Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Teater sebagai Sebuah Pembangunan

aktor-nasib.JPGOleh Herman RN

            Dalam coretan singkat ini saya bukan ingin mendikte sidang pembaca tentang apa dan dari mana itu teater. Tulisan ini sekedar sebuah renungan bagi segenap pembaca tanpa melihat siapa pun Anda; seniman, pelaku seni, penikmat seni, pencipta seni, mahasiswa, pelajar, atau pejabat sekalipun. Oleh karena teater bukan sekedar sebuah kesenian, tetapi juga sebagai sebuah pembaharuan pembangunan.

            Teater saya katakan sebagai sebuah pembangunan, sebab dengan medium seni yang satu ini terlengkapi semua elemen seni lainnya. Dalam teater tidak hanya ada dialog yang dihapal dari naskah. Dalam sebuah pertunjukan teater juga ada seni musik, seni tari, seni dekorasi, dan tentunya seni vocal. Semua kesenian tersebut dalam medium ini saya sebut dengan elemen seni. Jadi, semua elemen seni tersebut dituntut membangun sebuah kerja sama yang sinergis dalam sebuah pertunjukan yang bernama teater. Oleh karena itu dalam teater ada tiga macam ‘olah’ yang harus dikuasai oleh seorang aktor, yaitu oleh tubuh (raga), olah rasa (sukma) dan olah suara (vocal).

            Dari tiga ‘olah’ di atas saja sudah jelas kalau dalam teater itu semua komponen terlibatkan. Artinya, dalam sebuah pementasan teater semua komponen tersebut dituntut untuk dapat saling asah, asih, dan asuh. Jika kerja sama komponen tersebut berjalan baik, sempurnalah sebuah pementasan. Kebersamaan seperti ini juga dapat ditiru oleh pemerintah dalam pembangunan. Artinya, dalam membangun Aceh, pemerintah harus melibatkan semua komponen dalam kehidupan masyarakat, termasuk teater.

            Maaf, bukan berarti kesenian lain tidak penting di Aceh. Semua kesenian harus dianggap penting. Namun, kelebihan yang dimiliki dalam teater yang saya sebut dapat menghimpun elemen kesenian memperlihatkan bahwa teater sangat butuh perhatian dari pemerintah. Oleh sebab kesenian teater selama ini hanya dianggap sebagai alat penghibur melalui medium panggung, kesenian yang satu ini sering tersisihkan dalam medium-medium yang lain.

            Menonton dan mendengar pengakuan teman-teman dari Teater Nol pada malam pertunjukan mereka di balee Tgk. Chik Ditiro awal April lalu semakin nyata memperlihatkan bahwa teater di Nanggroe Aceh Darussalam kurang perhatian pemerintah. Hal ini tidak hanya diakui oleh paramahasiswa dari teater kampus tersebut, tetapi juga beberapa seniman Banda Aceh yang ikut menyaksikan naskah Tuan Kondektur yang dimainkan oleh Teater Nol dua malam berturut-turut di balee Tgk. Chik Ditiro.

            Salah satunya dapat saya sebutkan T. Januarsyah, seorang pegiat seni di Teater
Kosong. Menurutnya, pemerintah belum paham dan mengenal betul apa itu teater. Padahal, dalam membangun Aceh, terutama penyembuhan mental masyarakat, kesenian teater sangat membantu.

            Sebuah cerita dalam naskah teater selalu berkaitan dengan kejadian nyata. Misalkan saja, dalam naskah Tuan Kondektur yang dipertontonkan oleh teater kampus itu.
Ada pendidikan yang hendak disampaikan melalui cerita. Pertama, mencuri milik orang lain dapat diartikan sebagai cinta kepada
orang tersebut. Kedua, akibat mencuri milik
orang lain, petaka akan datang pada kita. Kedua kasus ini tentunya terjadi dalam dunia sehari-hari manusia. Entah beragam pesan apa lagi yang terkandung dalam naskah-naskah drama yang lain.

            Apabila pemerintah memahami kesenian teater, tentunya membangun mental anak-anak Aceh dapat dilakukan melalui medium teater. Misalkan saja, cerita-cerita yang hendak disuguhkan dalam sebuah pementasan bertalian dengan adat dan kebudayaan di Aceh, ada pendidikan dan pengajaran untuk membangun mental masyarakat Aceh, tentunya hal ini sangat berguna.

            Rasa kurangpedulian pemerintah terhadap teater yang saya maksudkan dalam coretan ini adalah sesuai pengakuan teman-teman seniman dalam beberapa perbincangan, yaitu menyangkut dana. Malam pertunjukan karya Anton Chekov itu, masalah ini kembali mencuat.

            Berbicara masalah dana memang merupakan hal yang paling
urgen dalam setiap kegiatan, termasuk pementasan teater. Tanpa harus mendikte, uang memang selalu menjadi ujung tombak dalam memenuhi kebutuhan. Apalagi, kebutuhan yang menyangkut
orang banyak semisal sebuah pertunjukan.

            Pengakuan Teater Nol yang menyelenggarakan pementasan di Gedung Sosial, itu membuat kaum intelektual, aktivis, dan seniman kembali ‘mengangkat dua pundak’ terhadap kepedulian pemerintah dalam membangun Aceh. Oleh karena menurut mereka membangun Aceh tidak cukup sekedar fisiknya saja, tetapi juga kebudayaan.

            Berawal niat ingin menghibur masyarakat dan menghidupkan kembali kesenian teater di Aceh yang mengalami kemunduran setelah tsunami, kelompok teater mahasiswa kampus Unsyiah itu menggelar pertunjukan teater. Namun, mereka kewalahan berhadapan dengan pemerintah yang kurang mensupport kegiatan tersebut. Sementara itu, mereka juga ingin memperkenalkan ke luar bahwa Aceh tidak hanya memiliki letusan senjata, Pilkada, dan UUPA, tetapi kesenian di Aceh masih ada dan menyala. Untuk menggapai niat tulus ini tentunya diperlukan bantuan dari berbagai pihak.

            Demikian pengakuan Teater Nol yang hendak memenuhi undangan ke
Malang dalam rangka Temu Teman Teater se-Nusantara pada bulan Mei mendatang. Kendala yang mereka keluhkan kepada penonton pada malam itu mendapat masukan dari berbagai pihak. Yang dapat saya simpulkan dari sekian pembicara itu, semuanya berpendapat bahwa pemerintah harus menganggap penting kesenian. Artinya, pemerintah mempunyai kewajiban memberikan support dan bantuan terhadap kendala-kendala yang dihadapi pelaku seni demi hidup dan berkembangnya kesenian di Aceh mendatang.

            Apabila yang dikeluhkan
orang-orang pada malam itu adalah sebuah kebenaran, patut kiranya kita pertanyakan kepada pemerintah kita, sejauh mana mereka mencintai kebudayaan, sebab kesenian merupakan bagian yang tak terlepaskan dari kebudayaan. Atau
orang-orang yang berbicara malam itu yang telah salah menilai kesenian (teater) sebagai sebuah media pembaharuan pembangunan? Semoga melalui coretan singkat ini kita mendapatkan jawaban dari berbagai kegelisahan teman-teman seniman. Oleh karena seniman juga manusia, kegelisahan mereka adalah kegelisahan kita bersama.

                                                                                Penulis, cerpenis dan pegiat                                                                                kebudayaan di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Essay

7 Responses

  1. 'tmn2 dr teatr suara kaltim' berkata:

    kerjsma yg baik antara teater2 se nusantara sangat di butuhkan utk membangun citra kesenian ga’ cm di banda aceh, tp jg di indonesia. Dan menurut kami, yg pertama x di ajarkn tentang kesenian adl di kalangan pelajar. Salam Hangat dari Teater Suara

  2. edi mizwar berkata:

    sayangnya penggiat teater hanya sebagai pemain saja tanpa adanya obsesi bahwa budaya modern berpijak dari menulis. film dibangun dari naskah yang sama saja kita katakan bibit beranak sebuah film. teater tak dari jauh dari itu juga. sekali lagi; sayang.

  3. zelfi berkata:

    dalam organisasi apalagi teater diperlukan rasa persaudaraan dan kerja sama diantara setiap pelaku seni.dengan kerja sama dan persaudaraan yang tidak pernah pudar, kita bersama – sama membangun kesenian di aceh, InsyaAllah kesenian si aceh akan terus bangkit.

  4. abdul mu'in berkata:

    kalo boleh tau? bagaimana perkembangan teater inofatif dan teater altaer natif pada saat ini ? saya kurang sekali memahami wacana seperti itu tolong bales ke imel saya. atau hubung kelompok seni senandika yogyakarta.

  5. Fiqi berkata:

    Saya setuju, bagaimanapun juga, tidak hanya fisik yang dibangun, tetapi juga kesenian yang merupakan ruh dari fisik itu sendiri. Semangat kawan-kawan!!!!

  6. wafiq berkata:

    sama halnya dengan teater yang ada di kota Tuban Jawa Timur, saya sebagai anggota baru komunitas Teater Institut Universitas PGRI ronggolawe Tuban merasakan kendala dalam biaya. memang dibutuhkan kerjasama yang kuat tidak hanya WORKSHOP dan dialog2 saja yang dilakukan tetapi sebuah kerja nyata.

  7. Azwar.An berkata:

    saran saya berteater itu adalah berkesenian .berkesenian adalah bahagian daripada sebuah kemauan . karena itu berkesenian teater harus mempunyai jiwa kemauan,tanpa kemauan maka karya tidak akan ada.
    yang penting adalah kemauan untuk berlatih ,berlatih skali lagi berlatih,tnpa latian sebuah karya yang baik dari teater omong kosong.tanamkan dalam diri kita apakah saya bermain teater sudah layak di tonton?dan penonton sudah percayakah kepada kelompok saya?kalau belum layak maka saya dan kelompok saya wajib berlatih berlatih,dan berlatih lagi . berlatih itu dalam satu minggu kita berlatih lima hari ,dalam satu hari kita berlatih empat jam apakah kita sudah sanggup?bila belum maka layak kiranya kita ikuti workshop melalui workshop kita menambah tata cara berlatih yang baik. yang di latih adalah fisik(tubuh),imajinasi(hayalan),asosiasi aktiv(pengandaian) dan memiliki jiwa(nurani)cinta kepada musik baik klasik maupun modern.saran saya yag terakhr adalah jadilah manusia gagah walupun hidup miskin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: