Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

MALU

Oleh Herman RN

            Setelah dua minggu lalu Apa Teulah berkeliling, minggu ini dia lebih memilih di rumah. Seperti biasa, Apa Teulah duduk di depan Toshiba 20 inci miliknya sambil membaca koran. Sesekali dia nyeruput kopi Aceh yang dihidangkan istrinya.

            Di layar kaca miliknya sedang disiarkan berita tentang polisi yang menembak atasannya. Apa Teulah memelototkan mata dan memasang pendengarannya hati-hati. Dalam hati dia bergumam, kasihan polisi itu harus saling tembak.

            Setelah menonton berita, kini Apa Teulah membaca koran lokal yang sudah di tangannya. Di
sana dijelaskan bahwa masyarakat terkena serpihan peluru aparat dan mati. Hal itu terjadi di
Aceh Utara dan Aceh Tenggara saat berlangsungnya penghitungan ulang suara hasil Pilkada Bupat di daerah tersebut.

            “Munah! Keunoe kajak ilee keu,” ujar Apa Teulah memanggil istrinya.

            “Kamu lihat hukum di negara ini,” lanjut Apa teulah lagi setelah istrinya berada di hadapannya. “Yang punya senjata enak kali menembakkan senjatanya kepada siapa saja. Yang korban
kan rakyat? Apa pejabat negara ini sudah hilang muka sehingga memberikan senjata sewenang-wenang saja?!”

            “Saya kira yang memegang senjata yang kurang paham, Cut Bang. Seharusnya dia tidak melepaskan tembakan ke mana suka,” sahut Maimunah pula.

            “Sama saja, kalau atasan itu mendengar nasihat
orang tua-tua, hal ini tidak akan terjadi. Sayang sekali Aceh yang dikatakan sudah aman masih juga terjadi pembunuhan bersenjata. Padahal endatu kita sudah berpesan, bak ie raya beek tatheun ampeh, bak ie tiréh beek tatheun bube, beek tajôk gukee bak ureueng paléh, nyawoeng abéh geutanyoe malee (pada air besar tak usah ditahan hambat, pada air bocor tak perlu ditahan bubu, jangan berikan kuku kepada orang jahat, harta habis kita pun malu)”

            “Beutoi cit, Cut Bang (Betol juga, Kanda). Kalau saya lihat sekarang ini entah siapa-siapa sudah jadi polisi dan pegang senjata.” Maimunah diam sejenak, lalu melanjutkan, “Ah, itu
urusan pemerintah, Cut Bang, saya masak dahulu ya,” ujar Maimunah sambil berlalu ke dapur.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: