Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

WATAK

Oleh Herman RN           

             Hari ini Apa Teulah merasa bosan di rumah. Dia berjalan-jalan mengelilingi kampungnya. Hampir tiga minggu Apa Teulah tidak ke luar rumah. Selama ini dia hanya mengikuti segala macam perubahan melalui berita-berita yang dibacanya di koran dan telivisi saja.            Apa Teulah terkejut ketika melintasi jalan di gampông Makmu. Di
sana banyak terdapat rumah bantuan, tapi tak ada yang menghuni rumah tersebut. Apa Teulah kemudian mengajak tukang becak yang disewanya itu melewati gampông Cot Krèh. Barak-barak pengungsian di
sana pun terlihat kosong. Dinding-dinding barak itu sudah banyak yang copot. Kelihatannya barak itu sudah lama tidak dihuni.

            Hampir di rata jalan yang dilewati Apa Teulah, dia melihat banyak rumah bantuan, tapi tidak berenghuni. Akhirnya Apa Teulah mengajak tukang becak ke sebuah pantai.            “Saya keluar rumah hari ini karena ingin cari angin. Saya bosan di rumah terus, tapi di luar saya malah menemukan debu, bukan angin,” ujar Apa Teulah.            “Maksud Teungku apa?” tanya tukang becak kurang mengerti.            “Apa Abang tidak lihat, rumah-rumah bantuan itu sangat banyak, tapi kok tidak ada penghuninya? Apa rakyat di gampông ini sudah tidak butuh rumah lagi? Lantas di mana mereka tinggal?”            Belum sempat tukang becak memberi komentar, Apa Teulah kembali membuka suara ketika melihat banyak tenda di kawasan pantai, padahal di
sana juga ada rumah bantuan tipe tiga enam. “Ah, ini apa pula maksudnya? Rumah bantuan di sini sangat banyak, tapi kok mereka masih mendirikan tenda? Untuk apa tenda itu?” lanjut Apa Teulah.            “Menurut kabar yang saya dengar, rumah bantuan itu kayunya lapuk, Teungku. Ya, saya sendiri sekarang sudah membangun jambô di samping rumah bantuan yang diberikan ke saya. Tulang peurabôngnya hampir patah di makan rayap. Daripada saya dan anak istri saya mati tertimpa tiang rumah itu, lebih baik kami tinggal di jambô saja.”            “Untuk apa diberi bantuan kalau akhirnya mencelakakan? Apa pemerintah negeri ini tidak mengenal lagi watak masyarakatnya? Apa dia tidak tahu kalau  sipat orang Aceh itu tidak suka yang tanggung-tanggung? Beginilah ureung Aceh, Ibaratnya, dari pada capiek göt patah, dari pada juléng göt buta (dari pada pencang lebih baik patah, dari pada juling lebih baik buta). Kalau begini terus, penipuan di Aceh tidak akan habis-habisnya.”            Tukang becak hanya tersenyum mendengar Apa Teulah berceloteh.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: