Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sajak-sajak Reza Idria

Sajak-sajak Reza Idria

Dimuat Kompas, 22 Juli 2007

Hikayat Rhang Manyang

Ibu:

agam, sejumput pasir kuraih di genggam

luka dalam sungguh perih kau sayatkan

menggumpal beku darah merah hitam

warna kelam kutuk yang lancung kulemparkan

kubenam duka terakhir ke dalam gelinjang laut

menjelang maut kian dekat menghampir

langit menghimpun petir menambah luka parut

bersahut taut serapah dari mulut menjelma takdir

bahteramu mengalir ke laut darah dari rahimku

alun bertalu ledakan nadi yang pecah oleh marah

deru badai dengus nafasku yang memburu

radang pilu menjelang musnah kau anak jadah

kini biar luluh tulang seruas ruas

tanpa cemas kusanjung jatuh sudah laknat

pada jasad jasad yang telah membatu cadas

senantiasa panas hati ini bila teringat

tahu apa kalian arti getir merindu

bermasa kutunggu pulang si Muda Sedang

tak lelah kuhitung berapa bahtera melintas laju

o lautan biru, dan si lanang tak kunjung jelang

mendengar agam datang berlabuh siapa tak girang

kutetak cecabang biar lapang setapak ke rumah

kuintai kepinding biar tak nyelinap di sebalik tikar usang

anakku pulang hasrat girang kembali sudah

tahukah kalian gemetar kutunggu menggelinding telur si burik

itu itik tahu benar berterimakasih

kuah dari daun selingkar yang bergegas kupetik

jungkir balik aku demi agam terkasih

kain terbaik penuh tisik untuk selimut malam

rindu dendam kuharap tuntas di pangkuan

duhai tak sanggup kutahan jantung berdentam

perih menikam, agam, itulah padanan

tapi sebelah mata pun kau tak memandang

langkah timpang ini mendesak ke hadapan

selekas kudekap secepat pula kau tunjang

hingga terjengkang tubuh dari rengkuhan

dalam gerimis menjelang malam

jerit menghujam ke langit tembus

musnah harap berganti dendam

tanah kucengkram kutuk kuhembus

tahu apa kalian arti sabar

jika sekadar kata pemanis igauan

di hadapan penghuni rahim yang ingkar

api berpendar nyala tungku kemarahan

cukup sudah kurawat ingatan

berat timbangan untukku seorang

menanggung beban timbun harapan

akhirnya bahan hikayat sumbang

kusesali mengandung kau lelaki

caci maki meraung, dulu bapak sekarang anak

kaum jalang yang pernah kumiliki

yang tua pendengki, yang muda melupa jejak

apatah lagi mesti kuisak saat bahtera itu membatu

segenap tamu serentak menjelma berhala

letih amat kutanam rindu yang kutuai malu

nista pilu dari agam yang lama kudamba

agam, kutuk lebih cepat sampai rupanya

dibanding doa yang kuratap sepanjang malam

wujudmu beku telah jadi pertanda

dendam murka cinta yang karam

pada alun kutitip jasadmu yang mengeras

telah terbalas itu nista kau lemparkan

urusan kita, ibu dan anak, kurasa tuntas

nanti perjelas perkaramu dengan tuhan

Anak:

kenapa tak kau sesap dan dengar isakku pada pasir

sudah nadir harap bertukar, kapan tulah ini pudar

memadai telah kupangku takdir aduhai getir

menunggu akhir gagu nanar, ternistakan benar

lama kutanggung kutuk dikepung asin air

membatu digelar kafir sepanjang lalu waktu

laut dan camar yang tahu aku ditenung takdir

terpilih lahir dari rahim kau yang kusebut ibu

laksa gulung ombak enggan mengenyahkan

betapa badan menghimpun nestapa berabad silam

duhai telah haram bagi jasad mengecap kematian

beku kesepian menanti bumi bilakah karam

berapakah bilangan kaum yang mengerti

muasal petaka ini kepadaku tertimpa

digelar insan tak harum perangai budi

amsal diri anak durhaka akulah umpama

aku hanya agam yang merana

mengemban kara kala meraba peruntungan

untuk hidup lebih berjaya dan meraih tuah si jelita

bukti bahwa kehendak tak berhenti sebagai angan

berulang kusesalkan arah jejak langkah

berlayar mengarah ke kampung halaman

hingga tunduk hasrat memanggilku ke tanah

debar membuncah menjadi serapah kemudian

aku rindu ibu, aku berhasrat

mengecap hangat tuah yang memancar dari wajah

sungguh ia serupa candu, bukannya aku yang sesat

bila kulepas ingat untuk jadikan itu mudah

umpama kasihku cuma sepenggalah

kenapa pula punah sayangmu yang serupa di madah itu

tak adakah luang masa untukku menukar gundah

menyandar pasrah untuk melabuh penat tubuh di pelukmu

meratakan pahat cungkil yang meliang di rautmu

sambil berseru ampunkan murka

akan kujilat bulir-bulir yang luruh dari lamur matamu

agar sirna itu sumpah celaka

tapi kau tak beri aku waktu

bergegas terburu melempar kutuk ke langit

lalu apa beda engkau dengan aku

bila malu pula jadikan kasihmu sempit

banyak hal yang tak kupahamkan

mengendap tertahan di sekujur benak

kenapa kau turut serta melibatkan tuhan

bukankah ini urusan kita, ibu dan anak?

perkara ini jadi muasal kecurigaan

bahwa bualan makna ikhlas yang kerap kudengar

ternyata sekadar pengkaburan untuk meneguhkan

bahwa maqam kalian, ibu, senantiasa benar

lihat apa yang kutuai sesudahnya

hanya nista sejarah yang tak kunjung hapus

namaku terus disebut dalam setiap cerita

dikenang durhaka sepanjang Malaka hingga Barus

bahteraku megah yang karam sudah

susah payah kulayarkan ke segenap labuh niaga

kini seungguk batu, alun tak kunjung mengerkah

jadi karang bungkah, tak lagi kentara mana haluan palka

mualim, kelasi dan anak geladakku turut jadi berhala

betapa mereka ikut menanggung murka kutukmu ibu

bagaimana di mahsyar kelak kami berjumpa

serapah durja alamat atasku pula dituju

telah kutanggung kutuk beku dikepung asin air

digelar kafir sepanjang lalu waktu

wahai ibu, wahai kau Pemangku Takdir

wujudku hadir jadi hikayat pilu

Ulee Kareng, 2006-2007



Hikayat Kampung (Kini)

kami pernah berpeluh dan cemas

melangkah bergegas di ujung pagi

mencari ruang bernafas di jalan pintas

namun lekas di pesimpangan maut menanti

berkerejap mata setelah tempurung pecah

limbung muntah segenap yang ditahan

sekian masa malang dirundung gundah

kampung musnah menjelma lautan

kini kenduri digelar sekujur penjuru

menggantang deru nafas busung di dada

kuncup harap kian mekar merimbun perdu

denging peluru agar enyah dari telinga

berapa banyak rusuh, berapa banyak gaduh

rebah tubuh menyangga rindu kampung

hasrat masih penuh, apa daya wajah tinggal separuh

darah peluh jadi kenangan lahan bersabung

siapa simpan kini kami punya ingatan

bertukar lembaran selekas gumam mantra

belulang nancap nun di ngarai perbukitan

kabur perlahan berganti riuh tetabuh genta

gempita kampung menggelar hajat

desah umpat di sela riuh akad rujuk

berapa punah, berapa sekarat

ah, letih penat musnah dibelai peluk

perjamuan yang megah segera usai

dua mempelai mengusung keranda

terhumbalang dalam uap candu membadai

langkah gontai sisa mabuk ujung pesta

Ulee Kareng, 2007

Reza Idria, lahir di Lam U Atjeh Rayeuk 16 Maret 1981. Bekerja di Komunitas Tikar Pandan, dan mengelola Sekolah Menulis Dokarim Aceh.

Iklan

Filed under: Puisi

6 Responses

  1. Akmal MR berkata:

    Banyak hal yang harus kita baca dari setiap kata waktu.
    tak ada kesalahan berat pada manusia.. tak ada yang lebih. hanya saja, kebaikan dan keburukan itu manjadi tradisi yang relatif terjadi.
    Amad mungkin durhaka. tapi emaknya???
    jika mungkin emak sayang pada anak. mungkinkah hatinya menjadi batu untuk mengutuk anaknya?
    itulah dunia..

    buat wen RN yang sedikit,….. (apa aje dech) …hehehehe,…
    trims,
    lidah tak bertulang. tintanya hanya sebuah lendir yang bermakna.

    salam

    Akmal MR
    http://aamovi.wordpress.com

  2. meutia berkata:

    Salam. Keterbatasan presepsi bukan berarti keterbetasan probabilitas untuk mendekati kebenaran. Kata-kata adalah penggalan-penggalan embun dan duri hati, teriakan, sendatan, dan hela jiwa. Kadang terbebas, tak jarang pula terkungkung. Tapi apapun itu,…puisi memang indah yah! Semoga gak kapok ke FIB karena seminar piasan sastra Aceh kemarin sepi…maklum lagi pada UAS…

  3. hendra berkata:

    bagus.cukup bagus.sulit memang bagi kita memadukan unsur puisi bebas dengan sajak liris.tp klo saya bsa nanya, apakah puisi itu layak di sebut hikayat? sedangkan yg saya tahu di awal hikyat tu wjib diawali dengan puji-pujian dan selawat kpd rasul..jgn tersinggung ya bang…bukan kritik cuma nanya

  4. lidahtinta berkata:

    hikayat yang Hendra maksud itu adalah ciri-cirinya jika di Aceh
    tapi mesti diketahui makna hikayat itu sebenarnya apa sehingga Hendra dapat mengerti hikayat dalam Rang Manyang.
    ok,

    Salam

  5. bintang bumoe berkata:

    Saleum !!!!
    Luar biasaaa 😀

  6. Aneuk Acheh berkata:

    hana mungken na asap meunyoe hana apui..
    hana mungken na seubeub meunyoe hana peunateun…
    meunyoe kon karena aneuk daro haka
    bek kan ureung tuha,mansilingka donya mencaci raga….

    ci ploh gareh yang meu-ceut2 bacut rakan…
    silahkan ta teumuleh sibarang kapeu piasan…
    cuma beuteugoh2 bak ta peutimang tinta..
    salah ta tuleh ka salah bak ta sangka le ureung ban silingka…;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: