Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Aparat Hukum

haba Herman RNtentara-pbsid.jpg

Apa Teulah termenung sendiri di serambi rumahnya. Di kepalanya masih melintas kejadian menjelang HUT RI kemarin. “Mentang-mentang aparat hukum, seenaknya saja dia lakukan apa yang dia sukai. Oh…” desir Apa Teulah sambil menarik napas panjang.

Lirih Apa Teulah tersebut didengar istrinya, Maimunah. “Ada apa lagi, Cutbang? Kok kelihatannya wajah Cutbang gelisah sangat? Kalau ada masalah, beritahukan ke Cutdek lah,” goda Maimunah.

“Ke ini Munah, pagi-pagi sudah menggoda suami.”

“Cutbang sih…” Minah mengiramakan suaranya. “Pagi-pagi sudah melamun. Kegelisahan Cutbang kan kegelisahan Minah juga. Kasih tahulah, Cutbang,” desak Minah manja.

“Dengar Minah, yang aku gelisahkan sekarang ini aparat-aparat hukum kampong kita. Dari dulu sampai sekarang masih saja berkuasa seenaknya. Main hakim sendiri. Kalau rakyat kecil yang bersalah, pukul sana pukul sini. Apa hukum di kampong ini punya dia?!”

Maimunah segera merapatkan jemarinya ke bibir Apa Teulah. “Huss… Cutbang! Kalau ngomong hati-hati. Nanti ada yang dengar, Cutbang bisa dibawa dan ditampar.”

Apa Teulah terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah pasi. Dia melihat ke kanan dan kiri. “Maaf, Munah, aku kelepasan ngomong. Masalahnya, aku baca koran Sabtu kemarin, di Bireuen, belasan warga dipukul polisi menjelang HUT RI. Di Takengon, tukang becak ditampar polisi karena kendaraan mereka keserempet. Kemudian di Singkil seorang warga dihajar sampai babak belur, juga oleh polisi. Alasannya, karena warga itu salah kirim SMS. Apa tidak gila hukum kampong ini,” ujar Apa Teulah dengan suara sedikit berbisik.

“Justru itu, Cutbang tidak boleh keras-keras ngomong, nanti kedengaran sama mereka. Masih mending ditampar, kalau mereka menembak Cutbang? Kan sekarang sudah ada perintah tembak di tempat dari atasan mereka.”

“Semestinya, Munah. Sebagai aparat hukum, mereka tidak boleh semena-mena. Karena tugas mereka melindungi, bukan menakuti. Apalagi kampong kita sudah diteken damai. Seharusnya mereka menjaga perdamaian ini agar rakyat dapat hidup sejahtera. Seperti kata endatu kita, adat mukim peusahoe gampông, panglima kawôm nyang atô rakyat, adat sagoe beusahoe lam nanggroe, makmu nanggroe rakyat seujahtra (adat mukim kumpulkan kampong, panglima kaum yang atur rakyat, adat sagi berkumpul dalam kampong, makmur kampung rakyat sejahtera). Jadi, koen makmue gampông jak poh rakyat, nyang beujat jeut mat kuasa (bukan makmur kampung memukul rakyat, agar yang bejat dapat pegang kuasa).” Ungkap Apa Teulah. Meu’ah polisi beuh!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: