Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mitos Penolakan dalam “Hikayat Rhang Manyang”

oleh Herman RN

(dimuat di Tabloid Kontras)

sabang-pers.jpg

Siapa pun berhak melakukan interpretasi terhadap alam, Tuhan, hidup, dan kehidupan. Ketikainterpretasi dilakukan dalam bentuk sastra (terutama puisi), ambiguitas niscaya muncul, karena ia memang sebuah keniscayaan. Maka, tak urung interpretasi teks sastra puisi pun multytafsir.
Demikian halnya Reza Idria dalam “Hikayat Rhang Manyang” (HRM). Dia mencoba menginterpretasi kejadian alam yang sudah “mendarah daging” sebagai suatu kepercayaan dalam kehidupan masyarakat menjadi sebuah puisi naratif. Narasi dalam HRM ditata sedemikian indah dengan memasukkan beberapa etika berpantun yang menunjukkan salah satu khas puisi Melayu lama. Hal ini dapat diasumsikan karena Reza mencoba mengangkat kembali khazanah bertutur tempoe doeloe dalam syairnya.
Sebagai penyair berdarah Aceh, saya menilik bahwa Reza mencoba memindakuasai karya sastra Aceh yang berbentuk puisi semisal, hikayat, ca’e, nadlam, pantun, hadih maja, peuayôn aneuk, dan sejenisnya ke dalam puisi HRM. Hal ini dapat disimak pada gaya bertuturnya, yaitu berpola persajakan. Reza mencoba mengangkat bertutur sastra Aceh yang salah satu syaratnya harus meu-antôk, ke dalam puisinya.
Proses persajakan dalam puisi Melayu kerap kita dapati pada bunyi akhir dalam setiap barisnya. Namun, meuantôk dalam sastra Aceh mestilah terjadi juga pada kata kedua atau ketiga di baris kedua dengan bunyi terakhir baris petama. Demikian juga baris ketiga, bunyi terakhirnya mesti bersajak dengan kata kedua atau ketiga baris keempat. Ciri ini merupakan khas pantun dan syair Aceh yang dapat ditemui dalam beberapa sastra lisan Aceh. Dalam bahasa Aceh, persajakan tersebut dikatakan dengan meu-antôk (berantukan). Demikianlah yang dipraktikkan Reza, seperti terlihat pada:
tahu apa kalian arti sabar
jika sekadar kata pemanis igauan
di hadapan penghuni rahim yang ingkar
api berpendar nyala tungku kemarahan

Gaya bertutur serupa ini sebelumnya sudah pernah dicoba oleh penyair Aceh yang lain—Fikar W. Eda dalam puisinya yang diberi judul “Salam Damai” yang menampakkan ciri khas puisi Melayu lama. Gaya ini sebenarnya telah lama terbenam oleh penolakan struktur sastra modern yang menyatakan bahwa puisi sebagai sebuah karya sastra mengabaikan kaidah bahasa. Reza mencoba menghadirkan khazanah itu kembali melalui HRM-nya.
Mitos Penolakan
Dari sisi tens (isi), HRM secara garis besar menggambarkan kegelisahan dua insan (ibu dan anak). Pada cerita awal berjudul kecil “Ibu”, Reza mencoba menyorot gelisah Ibu yang ditinggal anak tercinta, namun setelah kembali, si anak malah membuat ibu terluka. Inilah cerita Amat Rhang Manyang yang dalam sajak Reza dikatakan dengan “Rhang Manyang” saja.
Sedikit saya ulas tentang siapa Amat Rhang Manyang (ARM). ARM adalah seorang anak durhaka dalam sebuah cerita rakyat di Aceh, yang pada daerah Padang dikatakan dengan Malin Kundang. Sajak Reza bercerita tentang itu.
Kerinduan seorang ibu terbaca hampir dalam setiap bait, tetapi pengungkapan kerinduan yang padat terdapat pada bait, mendengar agam datang berlabuh siapa tak girang/ kutetak cecabang biar lapang setapak ke rumah/ kuintai kepinding biar tak nyelinap di sebalik tikar usang/ anakku pulang hasrat girang kembali sudah. Di sini Reza melukiskan kerinduan seorang ibu yang terlalu lama menanti kepulangan anak dari perantauan.
Namun, Reza terlalu berburu menyelesaikan ungkapan rindu si ibu dengan langsung pada kalimat kutukan. Sementara satu paragraf sebelum puisi “Ibu” ditutup, jelas Reza memperlihatkan nada penyesalan dari ibu. “Agam, kutuk lebih cepat sampai rupanya/ dibanding doa yang kuratap sepanjang jalan…”
Sebenarnya, Kekerasan watak ibu sebagai tokoh HRM terlihat sejak bait pertama hingga akhir. Hanya sebait itu saja yang terlihat bahwa ibu masih memiliki sifat iba yang layaknya kebanyakan ibu.
Pada judul kecil lainnya, “Anak”, Reza mencoba melawan si ibu. Dengan menjadikan dirinya sebagai seorang anak, reza menganggap salah besar perbuatan si ibu. Di sini juga hadir kharakter yang sangat kuat. Reza hendak mengatakan bahwa yang dikutuk karena tidak mengenal lagi orangtuanya tidak sepenuhnya bersalah. Bahkan, Reza menimpakan kesalahan kepada si ibu oleh karena anak sewajarnya dididik oleh orang tua tatkala menyimpang, bukan mengutuk. Reza mengumpamakan kasih sayang seorang ibu tidak semestinya harus terkalahkan hanya karena kelalaian si anak atau hanya karena malu.
umpama kasihku cuma sepenggalah/ kenapa pula punah sayangmu yang serupa di madah itu/ tak adakah luang masa untukku menukar gundah/ menyandar pasrah untuk melabuh penat tubuh di pelukmu.
Melalui bait itu, Reza menimpakan kesalahan terhadap si ibu. Senada dengan itu, terlihat pula pada bait, mualim, kelasi dan anak geladakku turut jadi berhala/ betapa mereka ikut menanggung murka kutukmu ibu. Di sini Reza hendak mengatakan, jika si ibu marah kepada si anak, mengapa harus melibatkan kapal dan bawaan si anak.
Ini merupakan salah satu kekuatan “mitos penolakan” yang ditawarkan Reza melalui puisinya, sebab selama ini dalam kisah anak durhaka, hanya diangkat masalah ibu dan anak. Namun, HRM menghadirkan seluruh alam ada saat itu; laut, istri, dan ikan yang di bawah kapal Rhang Manyang pun ikut jadi imbas kutukan.
Artinya, Reza telah melakukan dekonstruksi terhadap sebuah kepercayaan bahwa anak durhaka (Malinkundang, Amat Rhangmanyang, Sangkuriang, si Berandan, dan lain-lain) bersalah dalam hidupnya sehingga dia dikutuk ibunya. Sebagai sebuah sajak lirik yang bernarasi, menghadirkan perasaan samar-samar telah dikuasai HRM. Mitos penolakan itu semakin dipertegas oleh kalimat yang menyebutkan, urusan ibu dan anak tidak semestinya harus minta keterlibatan Tuhan. Kalimat ini bisa membalikkan anggapan orang sehingga ibulah yang bersalah, bukan anak.
Namun, sajak ini akan lebih lengkap lagi manakala Reza juga menghadirkan tokoh ayah. Sebab, sampai sekarang, banyak yang masih bertanya tentang ayah si anak durhaka, ke mana dan mengapa si ayah. Mengapa hal ini tidak dihadirkan Reza? Padahal, sekilas dia telah mencobanya pada bait kusesali mengandung kau lelaki/ caci maki meraung, dulu bapak sekarang anak/ kaum jalang yang pernah kumiliki/ yang tua pendengki, yang muda melupa jejak.
Jika sajak ini dilengkapi dengan kehadiran si ayah, sebuah cerita tentang si Anak Durhaka akan semakin terlengkapi. Maka, HRM akan menjadi sebuah puisi narasi sangat komplit.
Kendati hal ini belum dilakukan Reza, HRM tetap dikatakan berhasil sebagai sebuah puisi narasi yang mengembalikan khasanan Melayu. Keberhasilan Reza menciptakan mitos penolakan terhadap sebuah sejarah dalam puisi yang berbau Melayu adalah bukti kesuksesan puisi lirik. Semoga saja.

Penulis, alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia
dan Daerah FKIP Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: