Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menggambar Laut

Oleh  : Herman RN

(Refleksi Menggambar Pembunuh Ayah; Azhari) 

            Azhari dalam cerpennya ‘Menggambar Pembunuh Bapak’ mencoba merefleksikan pikiran seorang anak yang kehilangan Ayahnya. Melalui ranting-ranting daun yang berjatuhan di tanah, anak itu mencoba melukis sesosok gambar yang direka sebagai dalang atau orang yang membunuh Bapaknya. Berkali-kali ia mencoba, selalu gagal, dan anak it uterus mencoba lagi. Azhari disini mencoba merefleksikan bahwa anak Aceh pantang menyerah dalam melakukan suatu perbuatan sebelum cita-citanya tercapai.

Dalam cerita pendek itu, sang anak terus mengais-ngais ranting yang berjatuhan dan kembali menarik garis-garis halus terkadang kasar di atas tanah. Dihapusnya gambar yang telah jadi karena tak sesuai dengan mekasud hatinya, dan ia terus mencoba lagi hingga ujung lidi penggambar itu patah.

            Dari cerita singkat tersebut, saya mau mengajak kita menyaksikan yang terjadi sekarang ini di alam kita, Aceh. Tak jauh berbeda dari yang digambarkan Azhari, anak-anak Aceh sekarang masih sibuk menggambar, entah yang digambar sekarang ini adalah pembunuh Bapak, Ibu, atau sanak kerabat lainnya. Anehnya, meski mereka bermaksud menggambar pembunuh, tapi gambar mereka bukan berupa sosok manusia atau binatang buas.gambaran itu hanya berupa coret-coretan yang menggambarkan sekumpulan benda cair yang mereka sebut dengan keindahan. ‘Laut’, begitu orang-orang menamainya.

            Laut yang biasanya dilukis orang dengan panorama pantai yang menyejukkan dan syarat keindahan itu, kini mereka kenal dengan sebuah kegersangan, sehingga gambar itu tidak lagi menunujukkan kesejukan. Riak-riak kecil yang bergelombang di permukaan kertas tidak tampak lagi, kecuali coretan yang tak tentu ujung pangkalnya. Terkadang coretan itu membentuk sebuah nama Tuhan, ‘Allah’.
Ada juga yang menjulang tinggi bagaikan pohon kayu, atau entah berupa apa saja. Semua yang tersimpan dalam memori, mereka tumpahkan di atas selembar kertas atau beberapa lembar. Mereka tak perduli apa warna gambar itu, bagi mereka yang terpenting dapat menggambar laut, apakah itu warna hitam, coklat, merah, atau bahkan warna phink, mereka tak peduli. Begitulah ketika saya mengamati beberapa buah lukisan spontan anak-anak Aceh di Stand PMI pada waktu pameran ‘Aceh Bangkit 9-18 September 2005’ baru-baru ini.

            Tampaknya Stand itu sengaja menyediakan drawing book dan Crown untuk pengunjung, terutama anak-anak. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak orang Dewasa yang ikutan menggambar. Anehnya kebanyakan dari mereka, hampir semua menggambar laut. Itulah kenyataan sekarang ini, anak-anak Aceh dan mungkin juga anak-anak
Indonesia umumnya, ketika diminta menggambar, mereka akan menggambar sebuah kehancuran. Rumah-rumah yang terbalik pondasinya, pohon-pohon yang tercabut dari akarnya, atau si ‘jago merah’ yang belakangan ini masih menjadi protagonis sebuah berita, akan menjadi topic utama gambar mereka.

            Cukup banyak contoh gambar-gambar anak-anak Aceh yang melukis rumah terbalik dan laut yang menjulang tinggi, seperti yang terdapat dalam buku-buku terbitan era Tsunami. Lihat saja buku “8,9 Skala Richter Lalu Tsunami” yang diterbitkan oleh ‘Aceh Bangkit’. Di situ, gambar spontan anak-anak Aceh tak luput dari menggambar ‘Geulumbang Raya’, belum lagi jika kita membuka buku gambar anak-anak SD atau MIN.

            Akhirnya, saya mau mengatakan bahwa anak-anak Aceh sekarang tak luput dari ‘menggambar’,karena lewat gambaran mereka dapat meluahkan apa yang ada dalam pikiran adan ingatan mereka di atas kertas layaknya seorang penulis yang mengungkapkan aspirasinya dengan tulisan-tulisan mereka. Maka dari itu jangan lupa sediakan sebanyak mungkin buku dan pensil yang dapat mereka gunakan untuk menggambar. Dari sini sebuah kreasi akan muncul, maka tak ayal lagi bila kita mendukung kreatifitas mereka akan muncul kreator-kreator generasi berikutnya, akan lahir regenarasi pelukis di tanah serambi tercinta ini. Jangan biarkan mereka salah mewarnai alam kembali, saatnya kita berikan warna yang sesuai dengan maksud gambaran mereka. Jangan biarkan lidi-lidi penggambar itu patah untuk kedua kalinya, berikan mereka lidi yang kokoh, dan ajarkan mereka kehidupan, bukan sosok pembunuh, agar mereka dapat menggambar sebuah kelahiran baru di negeri yang baru dilanda kehancuran ini. Insya Allah!

 

                                                                                    Darussalam, September 2005                                                                                    Gemasastrin USK’ 05 Tulisan juga dapat dilihat dalam buku “Kampong dalam Goa”

Iklan

Filed under: Essay

2 Responses

  1. edi mizwar berkata:

    ketika tuan merasa banyak tahu
    tuan telah menggunakan sorban yang mengurai sepunggung
    orang-orang pun jengah
    hanya adikmu yang selalu berkata
    kalian diam
    tetapi di rumah bersama sarimie
    ia diam
    ketika tuan berkhotbah
    kami pun tertawa dalam hati
    bibir kami berucap
    tuan, jum’at depan mimbar kosong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: