Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mie Bokom

Herman RNHerman akting

Kulemparkan piring yang masih berisi mie instan itu ke belakang. Ini harii kedua aku makan mie instan yang direndam dengan air panas sebagai pengganti nasi putih. Tetapi kali ini pun mereka, teman-teman kos-ku masih menertawakanku. Aku tidak tahu apakah itu ejekan atau sekedar canda, tapi kelihatannya mereka hanya merasa lucu jika aku makan mie bokom itu. Sering kata-kata itu keluar dari mulut Akas, kakak kos yang sekamar denganku, “Jak lom u Banda!”

Kini kata-kata seperti itu juga kudengar dari teman-teman yang lain, bahkan dari tetangga kamar sebelah. Mereka seperti tak percaya bahwa aku makan mie bokom pada akhirnya. Aku yang mereka kenal sejak pertama kalii adalah tergolong orang yang ‘berada’ di antara teman-teman se-kos, mengapa sekarang harus makan mie bokom? Bukankah itu suatu kelucuan bagi mereka?

Tuduhan itu sebenarnya tidak seratus persen benar. Aku memang tak pernah makan mie bokom sejak pertama kuliah di ibu kota Provinsi ini. Tetapi bukan berarti aku ini anak orang kaya seperti yang ada dalam pikiran teman-temanku. Kebiasaanku makan di warung, atau sekurang-kurangnya nasi bungkus yang membuat mereka merasa lucu apabila dua hari ini aku mengenal mie bokom.

Aku tidak bisa menyangkal tuduhan mereka tentang ketidaksanggupanku menelan mie itu. Kenyataannya memang seperti itu, aku tidak bisa menghabiskan mie milikku. Meski hari ini adalah hari kedua aku makan mie bokom, aku tetap tidak bisa menghabiskannya. Bukannya aku merasa sombong atau angkuh sehingga tidak suka mie bokom, tetapi aku memang tidak sanggup menghabiskannya. Jika aku memaksanya, airmata akan jadi pencampur kuah. Daripada mereka melihat aku menangis hanya karena semangkok mie, lebih baik aku meninggalkan mie itu secepatnya.
Dahulu mereka kenal aku sering membantu teman-teman yang dalam kesusahan. Aku sering memberi pinjaman kepada teman-temanku yang kehabisan belanja pada akhir bulan. Hari ini aku harus menggantungkan hidupku dengan belaskasihan orang lain. Sudah satu minggu ini aku berhutang di warung sebelah kos-ku. Untuk ongkos angkot pun aku meminjam kepada teman. Dan yang amat menyedihkan, sampai pada photocopi bahan kuliah, pun aku harus mengharap keihklasan hati teman kampusku untuk meminjamkan uangnya padaku.

Memang hal pinjam meminjam bagi mahasiswa kos-an itu suatu hal yang biasa. Tetapi bertaburnya hutang bagiku bukan hal yang biasa lagi.
Bukannya aku mengeluh, meski acapkali sekarang hatiku bertanya kepada Tuhan, “Mampukah beban ini aku pikul?” Aku hanya sedikit meragukan kemampuanku untuk yang satu ini. Sebab kukira semua berjalan sangat cepat. Kemarin aku di atas, aku tersenyum. Sekarang aku di bawah, aku menangis.

Ya, semua berjalan begitu cepat dan nyata. Kemarin aku begitu bangga dapat memberi pada teman-teman, mereka mnyebutku orang berada. Tetapi sekarang serba salah, ketika mereka mengatakan, aku orang berada, aku marah. Ketika mereka meyebutku ‘orang susah’ aku juga marah. Padahal aku tahu semua penilaian itu relatif, hanya aku saja yang belum sanggup menguasai keadaan ini. Begitu lemahkah aku, Tuhan?

Aku bukan orang yang berada seperti anggapan mereka. Aku terlahir dari keluarga sederhana, bahkan aku sendiri menyebutnya keluarga kurang mampu. Atau lebih tepat, aku termasuk orang yang miskin, maksudku dari segi harta. Sebab untuk sekolah saja, semua dibiayai oleh pamanku yang hanya bekerja sebagai salah seorang buruh Kilang Kayu di kampung.

Di kampung kelahiranku itu, aku hidup, disekolahkan, dan dibesarkan hingga sekarang aku telah dapat mengecap bangku pendidikan Perguruan Tinggi. Semua berkat paman.

Sekarang Kilang Kayu tempat paman bekerja sudah gulung tikar. Kabarnya karena banyaknya Ilegal Loging, jadi kayu-kayu sudah sukar masuk, makanya kilang itu terpaksa ditutup.

Semenjak paman hanya menjadi ‘orang biasa’, lebih tepat lagi sejak tsunami melanda kampung kami, aku tak pernah lagi kesampaian kiriman dari kampung. Sudah tiga bulan aku menghidupi diri dari hasil tabunganku sisa kiriman bulan-bulan yang lalu. Kini sisa tabungan itu benar-benar telah punah. Aku tidak tahu lagi harus mengadu kemana. Sementara menelpon ke kampung, aku kasihan pada paman. Untuk menghidupi nenek yang sudah di batas usia saja, tidak dapat kubayangkan bagaimana paman akan mendapatkan belanja.

Ada sesuatu yang bertolakbelakang dengan pikiranku saat ini. Kemarin paman amat berhasrat menyekolahkanku. “Kamu harus menjadi orang.” Begitu katanya waktu aku tidak mau dikuliahkan. “Apa kamu ingin seperti anak-anak kampung ini, semuanya kembali pada gagang cangkul? Sejak dari ayahnya jadi tukang sawah, hingga ke anaknya pun masih jadi tukang sawah juga? Apa kamu tidak ingin membahagiakan orangtuamu, memberinya ketenangan di hari tuanya?” Begitulah paman menasehatiku waktu itu.

Kata-kata paman membuat aku berpikir, apakah ijazah akan menjamin kehidupan seseorang? Sehingga begitu kuat alibi paman untuk mendidikku sampai Perguruan Tinggi. Anehnya jika memang begitu, mengapa sekarang paman menyuruhku pulang saja, dan berhenti kuliah? Apakah pikiran paman sekarang sudah berubah, atau karena dia tidak sanggup lagi membiayai kuliahku?

Ah, jika memang karena biaya aku harus menghentikan kuliahku yang hanya tinggal beberapa detik ini, rasanya tidak mungkin. Sudah terlalu banyak uang paman yang keluar, dan sudah terlalu banyak keringat yang jatuh. Apapun yang terjadi, tekadku, kuliah harus selesai. Sehari dua hari mungkin aku memang belum bisa untuk makan mie bokom, tetapi nanti jika sudah terbiasa, aku yakin pasti bisa. Aku yakin itu.
Hari ini aku kembali menerima surat dari paman. Menurutku ini surat yang ketiga dalam bulan ini. Isinya masih sama, aku disuruh pulang kampung segera. Penting! Nenek yang minta.

Apakah aku harus pulang? Sementara minggu depan aku seminar proposal. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi seminarku. Sudah dua minggu tertunda karena belum cukup uang seminar. Sekarang uang itu sudah ada, apakah aku pakai buat ongkos pulang kampung saja? Kemudian proposalku bagaimana? Tetapi ini yang meminta aku pulang, nenek. Pikiranku berkecamuk. Mungkin seperti mie bokom di hadapanku yang berpalit-palit ini.
Dalam piring mie itu, aku melihat wajah nenek semakin tua dan lemah. Kembali aku tidak mampu menelan mie bokom ini.
“Nek, tolong jangan ganggu cucumu ini. Biarlah aku menikmati mie ini. Bukankah mie juga termasuk makanan kesukaanmu?” Lirihku di sela-sela airmata yang mulai mengambang.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung. Tidak peduli dengan kuliahku. Karena menurutku ijazah memang bukan satu-satunya jaminan hidup. Alangkah terkejutnya aku sesampainya di kampung. Nenek sudah meninggal dunia sejam yang lalu sebelum aku tiba. Kabar yang aku dapatkan dari paman nenek keracunan makanan. Menurut keterangan dokter puskesmas kecamatan, racun itu terdapat pada mie yang dimakannya. Nenek memang suka makan mie bokom…
***

Herman RN, Lahir di Aceh Selatan 1983.
Pegiat Kebudayaan di Banda Aceh.
Tulisannya tersebar di koran lokal & nasional

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: