Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

ZINA

Herman RN        

sabang-hill.jpg

  Suatu hari, Apa Teulah pergi menghilangkan penat di salah satu tempat wisata di kotanya. Apa Teulah berangkat melihat-lihat keadaan
kota Sabang. Namun, sesampainya di sana Apa Teulah mendengar ada kabar tidak baik di
kota itu.

          Apa Teulah mendatangi salah satu kios penjual bakpia, penganan Sabang yang terkenal itu. Kepada penjual bakpia Apa Teulah bertanya, “Mengapa wisata di tempat ini sepi? Saya dengar ada kabar tidak baik. Apa Ibu tau yang sedang terjadi di sini?”          “Ya, dua hari ini tempat wisata Sabang memang sepi. Sabang hanya dipenuhi parawartawan, sebab salah satu pejabat di Sabang ini kedapatan berbuat zina. Padahal dia orang yang memutuskan hukuman kepada setiap yang bersalah. Seharusnya dia tidak melakukan itu,” ujar penjual itu bercerita panjang lebar.          “Hakim berzina?!” mulut Apa teulah membentuk huruf O.          “Ya, dia ketahuan ada main dengan salah seorang perempuan ibu
kota,” balas penjual bakpia itu pula.          Nyan kageubuka bajee bak dada (itu sudah membuka baju di dada). Macam-macam aja kerja pejabat sekarang,” Apa Teulah berkata sambil geleng-geleng kepala.          “Begitulah. Namanya saja pejabat, kalau tidak seperti itu
kan tidak jadi sorotan, kalau tidak jadi sorotan, kapan terkenalnya? Lagi pula, uang sudah bicara, Pak. Hana nyang putik, nyang tuha pi keumah, awai boh bajeuk dudo boh panah, pane lom leumah seunalob ka na, (Tak ada yang mentah, yang tuha pun boleh, semula kebakal, nantinya buah nangka, mana lagi tampak sudah ada pembalutnya,” ungkap pedagang bakpia.          Apa Teulah terkekeh mendengar penuturan penjual bakpia tersebut. Apa Teulah berdecak, “Gara-gara dia satu, malu kita satu negeri. Nyan keu meunan meunyoe bak ie raya tabôh ampéh, bak ie tiréh tateun bubee.”          “Sebentar, Pak! Maksud Bapak apa?”          “Maksud saya itu, hati-hati memilih pemimpin. Meunyoe hana taturi bèek tapiléh, hareuta rakyat dipeuhabéh geutanyoe pi malèe (Kalau tak kenal jangan dipilih, harta rakyat dihabiskan, kita rakyat pun malu),” tukas Apa Teulah sambil terus berlalu meninggalkan kios ibu itu.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: