Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

SINALOP

Haba-Haba Herman RN

belajar.jpgSuatu hari Apa Teulah berdiskusi dengan istrinya di serambi depan. Tidak biasanya mereka berbincang hangat seperti itu. Sesekali istri Apa Teulah, Maimunah, melirik ke kanan dan kiri serupa was-was ada yang mendengar percakapan mereka. Pasalnya, mereka sedang membicarakan tingkah polah ureueng gampôngnya yang bekerja di BRR.
“Kasihan, Cutbang ya, masyarakat kita dari dulu selalu hanya disumpal janji. Lebih kasihannya sekarang, kalau dahulu orang kita dikelabui janji dari Jakarta, sekarang oleh orang-orang kita sendiri. Mereka asyik-makan di ruang ber-AC, sedang rakyat, tahan-lapar di bawah terpas. Kalaupun ada rumah bantuan, sama saja seperti tak berumah. Tak tahulah saya, Bang,” keluh Maimunah.
“Aku juga merasakan sedih yang ke rasakan, Munah. Tapi, apa boleh buat, nasib kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang di bawah gubuk sana,” timpal Apa Teulah.
“Yang saya herankan, Cutbang, mereka yang dulu berada di garis depan membela hak-hak masyarakat sebelum duduk di kursi empuk itu. Apalagi, sebagian mereka kita kenal juga sebagai pelopor pergerakan bersenjata urueng Aceh masa dulu, yang katanya rela mati bersimbah-darah demi rakyat Aceh. Ah, kasihan, itu kini hanya tinggal pepatah usang sisa dari musang berbulu musang.”
“Pintar juga ke berhadih maja ya. Tak percuma ke istri Apa Teulah.”
“Ah, Cutabang, bisa aja,” lirih istri Apa Teulah tersipu. “Tapi, Cutbang, mengapa mereka bisa seperti itu ya. Apakah hati mereka sudah benar-benar bebal untuk merasakan kesedihan masyarakat Aceh?”
“Satu hal yang mesti ke tahu, Munah. Awai boh bayeuk dudo boh panah, panee lom leumah sinalop kana. Meunyoe h’an ék ta timbôn tamah, panee lom leumah guna meuguna. Itu kata Indatu kita,” ujar Apa Teulah.
Mendengar itu, Maimunah menganggukkan kepala pertanda mahfum.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: