Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Antara Maluku dan Aceh di Episentrum Ulee Kareng

Herman | Banda Acehrafah18050414.jpg

Malam itu tidak terlalu gelap. Remang-remang cahaya bulan memantul dari langit, menyirami atap-atap rumah penduduk di Ulee Kareng, Banda Aceh. Salah satu rumah yang disiram cahaya bulan itu adalah rumah di depan café Flamboyan di jalan Lamreung nomor 20.

 

Lima puluhan kursi plastik warna biru laut sudah ditata sedemikian rupa, mulai dari garasi yang sudah disulap menjadi tempat pertunjukan film sampai di halaman rumah. Ya, garasi yang terdapat di samping kiri rumah disulap menjadi sebuah bioskop mini. Hal itu terlihat dari dinding sebelah dalam sudah terpajang kain putih selebar kira-kira 7×10 meter. Di bagian langit-langit sebuah infocus menembakkan cahayanya ke kain tersebut.

 

Perlahan terlihat sebuah peta di sana. Lalu, ilustrasi api membakar sudut peta tersebut. Letusan senjata api, bom, deru mesin, teriakan, tangisan, dan beragam pekikan memecah remang malam. Kobar api semakin membesar, kini sedang melalap sebuah gereja, lalu berpindah ke mesjid. Pohon-pohon tumbang, rumah rubuh. Api semakin membesar. Sosok orang tua-tua terlihat cemas dengan kening berkerut. Kaum ibu lari seraya memapah anaknya. Anak-anak yang seyogyanya belajar di bangku sekolah, mengendap-endap di sebalik semak dan bangunan beton sisa pembakaran.

 

Lima belas menit kemudian, tak ada lagi api. Di sana yang ada pemandangan sebuah kota. Sesosok orang tua yang sedang bercerita ihwal sebuah pertengkaran antara orang-orang Mardika dan masyarakat Batu Merah bersiteru terlihat duduk di tugu tengah kota. Lelaki berkumis itu terus berkisah yang sesekali diselingi beberapa pemandangan miris di belakangnya serupa layar seluet. “Konflik ini sebenarnya bukan didasarkan agama,” ujar lelaki yang bernama Sri Sultan Hamengkubuwono X itu.

 

Ya, itu sebuah cerita konflik di Maluku yang difilmkan dalam “Bakubae Maluku”. Film itu diputar di Episentrum Ulee Kareng pada malam Sabtu kemarin. Film yang disutradarai oleh A. Indra Nugraha itu merupakan kisah awal mula konflik di Ambon, penyelesaian, dan langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan konflik di sana.

 

Seperti yang dijelaskan Sultan Hamengkubowono X dalam film itu, kendati perseteruan antara orang-orang Mardika dan masyarakat Batu Merah itu berbuntut kepada pembakaran gereja dan mesjid Raya Al-Fatah di Morella, konflik itu bukanlah disebabkan oleh agama, melainkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan kepentingan politik.

 

Adalah Munir S.H. bersama rekan-rekannya dari KontraS Jakarta masuk ke Maluku untuk menguak asal mula konflik tersebut terjadi. Mereka berniat menyatukan kedua belah pihak bertikai. Dari sinilah lahir pergerakan Bakubae dan olehkarena itu pula film ini diberi judul “Bakubae Maluku”.

 

Selepas pemutaran film tersebut, diadakan diskusi publik dengan menghadirkan pembicara Ifdal Kasim, Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Lelaki yang resmi menjabat ketua Komnas HAM pusat sejak 26 Juni 2007 itu berujar tentang pemutaran film Bakubae adalah untuk melihat pandangan masyarakat secara luas terhadap sebuah perdamian di Aceh. Hal senada juga diuangkapkan oleh Hendra Budian, Direktur Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI).

 

Menurut ketua panitia pada malam itu, Akmal, pemutaran film itu sekedar refleksi kembali kepada masyarakat, bahwa di setiap konflik yang terjadi, korbannya selalu masyarakat biasa. “Diskusi ini upaya kita untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa penting perdamaian. Semoga di Aceh tidak lagi terjadi konflik,” harap Akmal.

Iklan

Filed under: Feature

2 Responses

  1. Akmal MR berkata:

    peta perdamaian kampung semakin carut.
    satu, dua, tiga……tik.

    mudah-mudah mudahan,
    kampung kita tak lagi keruh.
    tak ada lagi yatim yang kecut.
    tak ada lagi airmata.

    salam,

    Akmal MR

  2. Mr.Nu nusaku berkata:

    Tetapi sampai saat ini selalu orang akan bertaya,
    mengapa Maluku dijadihan lahan dalam permainan politik busuk Jakarta. Mengapa Maluku dikorbankan? ada berita-berita yang kami dapat jika Maluku berhasil dijadikan syariat islam maka selurun Indonesia dalam kekuasaan Islam. Tetapi mereka gagal total karena rupaya Allahnya muslim tidak mampu menandingi Allah non Muslim.

    Dengan terbukti beberapa konteiner laskar Jihad dibuang dilaut, dan banyak kuburan tak bernama dari laskar Jihad sekarang menjadi saksi hidup dalam kerusuhan di Maluku. Dan beberapa janda-janda Wong Jowo yang suaminya mati di Maluku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: