Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

PEUJABAT

Haba-Haba Herman RN

Hari pertama mulai aktivitas sekolah dan perkantoran pascalibur puasa dan lebaran, sejumlah pejabat di Setdakab Bireuen dimutasi besar-besaran. Demikian berita yang dibaca Apa Teulah.
Apa Teulah asék-asék ulèe. “Benar-benar kejutan,” ujarnya.
Istri Apa Teulah yang kebetulan melangkah ke ruang tamu membawa kopi pagi dan dua potong goreng pisang langsung menimpali. “Namanya saja istri, Cutbang,” katanya sambil meletakkan kopi dan goreng pisang tersebut di atas meja depan Apa Teulah.
“Maksud ke, apa Munah? Pagi-pagi sudah mulai meujampôk droe,” tanya Apa Teulah menatap istrinya.
“Jeh… kan Cutbang tadi yang duluan memuji. Berarti mana pula saya jampôk. Saya kan cuma menimpali biar nanti dibilang ga sombong karena tidak mau menyahuti omongan suami.”
“Siapa yang memuji ke? Lagian, ini kan masih terlalu pagi untuk memuji istri. Kita ini sudah tua, Munah. Kalau pengantin baru, iya pagi-pagi, begitu keluar dari kamar mandi, langsung saling puji sambil senyum-senyum. Itu karena sesuatu terjadi malamnya. Kita ini kan sudah tua, mana ada lagi yang seperti itu, Munah,” ujar Apa Teulah sambil memperhatikan wajah istrinya yang tersipu.
“Tadi saat saya keluar membawa kopi, Cutbang bilang, benar-benar kejutan. Nah, itu saya anggap pujian.”
Apa Teulah terkekeh. “O… itu? Saya bilang benar-benar kejutan itu karena membaca berita di koran ini, bukan untuk ke.”
Maimunah diam sesaat. “Memangnya ada berita apa? Siapa yang mengejutkan siapa?” katanya kemudian.
“Ini, coba ke lihat! Hari pertama mulai kerja setelah libur, Bupati Bireuen kembali memutasi pejabatnya. Lebih dari seratus pejabat di Setdakab Bireuen dimutasi. Ini kan kejutan. Dulu sudah, belum sampai satu hari pelantikan dia, langsung melakukan mutasi. Nah, ini lagi. Kejutan… Munah!”
“Hem, saya pikir….”
“Makanya jangan cepat-cepat menimpali,” potong Apa Teulah.
“Terus, pejabat yang turun jabatannya karena dimutasi, bagaimana? Mereka nurut aja?”
“Mau tidak mau, ya terpaksa nurut. Namanya saja idông talo.”
“Idông talo???”
“Ya, meunyoe idông idông talo, keudéh keunoe, gob hue hila. Pejabat-pejabat dimutasi itu kan ibaratnya idông talo. Dan kalau seperti ini, atasan saban lagèe peurabé leumo, keudéh keunoe hila talo. Hehehe…” tukas Apa Teulah.
“Cutbang ini ada-ada saja. Makanya Cutbang tidak pernah diangkat jadi pejabat, karena…”
“Karena Cutbang ke ini lebih pintar dari peujabat. Hahaha…” Apa Teulah kembali memotong ucapan Maimunah.(*)

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: