Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hom-Pim-Pa

Penulis: Herman RN

sumber: Serambi Indonesia (www.serambinews.com)Presiden Teater

Apa katamu bila hidup ini hom-pim-pa
Siang orang sufi, malam berkostum pencuri
Topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya
Maka berubahlah setiap saat

Sajak ’Hom Pim-Pa‘ yang ditulis Tengsoe Tjahjono itu bila dikait pada kehidupan manusia dengan semerawutan keadaan sosial sekarang ini, sangat tepat. Tak perlu jauh-jauh melayangkan ingatan, kita amati saja daerah Aceh yang berpredikat Serambi Makkah, yang notaben- masyarakatnya beragama Islam. Maka rasanya bait pertama saja “Hom-Pim-Pa” yang dimaksudkan Tjahjono menjadi mengena.

Saya mulai saja dengan soal pakaian. Ada anggapan bila yang berpakaian serupa jubah atau seperti pakaian orang Arab umumnya adalah yang kuat islamnya. Pandangan itu masih melekat erat pada sebagian orang kita. Padahal sering juga mendengar atau membaca kabar kalau banyak orang-orang yang diyakini ketekunannya dalam berdakwah ternyata melakukan suatu yang bertentangan dengan yang disuarakannya dari mimbar khutbah.

Kita menjadi teringat kasus penangkapan atas sejumlah orang yang diyakini pendakwah itu. Seperti penangkapan anggota wilayatul hisbah yang meusum atau aparat polisi yang ikut mengedarkan ganja. Kejadian paling memalukan kita baca di sebuah media terjadi di Lhokseumawe ketika bulan Maret 2007 lalu, ada anggota jamaah tabliqh termasuk pejabat polisi ditangkap warga karena menyebarkan ajaran sesat.

Benarlah sajak Tjhajono, mereka itu menjadikan pakaian sebagai kedok untuk kejahatan. Mengena pula ketika Azhari, aktivis do Karem, memulai kisah baru di Aceh dengan menulis novel “Hikayat Kura-Kura Berjanggut”. Novel itu menceritakan tentang keyakinan kita berlebihan bahwa manusia berjanggut itu adalah sufi. Ternyata kura-kura pun ada yang berjanggut. Tidak percaya, tanya Azhari.

“Hom-Pim-Pa” yang dimaksudkan Tjahjono semakin mudah kita saksikan pada bulan Ramadhan hingga syawal tiba. Hari-hari pertama bulan Ramadhan terlihat masjid-masjid dipenuhi masyarakat. Begitu tekun melihat mereka melaksanakan salat tarawih beramai-ramai. Namun, semakin di penghujung ramadhan, aktivitas itu pun “mengekor tikus”.

Masih di bulan Ramadhan, terlihat pula sejumlah masjid di kampong-kampong. Kalau malam tiba, kaum remaja heboh tadarus Alquran. Begitu masuk syawal, masjid kembali sepi, senyap seperti rumah tak berpenghuni, kecuali waktu Jumat dan magrib yang didengar suara orang mengaji lewat kaset tape recorder.

Hom Pim-Pa, kalau ajaran Islam masih kita pahami sebatas bulan Ramadhan. usai ramadhan, selesailah ibadah kita. Islam telah kita pahamkan sebagai tradisi yang dimeriahkan pada acara tahunan. Dapat pula dibayangkan, kalau saja bulan ramadhan itu disyariatkan datangnya tiga tahun sekali. Dan suatu tradisi akan mudah hilang manakala tidak dilakukan secara kontinyu. Maka, Islam pun suatu saat akan hilang tatkala penganutnya menganggap Islam itu hanyalah tradisi di ramadhan dan hari pertama bulan Syawal.

Apa katamu bila hidup ini “hom pim-pa?” itulah kenyataan kita dalam gulir zaman. Sehingga kesalahan dan perbuatan cela bukan lagi dosa, tapi berdalih silap atau lupa. Mencuri, dan bermaksiat bukan lagi dhalim tapi dianggap memenuhi kebutuhan hidup dan keterpaksaan. Sesuai bait kedua sajak Hom-Pim-Pa; //mencuri, mereka bilang terpaksa/ nodong, mereka bilang terpaksa/ nipu, mereka bilang terpaksa//.

Hatta; korupsi, merampas dan kedhaliman lain telah menjadi budaya dan kreatifitas pada saat ini. Mulai pejabat tinggi hingga penjahat tengik. Bahkan dengan gagah berani mengaku itu ’kebajikan demi rakyat‘. Berapa banyak nyawa melayang, berapa orang didhalimi dengan berbagai bentuk seperti marak terjadi di daerah kita. Mulai perbuatan menecuri dengan modus cara proposal, menilep lewat hipnotis sampai merampai dengan senjata, sungguh memiriskan hati kita. Tak mengenal lagi wilayah apakah di kota maupun di gunung seperti cerita beberapa warga Jeuram dan Blang Pidie yang tiga minggu lalu dirampas dalam perjalanan mudik ke Aceh Selatan.

Keadaan itu membuat kita hidup dalam was-was. Sebab bukan hanya takut pada binatang, tapi juga lebih takut pada manusia yang lebih binatang. Lalu, dimana kata damai yang kita suarakan, dan dimana kedamaian bila kita dambakan? Kemana pula perginya aparat pengaman dan entek-entek yang sudah bersumpah? Semoga mereka tidak sedang ber-Hom-Pim-Pa. Seperti dalam bait sajak Tjahjono; //ada harimau dengan kuku dan taringnya/ ada pelanduk dengan akal liciknya/ ada kijang cantik hidup dalam kewas-wasannya//.

*) Penulis adalah alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Unsyiah.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: