Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Syariat; Lara Kampongku

sumber: Harian Serambi Indonesia
oleh Herman RN

Saya tak mengira akan menulis surat lara ini kembali setelah dongeng cinta di Serambi yang saya layangkan sebulan lalu. Melihat, membaca, dan mendengar penuturan pemangku syariat di kampong ini, saya merasa mesti menulis surat ini, surat lara untuk keduakalinya.
Pasti masih hangat di ingatan kita tentang pemisahan kelas bagi anak lelaki dengan perempuan di beberapa sekolah di Banda Aceh yang dicanangkan oleh dinas pendidikan NAD. Peraturan yang digagas sejak dua tahun lalu mulai berjalan di kota Banda Aceh. Hal ini menimbulkan beberapa keluhan dari sejumlah aktivis dan pengamat pendidikan. Namun, kepala dinas pendidikan mengatakan adalah sebuah kewajaran pemisahan kelas tersebut dilakukan demi tegaknya syariat Islam di bumi Iskandar Muda (Harian Aceh, 20 Agustus 2007).
Inilah yang membuat saya kembali menulis surat lara. Ada yang membahana di hati saya ketika syariat Islam dimaknai dengan arti yang sangat sempit oleh mereka yang mengaku sebagai pemangku dan pejabat syariat Islam. Lara itu menimbulkan beberapa pertanyaan jauh dari relung hati yang paling dalam; apakah dengan memisahkan kelas antara lelaki dan perempuan tidak akan terjadi pelanggaran syariat? Sementara itu, izinkan saya mengulang kembali kalimat yang dilontarkan Kadis Pendidikan. Kata dia, pemisahan hanya di dalam kelas, saat belajar saja. “Ketika jam istirahat mereka berbaur kembali,” kata Kadis seperti dilansir salah satu media lokal kampong ini. Bukankah itu merupakan kontrakdiktif yang akan menimbulkan penafsiran sekelompok orang bahwa pemisahan di dalam kelas punya muatan politik terselubung?
Mengapa saya katakan kontradiktif? Simak kembali pernyataan Kadis di atas. Kebijakan dinas hanya memisahkan mereka di dalam kelas, saat belajar saja. Sedangkan di luar kelas siswa diperbolehkan berbaur kembali. Jadi, seperti apa syariat yang hendak ditegakkan itu? Apakah hanya syariat dalam kelas atau kamar? Lantas, di luar kelas, tidak ada lagi syariat? Jika demikian pantas saja razia yang dilakukan pemangku-pemangku syariat negeri hanya serba “main dalam” saja. Misalkan razia dalam kamar hotel atau dalam kamar kos semata, sedangkan di luar (di jalan-jalan) sana dibiarkan meucarue-carue.
Oya, saya ingin memaknai kata “main dalam” ini dari kasus yang lain pula. Maksudnya, kalau “orang dalam” yang melakukan pelanggaran syariat, akan menjalani proses hukum berbelit yang berhujung pada pembebasan. Adapun kata “proses hukum” itu hanya sebagai implementasi dari sosialisasi yang sering kita baca di kepala-kepala surat kabar yang dituliskan, “Kami akan tindak tegas pelaku pelanggaran syariat, termasuk aparat kami.” Dan jika memang kedapatan “orang kami” tersebut yang melakukan pelanggaran, akan ada kalimat kedua, yaitu “Kita akan tindak sesuai hukum yang berlaku.” Intinya berbelit-belit dan berakhir dengan pembebasan. Namun, jika masyarakat kecil atau mahasiswa yang kedapatan melanggar, apakah ada kalimat kedua tersebut?
Ah, sudahlah tentang “orang dalam” itu. Kita kembali lagi ke soal pemisahan kelas saat belajar. Apa sebenarnya yang ingin dikejar dari tindakan tersebut? Jika kita kaitkan dengan mutu pendidikan di Aceh, apakah pemisahan kelas itu akan mencapai kualitas pendidikan seperti yang kita harapkan? Dari segi ekonomi, apakah Aceh mampu membangun ratusan kelas agar tercapai maksud pemisahan kelas? Saya khawatir, imbasnya nanti kembali kepada masyarakat kecil. Saya takut masyarakat nanti akan diminta uang bangku atau uang pembangunan seperti era orde baru lalu untuk menambah gedung sekolah. Mungkin bukan uang pembangunan, tapi SPP yang dinaikkan. Atau ada nama lain untuk kebijakan baru yang intinya sama saja, yaitu memeras kantong rakyat.
Kita lihat pula dari perspektif gender yang sedang gembar-gembornya dibicarakan orang. Islam tidak pernah membedakan antara lelaki dan perempuan dalam menuntut ilmu. Islam juga sangat menghormati hak-hak perempuan agar setara dengan lelaki. Saya kira, pemisahan kelas antara lelaki dan perempuan akan menimbulkan bias gender. Jelas sekali kalau pemisahan kelas ini memperlihatkan pembedaan perempuan dengan lelaki.
Saya katakan demikian, karena sebuah kebijakan hendaknya tidak dilaksanakan setengah-setengah. Artinya, jika yang belajar mesti dipisahkan jenis kelaminnya, si pengajar pun harus demikian. Walhasil, perempuan hanya boleh mengajar kaumnya dan lelaki hanya boleh mendidik kaum lelaki. Dari sini sudah tampak kalau kebijakan pemangku pendidikan dan syariat di kampong ini hendak membedakan antara perempuan dan lelaki. Lantas, apa arti perjuangan sekelompok orang di sana yang menginginkan hak perempuan disamakan dengan lelaki?
Kadis pendidikan, seperti diberitakan media lokal, boleh saja mengatakan bahwa siswa tetap nyaman belajar dengan pemisahan kelas tersebut. Akan tetapi, harus dipelajari dahulu hati dan psikolog siswa. Benarkah siswa nyaman dengan kondisi tersebut? Apakah karena siswa hanya diam dan masih terus belajar, mereka dianggap nyaman? Bagaimana jika mereka diam karena terpaksa, karena sudah menjadi keputusan dinas? Maka, bukan mustahil pelanggaran besar akan terjadi di bidang syariat Islam oleh remaja. Bisa jadi, karena terlalu ditekan, mereka mencuri-curi kesempatan untuk berbuat tidak senonoh.
Saya kira dapat dimaklumi arah pembicaraan saya ini. Yang namanya manusia takkan pernah terlepas dari nafsu. Amat berbahayalah jika salah satu di antaranya melepaskan kangen hanya karena dilarang satu kelas. Padahal, jika disatukan di dalam kelas, tidak mungkin mereka akan melakukan tindak tidak senonoh. Namun, karena tidak dapat bertemu dalam kelas, hal itu bisa saja terjadi. Namanya saja remaja; dilarang orangtuanya, dia akan diam dan mengangguk. Tetapi, bukan berarti dia sudah patuh. Hati kecilnya bisa saja berontak. Jadi, jika dikatakan siswa-siswa itu diam dan nyaman dengan kondisi pemisahan kelas tersebut, saya kira ini pemikiran sebelah pihak.
Baiklah jika memang pemerintah tetap bersikeras kelas harus dipisahkan. Artinya, syariat Islam di bidang pendidikan dianggap sudah selesai. Namun, di aspek yang lain, tidak tertutup kemungkinan akan timbul pertanyaan meniru kebijakan di bidang pendidikan tersebut. Misalkan di bidang ekonomi, di mana lahan lelaki dan di mana lahan perempuan agar tidak terjadi pencampuran lelaki dan perempuan dalam mencari nafkah? Kemudian pertanyaan paling besar adalah tunjukkan di mana bumi lelaki dan di mana bumi perempuan.
Maaf, barangkali pertanyaan terakhir terlalu menyakitkan. Namun, seperti yang saya katakan di atas, ini surat lara yang mesti saya tulis karena keresahan saya sebagai orang yang juga menganut Islam dan berdiam di Serambi Mekah. Jangan disalahmengertiankan. Bukan berarti saya menentang penegakan syariat Islam. Saya dukung dan sangat setuju, tetapi bukan syariat Islam yang berupa proyek sekelompok orang atau individu. Artinya, syariat sebagai hukum Islam hendaknya tidak melenceng dari firman Allah dan titah Rasulullah.
Dalam konteks lain, jika yang ingin ditegakkan adalah adat, dia mesti disepakati oleh masyarakat, bukan kebijakan pemimpin semata. Mengapa saya bawa ke adat, karena adat dan hukum tidak dapat dipisahkan. Dia seperti kulit dan isi, seperti tulang dan daging. Makanya dalam kearifan orang Aceh dikatakan dengan hukom ngon adat, lagee zat ngon sipeut. Oleh karena itu, melalui surat lara ini kembali saya mengulang permohonan yang sama seperti yang saya tulis sebelumnya; wahai Bapak, tolong libatkan masyarakat secara partisipatif dalam menentukan kebijakan agar kedamaian ini benar-benar kita rasakan. Jangan ciptakan konflik baru ala syariat. Semoga kampong tidak lagi menangis.

Penulis adalah Alumnus FKIP Unsyiah
Peminat pendidikan, budaya, dan sastra.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: