Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

>> AISYAH

Oleh Herman RNtitania_wp.jpg

Suara gaduh dalam ruang sidang itu memuncak ketika Briyan berkata, “Salah dia sendiri. Kalau dia tidak suka, seharusnya dia tidak melakukannya.”

“Kurang ajar!” teriak seorang lelaki dari barisan pengunjung persidangan. Beberapa saat kemudian lelaki tua itu terbatuk-batuk. Perempuan belasan tahun yang duduk di sampingnya mengusuk-ngusuk punggung lelaki itu.

“Sabar, Pak,” ujar gadis remaja itu seraya menahan tangis.

Terdengar Pimpinan Sidang mengetuk palu di meja. “Tenang! Tenang! Semuanya harap tenang! Ini ruangan sidang, bukan pasar ikan, dan bukan pula warung kopi.”

Pimpinan Sidang melirik ke arah seorang gadis yang berseberangan dengan Briyan. Perempuan yang ditatap itu menunduk. Wajahnya tampak kuyu. Perlahan tatapannya memudar, lalu sebiji air jatuh menimpa lantai tempat dia berdiri.

“Aisyah, kamu mau berkata?” ujar Pimpinan Sidang kepada perempuan itu.

Perempuan yang bernama Aisyah itu masih menunduk. Perlahan tubuhnya menggigil, lama kelamaan gigil tubuh itu semakin hebat. Sekejap kemudian tubuh itu roboh ke lantai. Bajunya tersingkap sampai ke paha. Paha putih milik Aisyah jadi tumpuan pandangan orang-orang di ruangan itu. Suara gaduh dari pengunjung sidang kembali terdengar.

“Kakak…!” jerit salah seorang gadis dari arah pengunjung persidangan. Perempuan itu tak lain yang duduk di samping lelaki tua tadi. Dia hendak bangkit dari tempat duduknya, tetapi lelaki tua di sampingnya tersedak menahan batuk. Lelaki itu seperti sulit bernapas begitu melihat Aisyah tumbang.

“Ayah!” teriak perempuan di samping lelaki itu.

Lelaki tua yang tak lain adalah ayah Aisyah, itu tak dapat mengeluarkan suara. Dia hanya mampu menunjuk ke arah Aisyah yang tak sadarkan diri dengan paha terkangkang.

Ruang sidang semakin riuh. Gelak tawa dari beberapa lelaki muda terdengar sambil berkata, pahanya mulus, pantas saja banyak yang tertarik padanya.

Pimpinan Sidang kembali mengetuk meja. “Keamanan!” seru Pimpinan Sidang, “Angkat perempuan itu ke kamarnya!” ujar Pimpinan Sidang menunjuk tubuh Aisyah.

Setelah Aisyah diboyong keamanan meninggalkan ruang persidangan, Pimpinan Sidang berkata lagi, “Karena keadaan korban tidak memungkinkan, sidang ditunda sampai esok hari.”

Selesai berkata demikian, palu kembali diketuk sebanyak tiga kali pertanda sidang ditutup. Suara gaduh alas kaki beradu dengan lantai pun terdengar meninggalkan ruang seukuran dua kali lapangan voli itu. Satu persatu menghilang di balik pintu.

Bangku-bangku di barisan tempat pengunjung sidang mulai kosong. Kini hanya terlihat dua sosok manusia di sana. Seorang lelaki tua dan seorang lagi gadis belia usia sekolahan.

Briyan berlalu meninggalkan ruang sidang sambil menatap lelaki tua dan anaknya itu. Lelaki tua itu menatap Briyan dengan mata seakan hendak menerkam.

Pimpinan Sidang menghampiri ayah Aisyah. “Bapak, pulanglah dahulu, besok masalah ini akan kita selesaikan,” ujar Pimpinan Sidang. “Linda, bawalah bapakmu pulang. Jangan lupa beli obat untu bapakmu,” lanjutnya seraya memandang ke arah gadis di samping lelaki tua itu. Gadis itu mengangguk sambil memapah ayahnya. Ayah Aisyah memandang Pimpinan Sidang sejenak dengan mantap.

“Bapak jangan khawatir, Aisyah biar sama kami. Di sini dia dilindungi oleh hukum,” ujar Pimpinan Sidang memahami arti tatapan ayah Aisyah.

Mendengar ucapan Pimpinan Sidang, ayah Aisyah pun meninggalkan ruangan persidangan dengan anaknya, Maulinda.

***

Di kamar yang hanya diterangi sebuah lampu pijar 25 Watt itu terlihat seorang perempuan terlentang kuyu di atas ranjang empat kaki. Sepray biru tua yang menjadi alas tidurnya tampak kusut. Perempuan itu pun membiarkan bajunya tersingkap selutut. Rambutnya acak-acakan. Mata perempuan itu menatap ke langit-langit kamar, tapi tatapannya kosong. Padahal, di langit-langit kamar itu sedang ada dua ekor cecak yang saling himpit. Mungkin juga sesang saling piting.

Perempuan itu tidak tertarik pada cecak yang sedang gigit-gigitan itu. Cecak itu sesekali berdecak. Tatapan perempuan itu jauh seakan menembus atap kamar sampai ke langit. Tak ada mimik di wajahnya. Wajah itu hampa.

Perlahan daun pintu terbuka. Seorang lelaki masuk menghampiri perempuan yang terlentang dengan gaun putih kusut tersebut. Perempuan itu tak menggubris. Kelihatannya dia tidak menyadari kalau lelaki yang barusan masuk itu sedang menatap tubuhnya yang terlentang.

Tatapan lelaki itu tertuju di bagian kaki Aisyah. Di sana dilihatnya paha putih Aisyah sedikit menyembul di balik gaunnya yang tersingkap selutut. Pandangan lelaki itu naik ke atas, lalu berhenti sesaat di pangkal paha Aisyah. Kemudian mata lelaki itu kembali menjalar ke bagian yang lebih atas. Pandangannya kembali berhenti di bagian dada Aisyah. Napas lelaki mendesah. Dadanya turun naik.

Aisyah masih terlentang menatap langit-langit. Lelaki itu mendekat. “Aisyah,” sapa lelaki itu sambil mendekati Aisyah.

Aisyah menoleh, lalu segera duduk membetulkan gaunnya. “Eh, Bapak Pimpinan Sidang,” ujar Aisyah. Suaranya serak tertahan di tenggorokan. Matanya cekung dan lembam.

“Tidak usah, tidur saja, tidak mengapa. Saya hanya sebentar,” sahut Pimpinan Sidang seraya duduk di sebelah Aisyah sebelum sempat Aisyah duduk. Tangan Pimpinan Sidang menekan pundak Aisyah.

Mendengar tuturan Pimpinan Sidang, Aisyah tidak jadi duduk. Dia membiarkan tubuhnya terlentang. Tanpa di sadarinya mata Pimpinan Sidang bersinar menatap wajahnya.

“Saya hanya ingin tahu bagaiman keadaanmu setelah tadi siang, saya khawatir, kamu…”

“Saya tidak apa-apa, Pak. Saya minta maaf karena telah mengacaukan persidangan tadi siang.”

“Ah, tidak, Aisyah. Kamu tidak mengacaukan persidangan. O ya, mengapa kamu tadi siang bisa pingsan?”

Aisyah diam. Matanya kembali menerawang.

“Maaf, kalau pertanyaan saya menyinggung perasaanmu. Saya hanya bermaksud ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Saya dengar-dengar Briyan tidak sendirian.” Suara Pimpinan Sidang sedikit berbisik ke telingan Aisyah.

“Apakah Bapak percaya kalau saya cerita?” tanya Aisyah sambil menatap mata Pimpinan Sidang mantap.

Pimpinan Sidang membelai rambut Aisyah, lalu membawa kepala perempuan itu ke pangkuannya. “Ceritakanlah, Aisyah. Ceritakanlah kejadian yang sebeenarnya. Di sini tak ada orang yang membantah perkataanmu.”

“Apakah Bapak percaya omongan seorang perempuan seperti saya?”

“Aisyah, semua makhluk sama, lelaki dan perempuan tak ada beda di mata hukum. Yang membedakan mereka hanyalan kebenaran.”

“Mereka berlima,” ungkap Aisyah setelah diam beberapa saat. “Briyan adalah salah satunya. Empat orang lagi saya tidak mengenalnya. Malam itu sangat gelap dan gerimis. Mereka mengancam saya dengan senjata. Makanya saya hanya diam dan menuruti kemauan nafsu bejat mereka,” lanjut Aisyah.

“Mengapa kamu tidak berteriak?” Pimpinan Sidang memijit-mijit kecil kepala Aisyah.

“Bagaimana bisa saya berteriak, mereka mengancam saya dengan senjata. Diam saya bukan berarti suka atau menuruti mereka, Pak” suara Aisyah dengan suara mulai serak.

Pimpinan Sidang mulai memijat-mijat pergelangan tangan Aisyah. “Sabar, Aisy. Masalah ini akan selesai. Kamu bertahanlah, saya akan mencoba menyelesaikan masalah ini.”

Tangan Pimpinan Sidang mulai memijat pundak Aisyah, sekejap kemudian tangan kekar itu menjalar ke dada Aisyah. Di sana dia juga memijat-mijat lembut. “Kamu tenang saja. Tak perlu rebut-ribut. Saya akan menjebak Briyan dan kawan-kawannya dengan undang-undang.”

Tangan Pimpinan Sidang mulai meremas-remas dada Aisyah. Mata Aisyah menatap mata Pimpinan Sidang. Belum sempat Aisyah berkata, Pimpinan Sidang sudah kembali bersuara. “Semuanya akan beres, Aisyah, tak perlu ribut-ribut,” ujar Pimpinan Sidang seraya menyelipkan tangannya ke balik gaun Aisyah.

“Pak! Apa yang kau lakukan?!” jerit Aisyah.

Pimpinan Sidang segera meletakkan jari telunjuknya di mulut Aisyah. “Saya akan menolongmu. Saya akan menangkap Briyan dan kawan-kawannya melalui jalur hukum. Briyan akan dimasukkan dalam penjara. Kamu tenang saja. Apakah kamu tidak ingin melihat Briyan masuk penjara?”

Aisyah kembali diam. Dalam kepalanya terbayang wajah Briyan yang merintih menahan sakit dicambuk oleh penjaga penjara. Darah segar mengalir di sekujur tubuh Briyan. Briyan merintih minta ampun. Briyan menyesali perbuatannya atas Aisyah.

Bibir Aisyah menyunggingkan senyum ketika membayangkan semua itu. Aisyah membayangkan opas penjara menghajar kelamin Briyan yang telah merobek kehormatannya. Napas Aisyah sesak. Di kepalanya, bermain wajah Briyan dan empat lelaki bertopeng yang datang sambil memohon ampun. Aisyah tersenyum. Senyum kepuasan karena Briyan dihajar habis-habisan oleh opas penjara.

Pimpinan Sidang tersenyum di samping Aisyah. Matanya melirik wajah perempuan pucat yang mulai menyungging senyum itu. Dada Pimpinan Sidang turun naik menahan napas. Kelihatannya, dia sangat lelah seperti orang baru habis mendaki gunung. Aisyah tersenyum. Pimpinan Sidang juga. Mereka tersenyum puas.

***

“Hari ini sidang lanjutan kasus korban pemerkosaan terhadap saudari Aisyah dengan terdakwa saudara Briyan,” ujar Pimpinan Sidang seraya mengetok palu tiga kali, tanda sidang hari itu dimulai.

Beberapa orang saksi dimajukan dan beberapa orang pembela dari pihak terdakwa sudah angkat suara. Namun, kasus itu kelihatannya belum menemukan titik temu. Tiba-tiba saja Aisyah berteriak lantang.

“Pimpinan Sidang! Mana janjimu?! Bapak Bilang tadi malam akan menangkap si kurang ajar Briyan. Mana?!”

Spontan suara gaduh terdengar dari arah pengunjung sidang. Semua mata tertuju ke arah Pimpinan Sidang setelah beberapa saat tertarik dengan teriakan Aisyah. Wajah Pimpinan Sidang merah padam. Pimpinan Sidang melihat wajah-wajah di depannya itu seperti parapemburu yang sedang menyerbu mangsanya yang hanya tinggal tiga langkah lagi.

Pimpinan Sidang segera memukul palu beberapa kali. “Tenang… tenang… tenang…” ujarnya.

Mata Pimpinan Sidang menatap Briyan. Dilihatnya Briyan mengarahkan mata kepadanya dengan tajam pula. Pandangan piminan sidang beralih ke Aisyah.

“Aisyah!” seru Pimpinan Sidang. “Ini ruang sidang, bukan dapur yang bisa kamu ajak orang untuk berdiskusi memilih bumbu masak. Ingat itu!”

Aisyah terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Matanya menatap Pimpinan Sidang seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Pak?!” suara Aisyah lirih.

“Dengar, dengan menuduhku telah berjanji padamu, kau bisa dikenakan hukuman sesuai pasal 22 poin D, tentang mengacaukan jalannya persidangan,” ujar Pimpinan Sidang.

“Lantas, apa yang telah kau lakukan padaku tadi malam, apakah tidak ada pasalnya?” teriak Aisyah tiba-tiba?

Suasana ruang persidangan itu semakin gaduh. Suara saling bertanya antara pengunjung sidang pun terdengar sampai ke telinga Pimpinan Sidang.

“Apa yang kau katakan, Aisyah? Apa yang telah kulakukan padamu? Tadi malam, katamu? Kapan kita bertemu? Apakah kau datang ke rumahku tadi malam?”

“Bukan aku, tapi Bapak yang datang ke kamarku?!” suara Aisyah semakin lantang.

Susana sidang semakin kacau dengan berteriaknya ayah Aisyah dari arah pengunjung sidang. “Pak Pimpinan Sidang! Apa yang kau lakukan pada anakku?!”

Pimpinan Sidang kembali mengetuk palu beberapa kali. Matanya tampak menyala. “Semuanya harap tenang atau persidangan ini selesai sampai di sini!” teriak Pimpinan Sidang.

Satu persatu pengunjung sidang pun diam. Senyap sesaat.

“Pimpinan Sidang memperkosaku tadi malam!” teriak Aisyah memcah keheningan.

Pimpinan Sidang tersandar di kursinya. Palu di tangannya tergeletak di atas meja. Ruangan itu hening. Semua mata tertuju pada sosok lelaki berjubah kebesaran persidangan yang duduk paling tengah di meja barisan depan.

“Perempuan ini sudah gila!” teriak Pimpinan Sidang lantang.

Suara Pimpinan Sidang langsung disambut suara tangis Aisyah.

“Ya, saya sudah gila. Kalian, paralelaki yang membuat perempuan ini gila, ujar Aisyah sambil memukul-mukul dadanya. “Apakah hanya ini yang dapat lakukan terhdap seorang perempuan, menipu, menipu, dan terus menipu? Lantas di mana keadilan bagi seorang perempuan?”

Ruang sidang hening, kecuali suara Aisyah yang terus berceloteh. “Dalam gelap aku diperkosa seorang lelaki. Empat lelaki lainnya diam menonton. Lalu yang lain gantian merenggut kehormatan seorang perempuan yang sudah tak berdaya lagi. Perempuan itu mencoba mencari keadilan, tetapi keadilan pun menghancurkan kehormatannya. Hukum macam apa yang sedang berlaku di negara ini? Hukum macam apa, ha?

Semua terpana mendengar penuturan Aisyah. Semua diam. Aisyah masih terus berkoar-koar tanpa peduli ayahnya yang semakin sesak napas.

“Hari akan kukatakan semua kebenaran itu meskipun hukum mengangap aku salah.” Aisyah diam sesaat. Dia menelan air ludahnya.

Semua kalian harus tahu, tadi malam Pak Hakim yang kalian hormati ini datang ke kamarku. Dia berjanji akan menjatuhkan hukuman kepada Briyan dan empat lelaki pemerkosaku jika aku mau melayaninya. Aku pasrah karena dia sudah berjanji. Semua kulakuan demi tegaknya hukum di negeri ini. Kalian lihat, betapa seorang perempuan rela mengorbankan kehormatannya demi terhukumnya yang bersalah. Tapi, perempuan itu kembali salah menilai hukum di negara ini. Orang-orang hukum sendiri yang telah merobek-robek kehormatan si perempuan.

Hari ini Pak Hakim berjanji untuk seorang perempuan bernama Aisyah, tapi si Aisyah hanya memakan janji Pak Hakim. Tidak tertutup kemungkinan akan lahir Aisyah-Aisyah lain jika hukum negara ini hanya punya mata, tapi tidak punya rasa! Mengapa semua ini harus menimpa nasib perempuan!? Mengapa?!” teriak Aisyah di penghujung kalimatnya, lalu diam.

Lama suasana hening, hanya terdengar suara tangis Aisyah di tempat dia berdiri.

“Tangkap perempuan itu! Dia sudah gila! Saya kira dia harus dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa,” teriak Piminan Sidang tiba-tiba dengan suara parau.

Belum sempat pihak keamanan mendekati Aisyah, ayah Aisyah menjerit dari tempat duduknya sambil berlari ke arah Pimpinan Sidang. Pihak keamanan langsung beralih ke arah ayah Aisyah. Mereka mencoba menangkap ayah Aisyah. Namun, entah siapa yang memberi aba-aba, tiba-tiba para pengunjung sidang bangkit dan menyerbu ke depan. Pihak keamanan kalang kabut. Suara hiruk-pikuk membahana di ruangan itu. Bangku dan kursi-kursi melayang tak beraturan. Ruangan persidangan itu jadi kacau balau.

Neraca keseimbangan yang terletak di atas meja Pimpinan Sidang tiba-tiba melayang ke udara. Entah siapa yang melemparnya, neraca itu akhirnya jatuh berhamburan di tengah lantai. Tak ada yang menggubris suara dentingan neraca itu, semuanya sibuk. Sibuk mencari, memaki. Entah apa yang mereka maki dan entah apa yang mereka cari…

***

Aceh, Maret – April 2007.

Iklan

Filed under: Cerpen

7 Responses

  1. Turpan Desky berkata:

    Hmmm….pernah terbit di mana cerita ini? Ndak pas kalau hanya di blog ini saja. Kalau dimuat di media cetak pasti lebih banyak orang tau. Nilai 7/8 atau 9 kali ya!!!!
    Good…!!!!

  2. lidahtinta berkata:

    Sementara cerita ini baru dipublikasikan di blok ini. Kalau Anda berminat silakan saja ambil, tapi tetap memakai nama penulis aslinya. terima kasih

  3. nhlala ncise berkata:

    best gak. ad ciri2 penulis yg bijak.

  4. nhlala ncise berkata:

    anjakan paradigma yang bagus

  5. yokeiju berkata:

    cerita bagus mas…..memang negeri ini sangat tidak berpihak kepada kaum yg tertindas…..

  6. DINI berkata:

    bagus, sangat mencerminkan hal – hal yang ‘real’ saat ini

  7. lidahtinta berkata:

    terima kasih sarannya. Sebenarnya ada kanyataan tersimpan dalam setiap cerita fiksi, tinggal bagaimana meramunya. hem…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: