Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Benarkah Konflik Telah Reda

(Mengenang Dua Tahun Perjanjian Damai)
oleh Herman RN

“Tuhan…
jika damai ini hanya mimpi
jangan bangunkan aku esok hari
jika perdamaian ini nyata
biarkan ia abadi…”
(Sajak Nurfajar, pemenang I lomba cipta puisi Sekolah Menulis Do Karim 2006 tingkat pelajar)

Hari ini (15 Agustus 2007) merupakan salah satu hari bersejarah bagi Aceh atau bahkan dunia. Dua tahun silam, pada tanggal yang sama pemerinta Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersepakat jabat tangan (baca; damai) setelah lebih kurang tiga puluh tahun mengangkat senjata. Selama dua tahun ini masyarakat Aceh mencoba memahami makna kata “damai”. Benarkah konflik telah reda di tanah Serambi Makkah ini? Benarkah Aceh telah damai?
Makna damai menurut saya yang awam ini adalah ketika masyarakat tidak lagi menjadi kancil yang hidup di kebun timun orang, lantas di sekeliling kebun tersebut dipajang ranjau babi atau orang-orangan sawah. Yang pastinya, kancil tersebut pasti hidup dalam kewas-wasan kendati di hadapannya banyak mentimun.
Namun, perdamaian adalah bagaimana menjadikan hati tenang dan tenteram dalam menjalani hidup. Adalah kesenangan bagi setiap orang ketika keluar pada malam hari tidak lagi dihantui manusia bertopeng, mencari rejeki ke kubun tidak lagi dituduh pergi berperang karena mendagang parang atau cangkul. Demikian halnya dalam bidang pendidikan, adalah dambaan semua anak didik dapat memperoleh pendidikan yang layak.
Tulisan ini memang saya batasi pada dunia pendidikan. Bagaimana melihat perdamaian melalui kaca mata pendidikan di Aceh sekarang ini? Sudahkah perdamaian itu sampai ke dunia pendidikan Aceh? Adapun alasan saya mengambil sudut pendidikan, bukan hanya dikarenakan latar belakang saya sebagai alumnus keguruan, tetapi juga berdasarkan asumsi bahwa semuanya di dunia ini tetap berpulang kepada pendidikan, mempunyai hubungan dengan pendidikan. Perjanjian damai pun terjadi karena pikiran orang-orang berpendidikan.
Baiklah, saya ceritakan sedikit situasi pendidikan kita pascaperjanjian damai (MoU). Kita mulai saja dari pendidikan yang tinggi, dalam hal ini kita sebut dengan perguruan tinggi. Di sini saya mengambil contoh Universitas Syiah Kuala.
Saya pastikan, dua tahun terakhir ini Universitas Jantong Hate rakyat Aceh itu selalu memberikan contoh konflik baru kepada masyarakat. Setiap memulai tahun ajaran baru selalu saja diwarnai aksi mahasiswa menuntut penurunan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Pernahkah terpikir di benak kita bahwa itu merupakan konflik yang bagi mahasiswa akan menuduh pihak rektorat sebagai dalangnya?
Mahasiswa yang diagung-agungkan sebagai agen perubahan ternyata juga memberikan contoh harus demonstrasi dalam menuntut hak. Sementara itu, dari sisi pihak rektorat juga patut kita cermati, mengapa mesti mengundang konflik baru di tubuh lembaganya. Padahal, anggaran pendidikan untuk Aceh sudah diplotkan oleh pemerintah. Apakah pemberian pemerintah tidak mencukupi dana pendidikan di kampus itu? Lantas, ke mana dana itu semua? Sebab, ketika melihat pembangunan di kampus tersebut tidak ada yang pantas untuk dibangggakan oleh pihak Unsyiah. Rehab-rekon, pembangunan gedung baru, pengadaan buku baru, dan fasilitas lainnya banyak datang dari sumbangan pihak luar.
Misalkan saja, pembangunan lab scholl yang sekarang sedang dibangga-banggakan pihak Unsyiah. Gedung bertingkat itu adalah sumbangan pihak pemerintah Amerika Serikat. Jika pemerintah Amerika yang membanggakan ke seluruh dunia tentang gedung itu adalah wajar, karena memang gedung tersebut standar internasional. Tetapi, apa yang sudah dilakukan pihak Unsyiah sendiri dalam berbenah selama dua tahun terakhir ini?
Ah, sudahlah tentang cerita itu. Saya tak hendak mengundang konflik baru di tulisan ini karen memaparkan perihal gedung tersebut. Namun, yang ingin saya katakan, ini merupakan warna konflik baru di Unsyiah. Pasalnya, SPP mahasiswa dikutip mahal menurut sejumlah mahasiswa yang dilansir berbagai surat kabar untuk sumbangan tambahan uang saku dosen, dengan alasan karena gaji dosen tidak memadai. Akhirnya, mahasiswa merasa tidak nyaman dengan kutipan yang besar tersebut. Kendati kasus tersebut terjadi di Unsyiah, tidak tertutup kemungkinan terjadi di kampus-kampus lain. Jika demikian, apakah pendidikan di perguruan tinggi sudah damai atau apakah damai sudah sampai di perguruan tinggi?
Kasus berikutnya dapat kita lihat pada tingkat sekolah. Beberapa sekolah di Banda Aceh dipisahkan kelas antara lelaki dan perempuan. Menurut saya ini adalah konflik baru yang dicipatakan dinas syariat Islam dalam memandang hukum di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalihnya adalah syariat. Karena itu lelaki dan perempuan tidak boleh satu ruangan. Namun, dalam kasus pendidikan apakah ini penting dan patut?
Kita pintar menggembar-gemborkan perspektif gender atau dalam bahasa ringannya kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan. Namun, pernahkah sadar kalau pemisahan kelas bagi siswa/ murid laki-laki dan perempuan itu sudah menunjukkan ingin membedakan antara laki dan perempuan?
Saya memandang hal ini sebagai konflik baru yang ingin diciptakan pemerintahan Aceh. Bisa jadi, pemisahan kelas tersebut mengundang kekacauan dunia pendidikan di Aceh. Mengapa demikian? Sebab, jika kelas sudah dibedakan, otomotasi pengajarnya pun harus dibedakan. Lelaki hanya boleh mengajar untuk lelaki dan perempuan untuk kaumnya. Apkah maskismal pendidikan di Aceh kelak jika seperti ini?
Oleh karena itu, melalui ruang ini pula saya berharap Dinas Syariat Islam dan Pemerintah Aceh agar dapat meninjau ulang kembali statemen tersebut sebelum hal ini melebar luas ke seluruh Aceh.
Jika kita tilik dari segi ekonomi mengenai pemisahan kelas tersebut, juga mengalami kekacauan. Pemisahan kelas tentu membutuhkan biaya lagi untuk membuat kelas-kelas baru agar laki dan perempuan benar-benar dapat dipisahkan. Atau langsung saja mendirikan sekolah baru yang dikhususkan lelaki dan sekolah yang lain dikhususkan perempuan. Apakah pemerintah punya cukup dana untuk membangun gedung pendidikan yang baru? Lantas bagaimana jika timbul permintaan dari masyarakat Aceh “Di mana bumi lelaki dan dimana bumi perempuan?” Bukankah hal ini mengundang konflik baru?
Ini baru secuil kasus pascaperjanjian damai untuk Aceh. Tentu masih banyak kasus-kasus lainnya. Dan saya, tidak mungkin bercerita panjang lebar di sini tentang kasus lain tersebut, karena ruang ini memang terlalu sempit untuk kita bercerita. Namun, yang ingin saya katakan di sini, apakah benar Aceh sudah damai sedangkan rakyatnya masih banyak hidup seperti kancil dalam kewas-wasan? Maka kegelisahan seorang siswa dalam puisinya yang saya sebut di pembuka warkah ini patut kita cermati. Semoga saja, perdamaian ini bukan sepotong mimpi!

Penulis lahir di Ujung Pasir, Aceh Selatan,
alumnus PBSID FKIP Unsyiah dan
wartawan Harian Aceh

Iklan

Filed under: Essay

2 Responses

  1. saifullah ar berkata:

    saya asli aorang aceh dan lahir di aceh
    gara-gara kekacauan kemaren saya harus angkat kaki dari aceh, karna saya gak ada teman lagi di negeri yang sangat saya cinta itu,
    saya sangat meng harapkan aceh damai kembali,
    cukup saya yang merasakan semua ini, jangan untuk adek-adek saya

  2. Tabrani Yunis berkata:

    Konflik memang telah reda, tetapi benihnya masih tumbuh di ujung bibir
    Konflik memang telah reda, tetapi miangnya masih gatal
    konflik memang tekah reda, tetapi masih ada rimah yang belum bersih
    Konflik memang telah reda, maka bangunlah di esok hari
    Konflik memang telah reda, tetapi anak-anak masih bertanya dimana papa
    Konflik memang sudah reda, tetapi masih banyak yang menderita
    Konflik memang sudah reda, maka bukalah mata pada mereka
    Konflik memang sudah reda, tetapi kita belum lupa
    ada luka
    masih
    menganga

    Tabrani Yunis, 13 Mai 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: