Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Nasib Kesenian dan Seniman Aceh

Oleh Herman RN

mata-cinta.JPG Salah satu tradisi yang menjadi warisan turun temurun dalam masyarakat adalah kesenian. Dalam konteks Aceh, orang yang mahir berkesenian pada zaman dahulu sangat dihormati. Seseorang yang mempunyai keahlian di suatu bidang seni akan jadi perhatian.

Kesenia sebagai bagian dari kebudayaan tidak terlepas dari nilai-nilai tradisi suatu daerah. Dalam literature budaya Aceh, kesenian Aceh tidak dapat terlepas dari nilai-nilai keislamian. Namun demikian dengan masuknya arus globalisasi dan westernisasi, membuat kesenian di Aceh terasa kurang diminati atau mengalami gejolak melonjak ke Barat-tan.

Kesenian sebagai tradisi sebenarnya mengandung nilai-nilai luhur yang bisa menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat. Namun keberadaan kesenian sekarang ini cenderung hanya dijadikan sebagai ‘tukang hibur’ atau alat pengibur. Kesenian pada akhirnya kurang menjadi perhatian. Demikian halnya di Aceh, kesenian hanya dipakai dalam acara-acara tertentu saja.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesenian di Aceh membuat parapegiat seni atau pegiat kebudayaan di Aceh tidak mendapatkan posisi yang layak di mata masyarakat. Ahkhirnya parapegiat seni yang sering kita sebut sebagai seniman itu menjadi kalangkabut dalam mentrasfer nilai-nilai luhur Aceh yang termuat dalam kesenian tersebut.

Dalam konteks membangun sebuah daerah atau wilayah sebenarnya tidak harus hanya berpaku pada bentuk fisik saja semisal pembangunan rumah dan jalan raya. Kebudayaan lokal sebagai suatu ciri khas daerah sangat perlu mendapat perhatian dalam pembangunan. Kesenia daerah termasuk ke dalam kebudayaan lokal. Melupakan tradisi lokal dalam pembangunan dapat merombak kebudayaan lokal tersebut. Merombak kebudayaan sama halnya dengan tidak menghormati nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu peran kesenian Aceh dalam membangun Aceh juga diperlukan, karena kesenian suatu daerah merupakan lambang kebanggan dan dientitas daerah tersebut.

Kurang Perhatian Pemerintah

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib seniman dan kesenian Aceh dapat dilihat pada kurangnya partisipasi pemerintah dalam membangun dan mensupport parapegiat seni di Aceh. Pemerintah, katakanlah dalam hal ini Pemda, hanya mengenal tradisi dan kesenian Aceh pada saat acara-acara tertentu. Misalkan ada acara pertemuan, seminar, atau sejenisnya. Maka salah satu sanggar kesenian di Aceh diundang dalam acara tersebut. Untuk apa? Untuk menghibur hadirin. Akhirnya timbullah image dalam tubuh pegiat seni Aceh, seniman adalah sebagai penghibur pejabat atau orang beruang.

Sebagai lelaki atau perempuan penghibur, mereka tentunya mendapatkan bayaran. Setelah dibayar, ‘loe loe, gue gue’ kata orang
Jakarta dan ‘raket bak pisang’ kata orang Aceh. Artinya, bagaimana kesenian itu seterusnya hanya jadi tanggung jawab pegiat kesenian, sedangkan yang mengundang, selepas membayar bebas urusan. Masalah bayaran cukup atau tidak juga di luar urusan.

Ketika kesenia hanya dianggap sebagai tukang hibur, roh kesenian mudah luntur. Oleh karena kesenian sebenaranya memiliki peranan penting dalam pembangunan, maka kesenian bukan sekedar alat penghibur. Sebuah kasus pernah melanda kesenian di pantai Barat Aceh yang penulis simak dari hasil bincang-bincang di suatu senja dengan salah seorang pegiat seni asal Aceh Barat, Rosni Idham.

Seniman yang juga penulis wanita Aceh itu mengaku bahwa kesenian dan Seniman di Aceh Barat kurang diperhatikan. Hal ini terlihat, kurangnya bantuan yang disalurkan oleh lembaga donor, baik Pemerintah maupun NGO. Pemda maupun NGO hanya peduli pada kesenian di sana ketika hendak mengadakan suatu acara saja. Sedangkan ketika seniman di
sana minta bantuan untuk fasilitas, tidak pernah dihiraukan, demikian tutur Rosni.

Dibandingkan dengan bidang lain, misalkan olah raga, kesenian benar-benar dianaktirikan. Setiap
orang yang mendapatkan satu medali emas dalam setiap cabang olah raga memperoleh honor Rp10 juta dari pemda, sedangkan seniman?

Tanda tanya di ujung kalimat di atas, penulis ajukan sebagai sebuah renungan bagi kita semua. Apa yang didapat oleh seorang seniman yang sudah berhasil seperti seorang olahragawan dari Pemdanya? Bukankah banyak pegiat seni Aceh yang sudah memamerkan kesenian lokal Aceh sampai taraf internasional?

Tidak hanya di Pantai Barat, kasus serupa juga melanda seniman di seluruh Aceh. Banyak pegiat seni di Aceh tidak memiliki tempat untuk berkreativitas. Atau ketika sebuah kelompok seni ingin mengadakan acara, mereka kalang kabut mencari dana. Minta dana ke Pemda, jawabannya tidak ada plot dana untuk kegiatan kesenian. Agar tidak dinilai deskriminasi, Pemda mencoba memberi solusi.

Solusinya, kelompok seni tersebut di suruh minta ke tempat lain. Tempat lain yang sudah ditunjuk oleh Pemda tadi, menunjuk tempat yang lain pula. Tempat yang lain pula menunjuk tempat yang lain lagi. Begitu seterusnya sehingga pegiat seni menjadi bola. Kelompok seni yang gigih mengais tetap menuruti petunjuk-petunjuk tersebut, walaupun mereka sadar sudah jadi bola yang diopor ke sana sini. Alhasil, nihil! Ini gambaran seniman dan kesenian di Aceh sekarang yang tidak pernah mendapat posisi di mata pemerintah yang katanya ingin membangun Aceh ke depan lebih maju dan bermartabat.

Jika pemerintah tetap menilai kesenian hanya milik paraseniman, niscaya kesenian kita tidak akan pernah maju dan berkembang. Jika kesenian suatu daerah tidak berkembang, nilai-nilai tradisi pun akan mudah mengalami penurunan. Sedangkan kita tahu kesenian lokal merupakan tradisi suatu daerah yang menjadi lambang kebangaan dan identitas duatu daerah. Maka apa yang menjadi kebanggan kita jika kesenian kita hancur?

Penulis, Mahasiswa FKIP PBSID Unsyiah, penulis dan pegiat seni di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Essay

5 Responses

  1. reza Gunawan berkata:

    saya salut and ucapin makasih banyak ma kamu atas tulisan ini……..

    ternyata masih ada yang memikirkan bgaimana nasib budaya dan seniman aceh,,,,,,

  2. irda berkata:

    saya berharap dengan adanya penulisan seni separti ini,,
    kesenian di aceh dari sini kedepan nya bisa menjadi lebih baik dari sekarang

  3. anggrek berkata:

    saya jg berharap kesenian di aceh semakin hidup,,,,
    dengan kesadaran dari semua pihak pasti bisa buat aceh bangkit dengan mandiri………
    saya jg salut atas tulisan anda……
    salam kenal….

  4. ya seperti pernah saya katakan dalam essay saya ttg Seniman Aceh Award bahwa kesalahan sebuah bangsa buka hanya krn tidak menghargai pahlawan dan rampasan perangnya, tetapi juga melalaikan akan seniman-budayawan-penyairnya.

  5. junirullah berkata:

    SALAM,
    INTI NYA ADALAH :
    MANUSIA YANG TIDAK MEMILIKI JIWA SENI YAITU MANUSIA GILA!
    HORMAT,
    JOHN #b / JUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: