Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

LABA

akoe.jpg             Suatu hari Apa Teulah melihat sekelompok orang berduyun-duyun mendatangi sebuah gedung putih di ibu
kota provinsi. Gedung bertingkat tiga itu diawasi  oleh empat orang keamanan berbaju putih dan celana biru gelap. Di atas kantong baju sebelah kiri keamanan yang memegang pentungan itu tertulis “SATPAM”.            Apa Teulah berdiri di luar pagar besi yang mengelilingi gedung tersebut. Di balik jeruji besi itu Apa Teulah mengintip ke dalam. Di
sana orang-orang berdesakan, berebut untuk dapat masuk ke dalam gedung.            “Hai, Apa Teulah, kok masih di luar. Ayo, kita masuk. Nanti tak kebagian,” Sapa seorang lelaki seraya menepuk punggung Apa Teulah. Sejenak Apa Teulah terkejut, tapi dia cepat menguasai diri.            “Eeh, Kau rupanya Dolah. Masuk? Maksudmu, masuk ke
sana?” tanya Apa Teulah sambil menunjuk ke arah gedung.            “Ya iyalah. Di sana
kan sedang ada pembagian Jatah hidup (Jadup). Mari kita ke
sana sebelum habis.”            “Jadup? Jadup apa lagi?
Kan kita sudah dapat setiap bulan dari kantor desa?” Apa Teulah bertanya serius.            “Euy Apa Teulah, yang kita terima itu
kan hanya sebagai masyarakat korban tsunami, ini Jadup bantuan atas nama mantan GAM. Uangnya lebih besar. Apa tak mau dapat uang gratis?”            “Bukan begitu, Dolah, tapi masih banyak saudara kita yang sangat membutuhkan bantuan, itu bukan jatah kita. Biarkan mereka saja, lagian kita
kan sudah ada bagian setiap bulan dari desa.            “Apa Teulah tenang saja. Di dalam ada kawan aku. Nanti dia akan mengurus semuanya. Kita hanya kasih biodata jelas saja.”            “Biet-biet nanggroe ka rab binasa (Benar-benar negeri hendak binasa),” ucap Apa Teulah sambil menggeleng-geleng kepala. “Kamu satu lagi, sana-sini taunya laba saja. Kamu tak lebih seperti bubee dua jab seureukab dua muka, keudéh kapeutoe keunoe kah peurab, bandua pat mita laba (bubu dua pintu kandang dua muka, ke
sana kamu dekati, ke sini kamu pun kamu dekati, di kedua tempat kamu cari laba).”            Selesai mengucapkan kata-kata itu Apa Teulah meninggalkan Apa Dolah yang masih diam memaknai kata-kata Apa Teulah.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: