Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tergelitik Angan Pak Rektor

>>Herman RN

Sangat menggelitik ketika membaca beberapa media lokal Aceh pada awal bulan Mei 2007 ini. “Universitas Syiah Kuala akan Memberikan Gelar Doktor Honoris Causa (DHC) kepada Mahathir,” demikian paling tidak yang dapat penulis tangkap dari beberapa judul di beberapa media cetak Aceh.

Kata “menggelitik” dalam kalimat awal penulis ketika membuka warkah ini adalah ketika penulis teringat berita yang disiarkan media pada bulan April lalu. Dikatakan di sana bahwa pemerintah Malaysia akan menghukum gantung penduduk Aceh yang kedapatan mengedar dadah (ganja) di negara jiran tersebut.

Memang, logisnya pengedar dadah itu bersalah. Namun, apakah upaya pemerintah dalam menetralisir suasana yang meresahkan rakyat Aceh di tanah Serambi ini? Yang sangat menggelitik untuk kesekian kalinya saya sebutkan dalam warkah ini adalah ketika pemerintah Malaysia akan mengantung rakyat Aceh di sana, Unsyiah, sebuah lembaga jantong hatee rakyat Aceh memberikan penghargaan yang sangat bermartabat kepada mantan perdana menteri Malaysia. Bukankah dua hal ini sangat singkron sehingga menggelitik?

Sejumlah rakyat Aceh mengatakan turut prihatin terhadap hukuman yang akan menimpa sebagian rakyat Aceh di Malaysia. Namun, sebagai rakyat biasa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Berbeda dengan kepala perguruan tinggi jantong hatee rakyat Aceh yang mewujudkan keprihatinannya dengan memberi gelar DHC kepada Mahathir. Menariknya dalam sebuah berita disebutkan bahwa pemberian gelar tersebut tidak melibatkan seluruh senat di Unsyiah sehingga Pemerintah Mahasiswa (Pema) meminta agar Rektor berpikir kembali. Hal senada juga dengan yang diungkapkan oleh KAMMI (Lihat Harian Aceh, 1 Mei 2007).

Tergelitik yang lain dapat saya sebutkan tentang Unsyiah hari ini. Apa yang dapat dibanggakan Unsyiah hari ini tentang bangunan dan fasilitas lainnya di lingkungan Unsyiah?

Sebagai alumni Universitas jantong hatee rakyat Aceh, saya sangat sedih melihat kejanggalan di Unsyiah yang sekarang menjadi kebanggaan pihak rektorat. Saya katakan kebanggan, sebab hampir di setiap pertemuan dan ucapan Rektor (di beberapa media) yang saya ikuti, Rektor seolah-olah berkata, Unsyiah sudah maju. Unsyiah telah jaya.

Kemajuan apa yang menjadi kebanggaan Pak Rektor hari ini? Apakah karena sudah mampu memberikan gelar Doktor kepada Mahathir? Atau karena Unsyiah sudah memiliki banyak bangunan seperti gedung AAC/ Dayan Dawood yang megah di seantero Nusantara itu? Lantas, dari kalangan mahasiswa banyak yang mengeluh, mengapa gedung yang didirikan atas nama Unsyiah itu harus juga dibayar oleh mahasiswa ketika ingin menggunakannya?

Semula, alasannya untuk beaya perawatan dan kebersihan. Apakah beaya perawatan kebersihan harus sama harganya dibayar mahasiswa dengan orang lain yang menggunakan AAC, sedangkan mereka (mahasiswa) menggunakan fasilitas gedung itu dalam rangka kegiatan akademik? Keluhan dari paramahasiswa ini penulis kira perlu dipikirkan pihak rektorat. Pasalnya, mereka (mahasiswa) itu menggunakan fasilitas AAC untuk kegiatan mahasiswa. Kalaupun mereka harus membayar, mengapa mesti setara nominalnya dengan pihak luar yang menggelar acara yang tidak ada sangkut-pautnya dengan akademik? Keluhan itu penulis kira sudah sangat sering kita dengar dari kalangan mahasiswa.

Ada kasus menarik lainnya. Sehari sebelum hari pemberian gelar tersebut Rektor sempat berbincang-bincang dengan pihak mahasiswa dalam hal transfaransi. Kasus menarik itu dapat penullis pilah jadi dua. Pertama, disaat Rektor gembar-gembor mengatakan akan memberikan tranfaransi kepada seluruh pihak civitas akademika tentang seluruh kegiatan di rektorat, terutama berhubungan dengan dana, kesempatan tersebut diambil oleh Pemerintahan Mahasiswa untuk menyodorkan selembar kertas.

Menariknya, semula rektor membeberkan semuanya, tetapi ketika Pema minta untuk Rektor menandatangani sehelai surat yang menyatakan Rektor akan transfaran, Rektor berseru, “Cobalah untuk beradab!”

Pasalnya, di kertas yang harus ditandatangani oleh Rektor itu tercantum, “Jika Rektor tidak dapat memperlihatkan transfaransi kepada seluruh civitas akademika Unsyiah dalam tenggang waktu empat belas hari, Rektor bersedia mengundurkan diri dari jabatan Rektor Universitas Syiah Kuala.

Mendengar pernyataan itu ketika dibacakan oleh salah seorang mahasiswa, Rektor serta merta meraih alat pengeras suara dan menyatakan penolakannya terhadap keinginan mahasiswa. Ironis memang, semula Rektor mengungkapakan kesanggupannya akan terbuka terhadap segalanya, kemudian enggan melakukan keinginan mahasiwa karena disebutkan dirinya bersedia mengundurkan diri.

Hemat penulis, keinginan mahasiwa adalah tantangan bagi Rektor sekarang dan bagi Rektor yang akan memimpin Unsyiah selanjutnya. Hal ini bertujuan agar terciptanya kebersihan dan keterbukaan di Jantong Hate rakyat Aceh. Namun, perlu ditilik juga kelancangan mahasiswa tersebut. Di satu sisi memang bagus, di lain sisi jika tidak ada Rektor di Unsyiah yang mampu transfaransi, akankah Unsyiah disibukkan dengan pilih-ganti Rektorat saban empat belas hari sekali?

Kasus kedua yang menurut penulis juga menarik dan menggelitik adalah di hari itu ada mahasiwa yang dipenjara karena kesalahpahaman dengan dosen pembimbing tugas akhir (TA). Menurut Pema, mahasiswa yang mengalami selisih paham dengan dosen pembimbing seharusnya tidak sampai ke pihak kepolisian. Kasus kampus harus diselesaikan di kampus terlebih dahulu, baru kemudian jika tidak mampu diselesaikan, ditempuh jalur hukum. Demikian keinginan mahasiswa.

Namun, Rektor berkata kalau dirinya tidak tahu kasus itu. “Saya baru dengar,” ujar Rektor (Harian Aceh, 1 Mei 2007). Sungguh memprihatinkan ketika mahasiswa berkasus dengan dosennya, Rektor tidak tahu apa-apa, sedangkan mahasiswa tiba-tiba sudah dipenjara. Inikah angan Pak Rektor yang akan memajukan Unsyiah bersih dan beradab di masa datang? Semoga saja kita mendapatkan kelegaan dari angan Pak Rektor yang menggelitik itu.

Penulis adalah alumni Unsyiah,

Peminat masalah pendidikan dan sastra.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: