Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

PELIHARA

Herman RN

 

Suatu hari di pagi yang cerah di rumah Apa Teulah.

“Ada-ada saja negeri kita ini ya, Munah,” ujar Apa Teulah kepada istrinya.

“Katanya negeri ini syariat Islam, tapi yang melakukan pelanggaran semakin hebat saja. Semula pejabat di pemerintahan daerah, kemudian menular sama pemangku hukum,” lanjutnya.

“Iya ya, Cut Bang. Hebatnya lagi, ada juga ayah sendiri yang tega melakukan perbuatan itu dengan anaknya. Kalau di luar Aceh kita sering dengar antara majikan dengan pembantu, di Aceh lebih hebat ya, Cut Bang,” sahut Maimunah, istri Apa Teulah.

“Ya, beginilah negeri yang dijuluki syariat Islam ini. Hebatnya Munah, mereka yang seharusnya jadi contoh malah melakukan perbuatan tercela itu juga. Coba kau baca koran kemarin. Disebutkan di sana kalau pemangku syariat kedapatan ‘main’ dengan seorang gadis. Hebat bukan?”

“Hei, Cut Bang. Ada lagi. Apa Cut Bang sudah baca di koran tentang kepala sekolah yang melakukan pelecehan terhadap siswa-siswanya di sekolah? Wah… ini menarik juga untuk dilihat, Cut Bang,” ucap Maimunah semangat.

“Ya, memang aneh kalau taharap keu pageue, pageue pajoh blang (kita harap ke pagar, pagar makan tanaman). Makanya Munah, kalau kita punya anak nanti ke pelihara baik-baik ya?”

“Emangnya saya buang, tidak saya pelihara?” jawab Maimunah dengan wajah masam.

“Bukan begitu, Munah, maksud saya jangan sampai anak kita nantinya ketularan hal sama dengan orang-orang sekarang. Saya tau, ke tidak mungkin buang anak kita, apalagi memakannya. Tapi yang saya maksudkan anak kita dipelihara baik-baik agar tidak meneruskan generasai yang sekrang.”

“O, maksud Cut Bang, anak kita jangan sampai jadi generasi penerus…”

“Tepat sekali, anak kita harus jadi generasi pelurus,” ucap Apa Teulah memotong pembicaraan Maimunah.

“Biasalah, Munah, jangan sampai yang dibilang orang pakiban u meunan minyeuk, pakiban abu meunan aneuk (bagaimana kelapa seperti itu minyak, bagaimana orang tua seperti itulah anak) membuat anak kita ketularan dengan kelakukan peradaban kotor ini,” lanjut Apa teulah.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: