Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Imajinasi Nakal Sang Pelamun

Proses Kreatif Penciptaan Cerpen

Oleh Herman RN
Herman RN
Tulisan ini bukan hendak berkelakar tentang makna atau definisi cerpen, atau pembagian cerpen. Warkah ini sekedar bercerita tentang proses penciptaan sebuah cerpen yang pernah saya alami dan mungkin dialami sebagian orang lain pula, yaitu mereka yang suka “melamun nakal”. Adapun lahirnya tulisan ini bermula pula dari “imajinasi nakal” saya.
Ketika itu, disuatu pagi, saya berdiskudi dengan mahasiswa angkatan ’07 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Unsyiah. Saya membuka wacana diskusi dengan menyodorkan sebuah cerita pendek (cerpen) yang saya beri judul “Izinkan Aku Menyentuh Kelaminmu, Ibu…”
Ketika cerpen yang panjangnya empat lembar kuarto itu saya bagikan kepada satu per satu mahasiswa, rata-rata mereka tersenyum, lalu larut dalam bacaannya.
“Bang, kok jail begini judul cerpennya? Padahal, isinya ngga ada apa-apa kok. Kami sempat berpikir maca-macam tadi,” sela salah seorang mahasiswa ketika memasuki sesi tanya jawab.
Bermula dari sanalah tulisan ini pun tercipta dan hadir ke hadapan pembaca. Maka, sedikitnya tulisan ini mencoba menawarkan solusi dari pertanyaan Sang Mahasiswa yang mungkin waktu itu tidak memadai waktu untuk saya jawab keseluruhannya.

Kontemplasi
Sebagai sebuah karya fiksi, apalagi sastra, memang sangat dibutuhkan perenungan (kontemplasi) dalam penciptaannya. Kontemplasi itu untuk melahirkan sebuah daya cipta yang bernas, lagi membuat penasaran pembaca. Judul sebagai kepala karangan tentunya sangat mendukung kepenasaranan pembaca. Namun, bukan berarti judul mesti menarik, tetapi isinya tidak nyambung.
Maka dari itu, sebagai seorang pengarang cerpen (bisa juga puisi) dibutuhkan imajinasi nakal untuk melahirkan cerita-cerita lucu, hangat, atau menggelikan, yang semua itu hanya didapatkan melalui kontemplasi.
Saya katakan judul sangat menunjang pembaca untuk terus menelusuri cerita yang akan dibacanya, sudah dibuktikan beberapa pengarang, seperti Hamsyad Rangkuti, Hudan Hidayat, Mariana Aminudddin, Djenar Mahesa Ayu, dan mungkin beberapa penulis cerpen (novel) lainnya.
Dalam warkah ini, saya ambil saja contoh salah satunya, yaitu cerpen Rangkuti. Rangkuti pernah menulis sebuah cerpen yang semula dianggap fulgar oleh orang-orang. Namun, setelah membaca habis cerita itu barulah pembaca tahu ternyata ceritanya biasa saja. Bahkan, kemungkinan itu bisa saja terjadi di dunia nyata.
”Maukah Kau Mengambil Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”. Demikian judul cerpen Rangkuti yang semula dianggap sedikit birahi. Padahal, kisah di dalamnya hanya menceritakan seorang gadis yang ingin bunuh diri karena kecewa pada kekasih (suaminya). Si gadis hendak bunuh diri tanpa mau membawa mati sebarang apa pun yang pernah diberikan suaminya, mulai, pakaian, cincin, gelang, kalung, hingga bekas ciuman di bibirnya. Makanya, Rangkuti mengambil judul di atas.
Adapun cerita yang saya berikan kepada mahasiswa PBSID itu semula juga dinilai terlalu lancang dan birahi. Namun, setelah membacanya, mereka pun mengakui bahwa mereka telah terkecoh oleh kehebatan sebuah judul.
Proses kreatif dalam penciptaan cerpen memang sangat memungkinkan kita untuk menghayal sedikit jail. Namun, jangan sampai lari dari etika kemanusiaan (norma). Oleh karena semua agama menganjurkan kepada kebenaran, dalam cerpen pun hal ini berlaku. Artinya, selama cerpen itu untuk dikonsumsi banyak umur dan bukan ditujukan untuk majalah/surat kabar porno, maka cerita sebuah cerpen hendaknya mengindahkan etika ini.
Melamun bukan berarti menghayal yang jail-jail. Namun, sebuah cerita terkadang membutuhkan pemikiran jail agar pembaca terangsang membacanya (bukan terangsang kemaluannya).
Sejatinya harus dibedakan mana cerita jail dan yang mana cerita bukan jail. Artinya, kata-kata yang sedikit nyentrik tidak selamanya dapat dianggap jail atau vulgar.
Sebenarnya tidak ada cerita porno (kecuali memang ditujukan untuk majalah porno). Yang ada hanyalah kepala-kepala pembaca yang suka berpikiran porno ketika membaca kata-kata yang sedikit nyelentik. Maka, sejatinya membedakan mana kata-kata yang sengaja dihadirkan untuk membuat orang berpikir ke arah porno dan mana kata-kata yang dituliskan apa adanya, seperti bahasa kitab yang menunjukkan realisme manusia sesungguhnya.(*)

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah
Cerpenis, tinggal di Banda Aceh

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. mohsutrisno_2008 berkata:

    kirimin cerita ….
    dong…………………….
    aku suka tuh ama cerita pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: