari bulan dan mata hari. Makanya gerhana terjadi berulang-ulang. Gerhana tersebut terjadi setiap raksasa bertemu mata hari atau bulan, karena dia akan menelannya. Jika raksasa jahat itu tidak bertemu mata hari atau bulan, gerhana tidak akan terjadi.

            Mitos kedua mengatakan gerhana terjadi karena mata hari bertemu dengan bulan dan mereka berantam. Awal kejadiannya, suatu hari mata hari bertemu dengan bulan. Konon mata hari mempunyai anak, sedangkan bulan juga mempunyai anak, yaitu bintang. Lantas kemana anak mata hari, kok kita hanya melihat bintang?

            Mata hari dan bulan adalah dua sahabat. Mereka sudah lama berpisah karena berputar di lain waktu. Mata hari berputar di waktu siang dan bulan berputar di waktu malam. Suatu hari mereka bertemu dan terjadi dialog.

            “Hai, Bulan, lama sudah kita tak bertemu. Apa kabar dirimu?” tanya mata hari.

            “O, mata hari, kabarku seperti yang kau lihat, sangat baik. Cahayaku semakin disenangi makhluk-makhluk bumi. Mereka selalu merindukan cahayaku, apalagi kalau disaat aku menjadi purnama.”

            “Ya, kulihat mereka sangat senang bulan purnama. Kau terlihat
indah dengan cahaya empat belasmu. Kalau boleh aku tahu, bagaimana kau bisa seperti itu?” tanya mata hari penasaran.

            “Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memakan anak-anakku. Makanya cahayaku semakin
indah, sebab cahaya anak-anakku sudah bersatu dengan diriku saat mereka aku telan.”

            “Benarkah? Kamu tidak bohong?” tanya mata hari semakin penasaran.

            “Sudah kubilang, aku memakan anak-anakku. Dengarlah, kawan, kalau kau ingin terlihat
indah dan lebih bagus sehingga semua makhluk bumi selalu merindukanmu, telanlah anak-anakmu semuanya. Jangan ada yang tersisa.”

            Mata hari diam sesaat hingga bulan melanjutkan, “Aku juga akan menelan anak-anakku malam besok.”

Singkat cerita, mata hari termakan kata-kata bulan. Mata hari menelan anaknya tanpa tersisa karena dikiranya bulan juga menelan bintang-bintang. Namun tiga malam berselang, mata hari melihat bintang muncul sangat banyak. Mata hari marah. Dia sadar dirinya telah ditipu oleh bulan. Mata hari mencari-cari bulan. Ketika betemu mereka pun berantam. Perkelahian mereka menyebabkan gerhana.

            Bagaimana Cara Mendamaikannya?

            Ketika mata hari dan bulan sedang terjadi pertengkaran mulut atau berkelahi, bumi menjadi
gelap. Inilah yang mereka sebut sebagai gerhana. Bermacam cara dilakukan manusia agar mata hari dan bulan bisa berdamai kembali. Dalam sebagian masyarakat Aceh di perkampungan, mereka akan membakar cabai merah. Konon, bau cabai terbakar akan terbang sampai ke langit dan tercium oleh mata hari dan bulan. Baik mata hari maupun bulan sangat tak tahan mencium bau cabai terbakar. Mereka mengira itu raksasa yang sedang menggoreng cabai dan akan menyantap mereka. Maka larilah bulan ke peraduannya dan mata hari ke singgasananya. Gerhana pun reda.

            Cara kedua dilakukan sebagian masyarakat dengan memukul-mukul kaleng beras (dalam sebagian masyarakat Aceh, beras disimpan dalam kaleng agar tidak berkutu). Kaleng beras itu dikosongkan isinya dan dibawa lari hilir mudik sepanjang jalan di depan rumah masing-masing sambil terus dipukuli seperti
orang menabuh genderang. Menurut masyarakat yang melakukan itu, bulan dan mata hari akan mengira kalau suara itu adalah langkah raksasa sehingga larilah keduanya.

            Demikianlah sekelumit kisah tentang gerhana dan
mitos yang berkembang dalam sebagian kehidupan masyarakat. Tentunya cerita-cerita seperti ini juga terdapat di belahan bumi lain, namun mungkin dalam versi yang berbeda atau bisa jadi sama.

 

Koeta Radja, Maret 2007.Herman RN, tukang cerita dalam seni tutur PMTOH Aceh modern

Filed under: Opini

3 Responses

  1. Ayi mengatakan:

    Seni bisa membuat hidup menjadi indah

    Ada gak,forum yg bisa merangkum seluruh karya seni yg anak2 muda di aceh?
    Terimakasih

  2. Aizawa mengatakan:

    Is that the real story?????????

  3. Berbagi Berbagai Hal mengatakan:

    masih banyak lagi mitosnya ga cuma itu aja kayanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: