Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

>>PILKADA

Haba-haba Herman RN

Matahari baru saja menyinsing di ufuk Timur. Seperti biasa, Apa Teulah duduk di serambi rumah sembari membaca salah satu koran lokal gampôngnya. Seperti biasa pula, saat-saat matahari menanjak di licin langit, Apa Ta’ak melewati rumah Apa Teulah. Masih seperti biasa juga, Apa Ta’ak singgah menyapa Apa Teulah. Mereka memang sahabat yang sangat akrab.
“Salammualaikum, Ampon. Ada berita apa hari ini, Ampon?” tegur Apa Ta’ak sambil mengambil tempat di samping Apa Teulah.
“Masih berita yang sama, Ta’ak. Kasus Pilkada lagi. Kalau kemarin di Agara, yang ini di Aceh Selatan pula,” sahut Apa Teulah seusai menjawab salam Apa Ta’ak.
“O… aku mengerti, Ampon. Maksud Ampon masalah tes baca alquran yang belum selesai-selesai itu kan?”
Apa Teulah mengangguk. Matanya masih tertuju pada halaman daerah di koran tersebut yang memberitakan tentang uji baca Alquran bagi calon bupati/wabupati di Aceh Selatan.
“Iya ya, Ampon, kok masalah baca alquran saja mesti menimbulkan konflik baru ya. Semakin lama semakin aneh-aneh saja tingkah polah orang-orang bijak di Aceh ini ya Ampon,” imbuh Apa Ta’ak.
“Kalimat ke juga aneh Ta’ak. Tingkah polah orang-orang bijak. Hahaha… tapi ke benar, sepertinya orang-orang bijak di daerah ini bertingkah semua, ditambah pula dengan polah orang-orang di bawahnya sehingga antara pusat dan daerah tidak ada kerja sama. Maka, lengkaplah kebobrokan negeri ini,” fatwa Apa Teulah.
“Kok bisa ya, Ampon, antara KIP Aceh dan KIP Aceh Selatan selisih pendapat? Kok bisa pula hasil tes baca alquran itu terkesan ditutup-tutupi,” keluh Apa Ta’ak.
“Pertanyaan ke yang pertama tanya langsung pada KIP, tapi kalau pertanyaan kedua, ke bisa baca ini. Ini peutuah Indatu, ” ucap Apa Teulah sembari menyodorkan sehelai kertas dari saku kemejanya.
Apa Ta’ak membaca kertas yang diberikan Apa Teulah. “Bak nyang utôh tayue ceumulék, bak nyang lisék tayaue keunira, bak nyang baca tayue ék kayee, bak nyang dungee tayue jaga kuta, bak nyang beu-o tayue keumimiet, bak nyang meugriet tayue meumita, bak nyang malém tayue beut kitab, bak nyang bangsat tayue rabé guda, bak nyang bagah tayue seumeujak, bak nyang bijak tayue peugah haba,” demikian tulisan di kertas itu.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: