Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Manusia Barak dalam Konteks Prang Sabi

(Studi Kepemimpinan di Aceh)

Oleh Herman RN 

ayoo.jpg“Ija Putéh ngön Sampôh Darah,Ija Mirah ngön Sampôh Gaki”              Demikian sepetik rima hikayat Prang Sabi yang disenandungkan pahlawan Aceh ketika mengusir penjajah ‘kaphé’ Belanda tempo dulu. Dua baris kalimat singkat itu mulai menjadi hadih maja yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh hingga sekarang.            Sebagai sebuah hadih maja, diksi ‘putih’ dan ‘merah’ merupakan dua warna yang kontras. Dia dapat diartikan sebagai tulang dan darah dan dapat pula dimetaforakan sebagai suci dan berani. Ketika makna kedua ini yang dimaksudkan dalam hikayat Prang Sabi, tentu merupakan sebuah pertanda bahwa rakyat Aceh rela berkuah-darah demi menegakkan kebenaran, demi tanah kelahiran, dan tentunya demi membela yang menjadi hak mereka.            Sebagai sebuah hikayat, sudah jelas kata-kata dalam dua baris di atas sangat tajam, sebab dengan karya yang ditulis Tgk. Chik Pantee Kulu itu mampu membuat Belanda tunggang langgang. Hal ini pula yang menyebabkan sebuah hikayat lebih lantang dari karya sastra lainnya.Dalam dua kata berikutnya, ‘darah’ dan ‘gaki’ merupakan sebuah bentuk kenekatan. Kain putih dijadikan sebagai pengusap darah dan kain merah sebagai penyapu kaki adalah dua hal penunjuk nekatnya masyarakat Aceh kala itu. Tentu semuanya mempunyai landasan, salah satunya memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh.            Dari kilasan singkat di atas dapat tergambarkan betapa keras kepala watak orang Aceh yang lebih sangat senang menyebut dirinya dengan Ureueng Aceh. Menurut salah seorang sejarawan, Abu Bakar Aceh, dalam bukunya, “Aceh dalam Kebudayaan-Sastra dan Kesenian” berpendapat bahwa watak orang Aceh sama dengan orang Badui dari Jazirah Arab. Kesamaan tersebut menurutnya karena Ureueng Aceh selain keras kepala seperti orang Badui, juga memiliki hati dan sifat yang lemah lembut. Dapat diartikan bahwa orang Aceh berfikir dengan hati dan bertindak dengan naluri.            Kembali pada kalimat di atas, kain putih dapat diartikan sebagai sifat yang lemah lembut seperti yang dikatakan Abu Bakar, sedangkan kain merah dapat dilambangkan sebagai kerasnya watak orang Aceh.  Jika demikian, benar hadih madja yang mengatakan kalau “Ureueng Aceh hanjeut teupèh. Meunyö teupèh bu leubèh han meuteumeè rasa, tapi meunyö hana teupèh, boh kreèh jeut ta raba.” Kira-kira jika diartikan dalam bahasa
Indonesia, Orang Aceh tidak boleh tersinggung. Jika tersinggung, nasi sisa tidak diberi rasa, tetapi jika tidak tersinggung, alat kelamin pun boleh diraba.            Paparan di atas sekedar napak tilas. Dalam konteks ini yang hendak saya katatakan bahwa sikap keras dan gigih orang Aceh terlihat kembali pada apa yang dilakukan oleh Forum Kominikasi Antar Bara (Forak) yang dalam warkah ini saya sebut sebagai ‘orang barak’.            Apa yang sudah diperbuat orang-orang barak sejak aksi mereka yang pertama, yaitu di akhir 2006 lalu merupakan sebuah perlawanan terhadap penguasa yang menurut penilaian mereka telah ‘menjajah’ hak rakyat. Aksi tersebut kembali diperlihatkan orang barak itu pada 9 dan 10 April lalu. Bahkan, tindakan mereka pada hari kedua (10 April) dapat diterjemahkan sebagai sebuah prang sabi.            Semua kita tahu, di atas selembar kain putih mereka teteskan darahnya sebagai bukti rela berkuah darah demi yang menjadi haq. Dalam masyarakat Aceh masa lampau, tetesan darah merupakan lambang mati-matian. Artinya, mereka telah siap mati yang menurut mereka akan dapat pahala syahid.Adalah pemimpin Forak telah menunjukkan hal itu. Di hadapan seratusan rakyat Aceh serta disorot berbagai media. Ayah angkat orang barak itu telah menjatuhkan darahnya di bumi Serambi Mekah ini. Padahal semua tahu daerah ini baru saja damai, tetapi darah yang dalam Prang Sabi diartikan sebagai siap mati kembali disenandungkan ayah angkat orang barak itu di tanah ini. Bukan mustahil ini berarti perang akan segera dimuali kembali.Sayangnya, pemimpin Prang Sabi itu bukan lagi orang Aceh, melainkan orang ibu
kota. Apakah ini pertanda orang Aceh benar-benar telah kehilangan pegangan (pemimpin) sehingga senandung perang dapat ditiupkan oleh orang
kota? Kemana jiwa dan semangat kepahlawanan orang Aceh yang dikenal dahulu sangat tidak mudah dibujuk rayu?
            Tulisan ini bukan sebuah kekhawatiran atau menambah kekacauan, tetapi merupakan sebuah ketakutan. Andaikan orang ibu
kota itu nantinya kembali ke kotanya, apakah semangat juang rakyat Aceh masih menyala untuk mempertahankan haknya? Sebab, amatan penulis, semangat orang barak itu pernah mengendur sesaat setelah aksi perdananya, tepatnya ketika orang ibu
kota itu berada dalam kasus hukum. Semangat orang barak baru kembali menyala ketika bapak angkatnya itu kembali ke Aceh. Bukan mustahil akhirnya orang Aceh selalu bergantung pada orang luar.            Memang sudah menjadi watak orang Aceh mempunyai hati yang lembut. Hal ini seperti kain putih yang disimbolkan dalam hikayat Prang Sabi. Akan tetapi, bukan berarti selalu harus menyerah pada bujuk rayu orang luar. Masih kita ingat pesimisme sekelompok kaum intelektual Aceh terhadap Kuntoro ketika dinobatkan menjadi pemimpin BRR untuk membangun Aceh. Kaum intelektual Aceh kala itu berpendapat bahwa yang mampu membangun Aceh hanyalah dari orang Aceh sendiri. Pesimisme itu terbukti sekarang.Namun, Aceh yang selalu memiliki sifat mengalah, memberi kesempatan kepada Pak Kun dan sekarang mencercanya. Sesama orang Aceh pun kita hilang kepercayaan. Orang Aceh di luar BRR tidak percaya terhadap orang Aceh yang di BRR, karena mereka hanya memperkaya diri sendiri. Akhirnya kesenjangan sesama kaum tak dapat dihindari.Bukan tidak mungkin hal ini terulang kembali di bawah aksi ayah orang barak itu. Ketika ada sekelompok masyarakat yang tidak ikut aksi, bisa saja dianggap berpihak kepada BRR oleh masyarakat pengikut aksi. Jika hal ini terjadi, apa yang akan dilakukan ayah orang barak itu patut kita pertanyakan sejak dini,  sebab jika dia berhasil menanamkan kepercayaan di hati ureueng Aceh, dia akan jadi panutan masyarakat Aceh. Hal ini karena uereueng Aceh mudah teupèh.            Jika dia berhasil menyentuh hati orang Aceh, hilanglah kepercayaan orang Aceh terhadap pemimpin yang asli orang Aceh. Artinya, kepemimpinan orang Aceh zaman sekarang dapat dikatakan gagal menyatukan ureueng Aceh, tidak seperti pemimpin tempo dulu yang berdiri di barisan depan demi perubahan Nanngroenya.Maka, patut dipertanyakan, siapa sebenarnya pemimpin di ureueng Aceh sekarang ini? Orang Aceh kah atau orang yang ingin tinggal di Aceh? Kemana pula kiblat ureueng Aceh ini sebenarnya? Sudah hilangkah darah Aceh di hati pemimpin Aceh sehingga rakyatnya harus ikut meneteskan darah bersama orang nonAceh dengan persaksian kubah dan menara mesjid Raya Baiturrahman?            Semoga jawabannya tidak terpendam terlalu lama, karena hikayat Prang Sabi sudah mulai menggema, Abu dan Umi!                                                                       Penulis; mahasisw PBSID FKIP USK,                                                                     Cerpenis dan pegiat kebudayaan di                                                                     Banda Aceh. 

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: