Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Jangan Mau Jadi Pejabat, Sanak Kerabat Diajak Korupsi

(Secuil Catatan Pementasan W.S. Rendra)

oleh Herman RNHerman RN

Membaca judul tulisan ini, saya yakin ada yang kegelian, ada yang bertanya-tanya (kok sadis sekali?), dan tentunya ada yang kebakaran janggut. Sekilas memang lucu dan sadis, tetapi inilah yang diungkapkan W.S. Rendra dalam sajak “Pantun Korupsi” yang dibacakannya dalam dies natalis Universitas Syiah Kuala, 3 September lalu. Dan tulisan saya kali ini merupakan daya tangkap naluri saya terhadap kegelisahan si Burung Merak Rendra yang saya sarikan melalui sebuah tajuk “Jangan Mau Menjadi Pejabat, Sanak Kerabat Diajak Korupsi”.
Sebagaimana sajak-sajak lainnya, “Pantun Korupsi” juga merupakan golongan sajak pamflet yang apabila ditinjau dari segi isi, disatirekan kepada pejabat-pejabat yang melakukan tindakan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN). Maka, tak heran pada malam itu, ruang utama gedung AAC Dayan Dwood Darussalam digemuruhi teriakan aplus tanda setuju dari mahasiswa. Bahkan, beberapa pejabat teras Unsyiah yang hadir pada malam itu, termasuk Rektor, turut tersenyum-senyum kecil sembari berbisik kepada rekan di sebelahnya yang juga salah seorang pejabat negeri ini. Seperti para mahasiswa, pejabat-pejabat Unsyiah pun menyunggingkan senyum setiap selesai sebait puisi pantun dilafalkan Rendra. (Semoga saja mereka tidak sedang menertawakan diri sendiri).
Baiklah, saya ceritakan sedikit ihwal penampilan lelaki yang dijuluki si Burung Merak pada malam itu. Rendra tampil di bawah megahnya neon AAC setelah beberapa penari membawakan tari pembuka acara. Di atas panggung, di hadapan tiga buah microphone, secarik kertas dikeluarkan lelaki kelahiran Solo, 7 November 1935 itu. Sebagai pembukaan, bait-bait hymne Universitas Syiah Kuala pun menggema di antara suaranya yang serak. Orang-orang di ruangan itu hampir mencapai seribuan. Semuanya hening mendengar suara bas milik pencipta hymne Unsyia itu. Rendra bukan menyanyikan hymne tersebut, tetapi dia membacakannya selayaknya puisi-puisi lain. Dari sini kita diberi tahu bahwa sebuah syair lagu merupakan hasil pengindahan lirik-lirik puisi. Artinya, bait lagu dapat dipuisikan, sebaliknya, puisi dapat dilagukan (musikalisasi puisi).
Dalam membacakan sajak-sajaknya, Rendra tampil kharisma. Kharismatiknya ini pula yang membuat sajak-sajaknya malam itu hidup dalam perhatian pengunjung. Padahal, jika disimak secara seksama, bacaan lelaki itu sudah sangat jauh kurang dari kehebatannya sepuluh tahun silam. Roh pergerakan dalam puisi-puisi pamfletnya tidak memadu dalam suara basnya. Barangkali puisi-puisi itu lebih hidup saat Rendra membacanya di usia tiga puluh tahun silam. Malam itu, Rendra kelihatan lemah membacakan puisinya. Namun, marwah lelaki Solo itu yang dikenal sebagai pelopor puisi pamflet-lah, yang menjadikan bacaan puisinya malam itu masih mempunyai tempat di mata penonton. Sedangkan suaranya, timbul tenggelam dalam gema napasnya di pengeras suara.
Baiklah, kita kembali ke sajak “Pantun Korupsi”. Jika saya tidak salah mengingat, salah satu bait puisi itu berbunyi, “Kalau ada sumur di ladang/ jangan diintip orang mandi/ kalau sudah memakan uang orang/ jangan libatkan anak dan istri/”.
Struktur dan Isi
Ditinjau dari segi struktur, puisi tersebut tergolong ke dalam jenis pantun lama. Hal ini terlihat dari bentuknya yang terikat dengan bait dan bersajak ab/ab. Ciri ini semakin mempertegas puisi tersebut memang merupakan pantun satire yang ditujukan kepada koruptor. Wajar saja diberi judul “Pantun Korupsi”.
Ada penyair lainnya yang membuat puisi berbentuk pantun, tetapi beda dengan “Pantun Korupsi” Rendra. Perbedaan itu terlihat pada struktur bait yang digunakan Rendra. Berikut ini saya contohkan puisi berbentuk pantun yang ditulis oleh Reza Idria, “kubenam duka terakhir ke dalam gelinjang laut/ menjelang maut kian dekat menghampir/ langit menghimpun petir menambah luka parut/ bersahut taut serapah dari mulut menjelma takdir// (Hikayat Rhang Manyang, bait kedua).
Puisi Reza juga berbentuk pantun, tetapi setiap baris mewakili isi yang hendak disampaikan. Artinya, semua baris mempunyai makna lirik dari puisinya yang dapat diinterpretasikan secara ambiguitas. Bentuk ini juga terdapat pada “Salam Damai” karya Fikar W. Eda. Namun, sajak Rendra, baris pertama dan kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat yang merupakan isi yang hendak diutarakan puisinya. Oleh karena itu, saya katakan bahwa puisi “Pantun Korupsi” merupakan jenis pantun sindiran yang dipuisikan.
Adapun pesan yang dapat dipetik dari “Pantun Korupsi” adalah bahwa umumnya pejabat di Indonesia banyak yang korupsi. Karenanya, dalam sebuah bait, Rendra mengatakan, “… jangan mau menjadi pejabat, sanak kerabat diajak korupsi.”
Kecuali pada puisi itu, puisi-puisi lain yang dibacakan Rendra malam itu juga bernada sindiran. Pada sajak “Kas Bon” Rendra berhasil menyatire betapa pentingnya secarik kertas tanda jadi (cek/ kwintansi). Dengan cek tersebut, seseorang atau lembaga tertentu dapat melakukan penipuan, yang arahnya lagi-lagi kepada korupsi. Namun, dengan kertas itu pula, kita dapat mengukur kejujuran seseorang. Hal ini tentunya lumrah kita temui dalam kehidupan. Jika di kwitansi tertera angka sekian, tetapi yang digunakan lebih dari yang tertera, tentunya berarti seseorang tidak dapat dipercaya. Inilah yang hendak disampaikan Rendra dalam “Kas Bon”.
Maka, wajar saja pihak mahasiswa menjerit kegirangan mendengar sajak itu. “Slip SPP, Rendra!!!” pekik beberapa mahasiswa berkali-kali saat lelaki asal Solo itu membawakan sajak “Kas Bon”. “SPP tinggi!” ulang seorang mahasiswa. Menurut mahasiswa, Kas Bon-nya Rendra tidak jauh berbeda dengan slip SPP yang sebulan lalu sempat mengundang polisi masuk kampus. Oleh karena itu, mahasiswa menganggap slip SPP sangat penting seperti kas bon yang dipentingkan sejumlah orang. Jika kas bon berguna sebagai tanda utang piutang, slip SPP berkedudukan sebagai bisa-tidaknya mahasiswa kuliah. Ini yang membuat mahasiswa memekik girang.
Hal menarik lainnya adalah sajak “Maskumambang” yang juga menjadi perhatian pengunjung malam itu. Dalam “Maskumambang” diceritakan bahwa banyak kebobrokan di negeri ini, baik yang dilakukan oleh pejabat, maupun masyarakat. Maskumambang, menurut Rendra adalah sesuatu hasil di bumi (sumber daya) yang tidak dihargai, melainkan dihancurkan. Diumpamakan bahwa sebuah daerah mempunyai hasil negeri sangat berguna, tetapi karena tidak pintar memberdayakankannya, hasilnya ”mambang”, yaitu tidak berguna sama sekali.
Demikian yang dimaksudkan “Maskumambang”. Hal itu terlihat dalam bait-bait yang berbunyi tentang pembakaran gedung, rumah, hutan, kios, dan sebagainya. Semua itu merupakan sumber pendapatan, yang menurut Rendra adalah emas, tetapi karena dibakar, emas itu tidak dapat digunakan. Satu hal yang tidak disebutkan dalam sajak itu, yaitu pembakaran rumah sekolah. Padahal, rumah sekolah adalah sumber “emas” yang sangat berharga untuk generasi masa depan.
Rendra tidak bercerita tentang pembakaran rumah sekolah, barangkali dikarenakan dia belum melakukan riset di Aceh untuk sajaknya sebagaimana yang pernah dilakukannya dalam “Hymne Universitas Syiah Kuala”. Padahal, jika dikaitkan dengan konteks Aceh, mulai dari konflik bersenjata dampai dengan pascapilkada, sekolah-sekolah di Aceh masih menjadi imbas kepentingan politik beberapa pihak, seperti yang sedang terjadi di Aceh Tenggara beberapa waktu lalu.
Melaui sajak si Burung Merak, semoga kita mampu membaca diri, mebaca zaman, membaca orang (masyarakat), membaca alam, dan membaca tanda-tanda sehingga emas kita tidak lagi mambang. Amin!

Penulis adalah alumnus PBSID FKIP
Unsyiah, peminta pendidikan dan sastra

Iklan

Filed under: Essay

2 Responses

  1. Alfisyahrin berkata:

    Aslm….
    Pa kbr bang…
    Salam kenal saya Alfis….
    bang saya banyak sudah membaca karya bg herman,,, dan saya sempat kenal bang herman di seuramoe temuleh…. oh ya bang bs minta no handphone nya gak????
    kirim ke email saya aja bang (muhammad_vis@yahoo.co.id)
    karna saya ingin sekali syering masalah lidah tinta he……he….
    Salam ….. Mahasiswa FISIP Unsyiah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: