Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Syariat

Herman R Ndscn9704.jpg

“Nyan ka paloe!” teriak Apa Teulah tiba-tiba di suatu pagi.

Waktu itu Apa Teulah sedang menikmati segelas kopi ateng, cita rasa khas kopi takengon itu. Seperti biasa, di tangannya terdapat Harian surat kabar terbitan gampôngnya. Ketika membaca salah satu judul berita di koran itulah, Apa Teulah spontan menjerit.

“Munah! Keunoe kajakkeuh ilee (Kesini sebentar kamu),” lanjut Apa Teulah memanggil istrinya.

Dengan sedikit terbirit, Maimunah menghampiri suaminya. “Ada apa, Cut Bang? Jangan panggil keras-keras lah, terkejut saya, terkejut pula nanti anak kita yang di dalam perut saya ini,” ujar Maimunah sesampainya di depan suaminya.

“Ke lihat, Munah, berita di koran hari ini, ada pemangku syariat yang main-main dengan syariat. Negeri macam ini?” tutur Apa Teulah.

“Apa maksud, Cut Bang, pemangku syariat main syariat? Saya ndak ngerti.”

“Dengar ya, Munah. Di daerah kita ini kan ada yang namanya pengawas syariat Islam. Sebagai pengawas dan penghukum orang yang melanggar syariat Islam, berarti dia adalah pemangku syariat. Sebagai pemangku syariat seharusnya dia tidak melakukan perbuatan yang melanggar syariat. Coba kamu lihat koran ini,” papar Apa Teulah seraya memperlihatkan judul koran yang baru dibacanya.

“Pemangku syariat ditangkap karena melanggar syariat. Ini kan jeruk makan jeruk namanya. Orang seperti ini yang diangkat jadi pemangku syariat dan adat? Heuh, tayue jak di keu ditôh geuntôt, tayue jak di likôt jisipak tumèt, tayue jak bak teungoh jiseumeungkeè, pane patôt jeut keu panguleè (Kita minta berjalan di depan dia kentut, diminta berjalan di belakang, dipijaknya tumit kita, diminta jalan di tengah ia sikut, mana pantas dia jadi pimpinan!” lanjut Apa Teulah.

Maimunah mengangguk-angguk mendengar kata suaminya.

“Satu hal lagi, Munah, makanya selama ini aku terus memperingati kamu. Itu semua agar ke tidak melanggar adat istiadat di gampông kita ini, sebab melangga hukôm raya akibat, meulangga adat maleè bak donya (melanggar hukum besar akibat, melanggar adat malu pada dunia),” ujar Apa Teulah sambil mereguk kopinya yang mulai dingin.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: