Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Siswa se-Sumatra Ngumpul di Bekas Tsunami

Herman RN, Aceh Besar

            Ombak mengalun sendu di pantai Lampu’uk. Dentumannya yang memecah di tepi pantai ditambah semilir angin laut yang menyelip di helai-helai daun pinus tidak membuat orang-orang di sebuah gubuk sisa tsunami di pantai itu terlelap. Mereka larut dalam bincang-bincang selarut buih yang menyembul dari pecahan di bibir pantai Lampu’uk.

            Seorang lelaki berambut gondrong berkemeja abu-abu. Seorang lagi mengenakan kaos berkerah hitam. Seorang berkustum rapi dengan rambut poni terurai diterpa angin. Seorang lagi lelaki berkumis tebal. Sedangkan di hadapan mereka, orang-orang usia belasan tahun duduk melingkar.

            Diam, kecuali suara ombak yang sesekali bersuara layaknya petir. Namun, masih terdengar bisik-bisik dan tawa berdehem ketika lelaki berambut gondrong itu berkata-kata. Di antara anak-anak belasan tahun itu juga terlihat beberapa lelaki dan perempuan dewasa. Mereka duduk mendampingi anak belasan tahun itu.

            “Semua tergantung bagaimana penafsiran kita terhadap sebuah puisi. Puisi dapat ditafsirkan berbeda, tergantung penafsir melihatnya dari sisi mana,” ujar lelaki gondrong yang kerap menyebutnya dirinya sebagai Papi.

            Lelaki itu menambahkan, jika kita ingin membawa puisi ke musik, harus ditafsirkan sedetail mungkin. Kenal terhadap pengarang sangat membantu kita dalam penafsiran. Sudut pandang dalam menafsirkan sebuah puisi, menurut lelaki itu harus sangat jeli.

            Lelaki itu terus ngoceh di hadapan puluhan anak usia belasan tahun. Fredie Arsi, demikian nama lelaki itu. Dia dikenal sebagai dedengkotnya musikalisasi puisi. Sedangkan anak usia belasan tahun itu adalah kumpulan siswa SMA yang mewakili berbagai daerah belahan Sumatra.

            Acara itu merupakan bincang-bincang sekitar sastra, terutama menekankan pada puisi. Lebih lanjut dapat dikhususkan lagi bincang-bincang sekitar musikalisasi puisi.

            Kegiatan yang diadakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh di tepi pantai Lampu’uk itu merupakan salah satu agenda dalam rangka Festival Musikalisasi Puisi tingkat SMA se-Sumatra yang pada tahun ini diadakan di Banda Aceh. Sebagaimana diberitakan Harian ini dua hari yang lalu, bahwa dalam festival tahun ke-dua ini, SMA Fajar Harapan yang menjadi duta Aceh berhasil memenangkan lomba tersebut.

            Selain bincang-bincang sastra, Helmi, salah seorang panitia dari Balai Bahasa Banda Aceh, menjelaskan bahwa dalam acara itu juga ada rekreasi ke tempat-tempat bekas terjangan tsunami.

            “Mereka datang dari jauh, dari seluruh penjuru Sumatra. Sayang kalau kesempatan ini tidak kita berikan kepada siswa-siswa SMA itu untuk melihat-lihat Aceh setelah tsunami,” ujar Helmi yang pada waktu itu bertindak sebagai pendokumentasi.

            Hadir dalam bincang-bincang itu kepala Balai Bahasa Banda Aceh, Dr. Radjab Bahry, M.Pd. yang pada saat itu mengenakan kostum rapi dengan kemeja dan dasi. Disebelahnya, lelaki yang mengenakan kaos berkerah merupakan salah satu dewan juri dalam festival kemarin. Lelaki sarjana kesenian sekaligus musisi itu bernama Tahan Perjuangan dari Sumatra Barat. Sedangkan seorang lagi yang berkumis tebal adalah salah seorang pegawai Balai Bahasa Banda Aceh sekaligus pegiat teater O Sumatra Utara. Mereka semua jadi pembincang dalam diskusi bersama siswa se-Sumatra di pantai Lampu’uk.

            Perbincangan itu membicarakan bagaimana teknik musikalisasi puisi sebenarnya sehingga mampu menyampaikan puisi kepada penonton melalui medium vokal dan musik.

            Fredie Arsy mengatakan kalau muskalisasi puisi mampu menjadi sebuah seni pembelajaran bermartabat, karena musikal menurutnya adalah medium seni yang menggunakan gaya sopan santun dan langsung menyentuh ke hati penonton selama ia diiringi musik yang sesuai.

            Dalam bincang-bincang itu, kepala Balai Bahasa Banda Aceh mengungkapkan kalau ke depan pemerintah sudah mampu bekerja sama dengan pegiat seni. Sedangkan selama ini dirinya menilai pemerintah kurang apresiasi terhadap kelanjutan kesenian.

            “Kemarin saya berpidato sadis menghujat pemerintah sampai saya dikatakan tidak pantas jadi pejabat, tetapi setelah pidato itu saya dipanggil salah seorang pegawai Pemda. Mereka mengatakan siap membantu kegiatan kesenian. Silakan masukkan proposal,” ujar dosen FKIP Unsyiah itu.

            Selepas bincang-bincang tersebut parasiswa diboyong ke Ulee Lheu untuk melihat perubahan pascatsunami di sana pula. Selain itu siswa diberi kesempatan mampir ke PLTD apung yang menjadi saksi keperkasaan tsunami.

Iklan

Filed under: Feature

6 Responses

  1. Masriadi Sambo berkata:

    Feature keren abis nih. apa kegiatan setelah wisuda man? bagaimana kabarnya? udah lama ya tidak ketemu. sukses yah.

  2. teguh santoso berkata:

    Berita Balai Bahasa Banda Aceh siiip deh…tapi saya kurang yakin dengan pernyataan Kepala Balainya…….kok apa iya segitunya memperjuangkan kesenian (dlm arti luas)…..Apa bukan krn lagi diwawancarai?

  3. Turpan Desky berkata:

    Rajab Bahry tau apa tentang seni??? Seni korupsi bisa kali, seni menjilat bisa kali, seni cari uang haram bisa kali?
    Balai Bahasa Banda Aceh belum berbuat apa2 untuk dunia seni termasuk dunia bahasa.
    Untuk Fredie Arsy lumayan juga tambahan emas istrimu karena udah sering kali ke Aceh. Sepertinya tidak ada orang Aceh yang bisa mengajarkan musikaliasi puisi ya?

  4. Suyadi San berkata:

    Benar, Fredie Arsi suatu saat menjadi orang yang besar. Dia patut diberi gelar Bapak Musikalisasi Puisi Indonesia. Dialah yang mampu melangkah memasyarakatkan musikalisasi puisi di seluruh sekolah di Indonesia. Tak melihat usia, ia menelusuri wilayah Indonesia untuk membawa marwah muskalisasi puisi. Salut dan banggsa apada beliau.

  5. lidahtinta berkata:

    Untuk Turpan Desky:
    Sebenarnya di Aceh ada yang ahli puisi, atau sastra lainnya. Hanya saja, pejabat di Aceh kurang percaya mereka (mungkin) makanya diminta dari luar. Lagian, biar keren gitu lho… hehehe…

  6. anti_sastrakalengan berkata:

    Jadi, orang Aceh ndak keren ya??? Kaciaannn deh Aceh!!! Gimana mau maju kalau apa-apa didatangkan orang dari luar??? Yang penting ilmunya Bung bukan orangnya.
    Aduuuh Maskirbi, mengapa kau bersama tsunami yang menyapa di pagi 26 Desember 2004. Apakah semua penyair Aceh udah hanyut oleh tsunami???
    Tanya kenapa???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: